Bukan karena tidak ada pilihan
Published by Iqbal_Ir 3 years, 2 months ago in Tentang Pernikahan.Bukan karena tidak ada pilihan
Penulis: Iqbal Irwansyah
“Sepertinya tidak masalah Da. Aku bisa menerima hasil ini kok. Walaupun belum sesuai dengan harapan. Semoga ini adalah yang terbaik.”
“Naahh begitu dong Shan… Kalau begitu khan lebih baik. Lagipula belum tentu kuliah di Kedokteran itu lebih baik dari kuliah di Psikologi. Iyaa khaannn…?? Yaa sudah… sekarang kamu konsentrasi saja kuliah di Psikologi ini, tahun depan kalau kamu mau berubah pikiran kamu khan bisa ikut SPMB lagi.”
“Iyaa Shandy… Bunda setuju dengan Wanda, kamu terima saja hasil jerih payah kamu. Lagipula, kamu khan jadi satu kampus dengan Wanda. Kalian khan masih bisa tetap terus bersama. Naahh sambil ngobrol, ayo… ini diminum dulu teh manisnya…”
“Eeehhh Bunda… Kok ngga bilang sih mau bawa teh manis ? Shandy khan bisa bawain sendiri.”
“Ehhmm Tante… Jadi merepotkan nih…”
“Aahh… ngga apa-apa Nak Wanda. Silahkan dilanjutkan, Tante mau ke dapur lagi.”
“Iya deh… Makasih Bunda”.
***
Shandy dan Wanda baru saja menyelesaikan pendidikan SMU-nya. Mereka berdua berasal dari SMU yang sama. Kini mereka sedang dalam persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Sebenarnya Shandy ingin masuk ke Fakultas Kedokteran, namun hasil SPMB mengatakan dia diterima di Fakultas Psikologi yang menjadi pilihan keduanya. Berbeda dengan Wanda yang menjadikan Fakultas Psikologi sebagai pilihan pertamanya. Shandy sejak dulu sudah berniat untuk kuliah di Fakultas Kedokteran karena itu adalah pilihan favoritnya, tetapi sayang hasil SPMB berbeda dengan yang diharapkan. Sebenarnya Shandy adalah anak yang cerdas, dia bukan hanya diterima di Fakultas Psikologi namun juga diterima pada beberapa Fakultas Kedokteran swasta lainnya. Dari hasil SPMB, Shandy dan Wanda diterima di Universitas Indonesia pada Fakultas Psikologi. Setelah mendapatkan masukan dari Wanda sahabatnya ditambah masukan dari ibunya, iapun akhirnya menerima hasil tersebut.
“Ngga terasa yaa Shan… Sebentar lagi kita akan ikut OKK, kamu sudah siap belum…?? Perlengkapannya bagaimana..??” Ucap Wanda memecah kesunyian dalam Bis Kuning yang sedang membawa mereka menuju fakultas psikologi. “Yaa sebenarnya sih di siap-siapin aja… Daftar perlengkapannya aja belum aku catat.” Jawab Shandy sekenanya. “Yaaa… Kamu jangan gitu dong… Ayoo semangat… Ini khan akan jadi pengalaman pertama kita di-ospek. Pasti ini akan jadi pengalaman yang takkan terlupakan seumur hidup.” Ucap Wanda memberikan semangat kepada Shandy.
Shandy dan Wanda sedang mempersiapkan kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) yang akan mereka ikuti. Kegiatan ini adalah pengenalan dunia kampus dengan sistem perkuliahannya kepada mahasiswa baru. Banyak perlengkapan yang harus mereka persiapkan sedangkan waktu yang diberikan oleh kakak-kakak panitia hanya seminggu. Mau tidak mau mereka harus bekerja keras untuk membuat dan mengumpulkan semua perlengkapan tersebut. Perlengkapan tersebut tidak semuanya bisa dibeli, karena sebagian harus dibuat sendiri. Tas karung terigu, topi anyaman dari bambu yang diberi warna warni yang mencolok sampai papan nama dengan tali gantungan yang terbuat dari tali rafiah harus mereka kerjakan sendiri.
