My last day @ Banjarmasin
Published by Iqbal_Ir 3 years, 6 months ago in Keseharian.
Waktu sudah menunjukan pukul 11.35 malam tanggal 18 May 2005 ketika sudah selesai mem-packing barang-barangku. Hari ini tinggal mem-packing pakaian dan beberapa barang-barang yang tidak banyak jumlahnya dan akan dibawa sendiri dengan pesawat. Tadi siang dan beberapa hari yang lalu telah di packing barang-barang untuk dikirim ke Jakarta. Lumayan banyak juga ternyata barang-barang yang ada di kamar. Banyak juga barang-barang yang sudah di-packing dan dikirim ke Jakarta, setelah di total beratnya 70 kg yang terdiri dari 4 kotak. Tanpa terasa, ternyata barang-barang yang terkumpul selama ini cukup banyak juga. Sebagian besar adalah kumpulan buku-buku yang selama ini menemani perjalanan, walaupun belum sempat dibaca semuanya.
Semua barang-barang dikumpulkan, pakaian sudah dilipat dan siap dimasukan kedalam koper. Pakaian disusun dengan rapi di dalam koper agar semua pakaian muat di dalamnya. Ternyata tidak hanya pakaian saja yang harus dimasukan, ada beberapa barang-barang lainnya yang harus ikut masuk. Salah satunya adalah sendal gunung yang sudah dibungkus plastik tertutup dan tas selempang. Tidak hanya itu, ada juga sebuah tas yang terbuat dari parasut warna hitam. Ketika memandang tas tersebut, jadi teringat dengan awal mula pertama kali ke Kalimantan. Teringat dengan kenangan bersama tas tersebut.
Tanggal 2 September 2003, bersama dengan tas parasut hitam kumal itulah pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan. Tiba pertama kali di Bandara Sepinggan, Balikpapan KalTim. Waktu itu sudah malam, sekitar jam 8.30. Didik Pranastya, senior di Motorola dan Gugun sang driver sudah menunggu dari tadi. Setelah sampai, diajak makan malam Coto Makassar. Kembali teringat dengan perasaan waktu itu, sebuah perasaan cemas dalam hati yang masih belum tahu bagaimana hidup sendiri di Kalimantan, jauh dari orang-orang yang kita cintai dirumah, jauh dengan teman-teman ikhwah seperjuangan, dan bahkan tidak kenal siapa-siapa kecuali dengan teman kerja saja. Beberapa minggu sebelum kepergian ke Kalimantan selalu timbul perasaan takut dan cemas. Belum mengetahui medan Kalimantan, tidak punya referensi yang cukup, jauh dari orang tua, tidak mempunyai teman atau keluarga yang tinggal disana, ditambah tidak punya cukup modal untuk hidup disana, itulah sebagian perasaan yang timbul ketika itu.
Kantor Jakarta menugaskan selama 5 bulan di Balikpapan. Selama 5 bulan menjelajahi Kalimantan Timur, banyak pengalaman yang didapat. Sebuah pengalaman baru yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Susah dan senang bercampur menjadi satu, selalu ada hikmah dan tarbiyah didalamnya. 5 bulanpun berlalu, next assignment sedang menanti di Pontianak KalBar.
Tanggal 29 February menapakan kaki di Pontianak KalBar. Tugas yang lebih berat menanti disini. Serba sendiri dalam segala sesuatunya, harus bisa bertahan sebagai single fighter. Tugas pekerjaan dari kantor menjadi tanggung jawabku sendiri. Menjadi pribadi yang mandiri, menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapi, sebagai perwakilan Operation and Maintenance Support Motorola KalBar. Banyak perubahan yang harus disesuaikan sejak bertugas disini. Kondisi lingkungan dan pekerjaan jauh berbeda dengan tempat kerja sebelumnya di Balikpapan. Pontianak memberikan arti sebuah perjuangan hidup, bagaimana kondisi disini memberikan makna berbeda dari sebelumnya.
Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah 7 bulan di Pontianak. 7 Bulan bersama dengan teman-teman seperjuangan lainnya. Mereka adalah teman-teman kerja yang berbeda tugas, beda tanggung jawab dan beda bagian, mereka adalah teman-teman dari Project Team. Setidaknya bersama mereka sajalah menghabiskan hari-hari bekerja disana. Akhirnya, waktu untuk rotasipun tiba. Menjadi orang pertama yang meninggalkan KalBar. Tanpa diduga, ternyata merekapun akhirnya menyusul dan terpaksa meninggalkan Pontianak.
Tanggal 28 September 2004, menginjakkan kaki kembali di Banjarmasin. Untuk kedua kalinya sampai disini, dahulu pernah bertugas sementara disini. Kali ini untuk seterusnya bekerja disini. Pak Warno sang driver sudah menanti di depan Bandara Syamsudin Noor. Wajah yang dulu pernah menemani muncul kembali dihadapanku. Kali ini akan selalu bersamanya dalam setiap tugas pekerjaan. Seseorang yang saat ini sudah saya anggap sebagai saudara sendiri. Yang selalu menolong dalam setiap masalah yang saya hadapi, selalu memberikan kontribusi memecahkan masalah. Setelah 7 1/2 bulan bersamanya, tiba waktu berpisah dengannya. Setelah satu persatu teman-teman Project Team lainnya meninggalkan Kalsel.
Setelah 8 bulan bertugas di Kalselteng, tiba saatnya melanjutkan rencana-rencana kedepan. Bagaimanapun, Self Planning Program harus terus berjalan. Karena tidak ada yang ingin terus dalam kondisi seperti ini saja tanpa ada perubahan, setiap orang pasti ingin ada perubahan. Untuk itulah dibutuhkan perencanaan masa depan. Sudah menjadi konsekuensi logis, setiap perjuangan dalam perencanaan selalu membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan yang dibayar cukup mahal, namun harus ikhlas menjalaninya. Karena segala sesuatunya selalu mempunyai dua sisi, ada baiknya dan ada tidaknya, ada enaknya dan ada tidak enaknya, bagaikan dua sisi mata uang. Begitulah hidup, penuh dengan pilihan-pilihan. Akhirnya tibalah saat untuk memilih melanjutkan perencanaan masa depan. Mempersiapkan diri menghadapi segala konsekuensinya.
Akhirnya tibalah harinya, hari ini tanggal 19 May 2005. Saya berangkat ke Jakarta setelah 20 bulan melanglang buana di Pulau Kalimantan. Meninggalkan Banjarmasin Kalimantan Selatan menuju Jakarta tempat yang selama ini menjadi keinginan. Sebuah perjuangan baru dimulai, semoga apa yang menjadi tujuan berhasil dilaksanakan. Apapun hasilnya, diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Jika Allah berkehendak lain, tidak mengapa. Berbesar diri dengan ketentuan-Nya adalah hal terbaik yang patut dilakukan. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.
Banjarmasin, 18 & 19 May 2005
Click to Social Bookmark












































![[Spirit in everything we do]](http://blog.iqbalir.com/wp-content/themes/alphanauthilus/styles/alphanuathilus/images/logostatis.gif)
pengalaman adalah guru yang terbaik.
salam kenal dari anak kandangan.