Dua minggu yang mereka jalani dalam OKK adalah hari-hari terberat sepanjang hidup mereka. Belum pernah mereka merasa seberat itu sebelumnya. Badan lelah dan mata mengantuk karena kurang istirahat akibat banyaknya tugas yang diberikan oleh panitia mengisi hari-hari mereka. Ingin rasanya melompat dan pindah dengan lorong waktu untuk menghindari semua kegiatan itu. Dengan sisa tenaga dan pikiran, mereka berusaha untuk melalui semua kegiatan-kegiatan OKK.
***
“Heyy… Sedang apa kamu Shan..?? Kok bengong begitu..??”
“Eehhh… Kamu mengagetkan aku saja Nda… Ngga lihat nih aku pegang buku, aku mau pinjam buku di perpustakaan ini.”
“Deeuuhhh… segitu sewotnya… ngga bisa bercanda yaa… Ehhmm… Tadi aku perhatikan, sepertinya kamu lagi memperhatikan seseorang. Hayyoo ngaku… Kamu lagi memperhatikan siapa…??”
“Aahh kamu Nda, ngga kok… Yang bener aja, aku khan lagi mencari buku di rak ini.”
“Ehhmm… yang bener nih… Sepertinya aku tau deh siapa yang kamu perhatikan.”
“Aaahh ngaco kamu…”
“ehhmm… aku tau kok siapa yang kamu perhatikan, kamu lagi memperhatikan Adit khan…?? Nih aku kasih tau yaa… Namanya Adhitya Gunawan. Dia satu tingkat diatas kita. Kamu naksir yaa…??”
“Wanda… Ini pertama kali aku melihatnya… Belum ada perasaan apa-apa kok… eh iyaa, kok kamu tahu dia sih…?? Naahh yaa….”
“Adit itu khan kakak pembimbing kelompok aku ketika OKK kemarin. Kok kamu baru lihat sekarang…?? Kemana aja non…??”
“Yee…. udah ahh… cepetan yuk ke Musholla, mba Dewi sudah menunggu kita.”
“ooo iya yaa… sekarang khan kita ada mentoring. Ayoo cepat deh kalau begitu.”
Sejak OKK, Shandy dan Wanda sudah diperkenalkan dengan sistem mentoring yang diberikan oleh kakak-kakak kelasnya. Walaupun Shandy dan Wanda berbeda kelompok dalam OKK, tetapi menjadi satu kelompok ketika mentoring. Mereka sama-sama dalam kelompok mba Dewi. Mba Dewi adalah mahasiswi semester 7 Fakultas Psikologi. Dia sering memberikan tips dan trik dalam menjalani perkuliahan di kampus tersebut. Dia juga memberikan beberapa buku-buku perkuliahan yang dibutuhkan oleh adik-adik binaannya. Sudah beberapa minggu ini Shandy dan Wanda mengikuti semua program mentoring yang diberikan oleh mba Dewi. Mba Dewi pun dengan senang hati memberikan penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan dari adik-adiknya. Mentoring yang diberikan oleh mba Dewi bukan hanya tentang perkuliahan saja, namun juga mba Dewi memberikan materi-materi tentang agama Islam.
“Assalammu’alaykum mba…” ucap Shandy dan Wanda kompak sambil memasuki musholla. “Maaf yaa mba kami terlambat.” sambung Shandy. “Alaykummussalaam warohmatullahi wabarokatuh… Iyaa tidak apa-apa kok… Ayo bergabung saja disini…” jawab mba Dewi sambil mempersilahkan masuk dan memberikan tempat kepada mereka berdua. “Oke… kalau begitu kita sambung lagi yaa pembahasan yang tadi… Shandy dan Wanda, mba dan teman-teman kamu tadi sedang membahas materi untuk minggu ini yaitu tentang kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslimah. Naahh… salah satu kewajiban kita sebagai muslimah adalah mengenakan jilbab. Ini adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslimah. Jilbab berfungsi sebagai hijab penutup aurat, kamu tahu khan kalau muslimah itu mempunyai aurat yang harus dijaga dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan muhrimnya…??” Sambung mba Dewi meneruskan materi yang diberikan. “ehhmm… maaf mba, boleh tanya ngga..??” Ucap Wanda sambil mengernyitkan dahi. “Iyaa boleh kok, silahkan Wanda mau tanya apa..??” “Maaf mba, tadi mba bilang hijab, aurat, muhrim… itu apa sih..??”
***
“Bunda yang baik dan cantiiikkk….”
“Kenapa Shandy…?? Ehhmm… Bunda tau deh, pasti kamu lagi ada maunya nih…”
“Eehh Bunda tau aja…”
“Iyaa… Setiap Bunda khan pasti tau sifat-sifat anaknya… Ya sudah, sekarang duduk sini sama Bunda. Ceritakan ada apa..??”
“Begini Bunda… Sudah beberapa bulan ini Shandy khan ikut mentoring di kampus. Yang menjadi mentornya adalah Mba Dewi kakak kelas Shandy di kampus. Didalam mentoring itu Shandy diberikan materi-materi baik tentang perkuliahan dan juga diberikan materi tentang agama Islam.”
“Terus…?? Eehh… Jangan-jangan kamu ikut aliran yang macam-macam yaa….??”
“Ngga… bukan begitu Bunda. Ini cuma mentoring biasa kok, materi yang diberikan juga materi-materi umum. Naahhh… Minggu kemarin Shandy diberikan materi tentang kewajiban muslimah mengenakan jilbab. Sudah seminggu ini Shandy memikirkan untuk mengenakan jilbab dan Shandy ingin memakai jilbab Bunda… Bagaimana, boleh tidak Bunda…??”
“Ehhmm Iya deh kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Bunda setuju.”
“Iyaa Bunda…?? Beneran Bunda…?? Alhamdulillah…. eemmuuuaahhh….”
Beberapa minggu setelah mba Dewi memberikan materi tentang jilbab, akhirnya Shandy dan Wanda pun mengenakannya. Kini mereka telah mengetahui dan melaksanakan kewajiban untuk menutup aurat. Mba Dewi pun senang melihat adik-adiknya telah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Beberapa hari berikutnya, teman-teman Shandy dan Wanda dalam kelompok mentoring mba Dewi-pun ikut mengenakan jilbab. Akhirnya semua anggota kelompok yang dibina oleh mba Dewi telah mengenakan jilbab.
***
“Alhamdulillah… akhirnya selasai juga mata kuliah Bahasa Inggris, waahh bu Inna memang suka lupa waktu kalau mengajar ya Nda..??” Ucap Shandy selepas bu Inna pergi meninggalkan ruang belajar. “Iyaa… perutku sudah keroncongan nih. Ke kantin yuk Shan.. aku sudah kelaparan nih.” Jawab Wanda sambil mengajak Shandy ke kantin. “Iyaa aku juga sama… yuk…”
“Ehh Shan… kamu mau makan apa siang ini..??”
“Ehhmm apa yaa… pokoknya yang bisa bikin perut kenyang deh.”
“Ehh itu ada ketoprak, makan itu aja yuk…??”
“Boleh… yuk kesana…”
“Shandy, kamu yang pesan ketopraknya ya… aku mau pesan minum, kamu mau pesan minum apa..??”
“Aku es teh saja deh…”
“Oke, aku pesankan sekalian.”
Siang itu, Shandy dan Wanda sedang berada di kantin kampus. Mata kuliah Bahasa Inggris yang dibawakan oleh Ibu Inna berakhir pada pukul satu siang. Karena sudah merasakan lapar, Shandy dan Wanda memutuskan pergi ke kantin untuk makan siang. “Ehh Shan… Tau ngga, tadi aku ketemu sama Adit. Dia bersama teman-temannya.” Kata Wanda sambil menghampiri meja makan mereka. “Aahh kamu Nda… Apaan sih… Sudah ahhh…” Jawab Shandi. “Eh Eh… Itu orangnya lewat… aku panggil yaa… ehm Diiit… Kak Adiitt…” sambung Wanda. “Wandaa…?!!” Ucap Shandy sambil mencubit perut Wanda. “Ahh kamu ini, jangan malu-malu.” Ucap Wanda sambil melepaskan tangan Shandy yang sedang mencubitnya. “Sini aku kenalin yaa… Kak Adit kenalin ini temanku, namanya Shandy.” Sambung Wanda.
“Assalammu’alaykum, saya Adit.” Kata Adit.
“Alaykummussalaam, saya Shandy.” Jawab Shandy sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Ehm maaf… saya tidak bisa bersalaman.” Ucap Adit sambil menyatukan kedua tangan ditengah dadanya, salaman seperti orang sunda.
“Ooh iya yaa… Maaf.” Kata Shandy sambil menarik lagi tangannya.
“Ehh iyaa… Ini temanku, kenalkan… namanya Bayu.” Kata Adit sambil memperkenalkan teman yang bersamanya.
“Saya Bayu.” Kata Bayu memperkenalkan diri.
“Shandy.” Jawab Shandy.
“Wanda, Kamu baru memakai Jilbab yaa…?? Selamat yaa…” Kata Adit.
“Iyaa… baru seminggu Kak Adit. Shandy juga sama Kak.” Jawab Wanda.
“Ooo Begitu… Selamat yaa untuk kalian berdua.” Ucap Adit. “Oh yaa… Kami pergi dulu yaa… ada amanah yang harus dilaksanakan.” Lanjutnya.
“Iya kak… Silahkan.” Jawab Wanda.
“Assalammu’alaykum” Kata Adit pamit meninggalkan mereka.
“Waalaykummussalam.” Jawab Shandy dan Wanda.
***
“Wanda, ini karcis keretanya. Sekarang kita tunggu kereta di peron yuk.”
“Makasih Shan.”
“Kita duduk disana aja yuk… lebih dekat dan teduh.”
“Oke deh, yuk kesana.” Jawab Wanda. “Shan… menurutmu gimana kak Adit tadi…??” Lanjutnya.
“Wandaa… kamu mulai lagi deh… sepertinya kamu menjodoh-jodohkan aku dengan kak Adit yaa…??”
“hehe… Shanda… kamu sebenarnya tertarik khann…??”
“Yaa… kalau menurutku itu sih wajar saja Nda… Siapa juga yang ngga tertarik sama kak Adit. Orangnya sopan, ramah, simpatik lumayan cakep lagi.”
“Tuuhh khaannn… Bener khan rasa itu ada…??”
“Iyaa… Dan menurutku itu wajar saja… kita khan difitrahkan seperti itu. Tetapi, bukan pada tempatnya membiarkan perasaan seperti itu terus tumbuh. Itu sama artinya dengan membuka pintu lebar-lebar untuk syetan-syetan masuk kedalam hati kita. Naah Wanda yang sholehah… Sekarang aku ingin melupakan itu semua. Aku ingin menutup rapat-rapat pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati kita. Inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit hati, naah sekarang aku ingin membuang penyakit hati itu dalam diriku. Ndaa… Kita jangan bahas masalah ini lagi yaa… Kita lupakan dan hapus dari memori kita, oke…”
“Kamu kalau ngomong seperti itu jadi inget sama mba Dewi. Oke deh… Mulai sekarang kita tidak membahas masalah ini lagi. eehh iyaa… itu keretanya sudah datang, yuk siap-siap.”
***
Sejak saat itu, Shandy dan Wanda tidak pernah mambahas masalah itu lagi. Mereka sadar bahwa itu sebagai sebuah kesalahan. Tak terasa, waktupun terus berjalan. Seiring dengan berjalannya waktu, Shandy dan Wanda memfokuskan diri pada perkuliahannya. Disamping itu, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Mba Dewi berhasil mengajak mereka untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan di kampus. Mereka mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan mahasiswa mulai dari tingkat fakultas sampai tingkat universitas.
Tingkat satu dan dua adalah masa pembelajaran mereka. Mulai belajar berorganisasi, bersosialisasi dengan rekan-rekan lainnnya sampai belajar membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Lama-kelamaan mereka mulai menikmati berbagai kesibukkannya. Mereka menganggap kesibukannya merupakan media pembelajaran yang mungkin akan bermanfaat nanti dimasa yang akan datang.
Pada akhir tingkat dua, Universitas tempat mereka kuliah mengadakan pemilihan raya. Pemilihan raya ini adalah media untuk memilih pemimpin lembaga-lembaga eksekutif dan legislatif di kampus, baik dari tingkat Universitas maupun tingkat Fakultas. Adit, kakak kelas mereka dicalonkan oleh teman-temannya untuk menjadi ketua BEM UI. Shandy dan Wanda diamanahkan untuk membantu tim sukses pemenangan Adit sebagai ketua BEM UI. Merekapun berusaha melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, Adit terpilih sebagai ketua BEM pada pemilihan tersebut. Shandy dan Wanda diminta Adit sebagai ketua BEM yang baru untuk membantunya dalam kepengurusan BEM yang baru akan dibentuk. Shandy diamanahkan di posisi litbang dan Wanda sebagai bendahara. Aktifitas mereka semakin berat, disamping tugas perkuliahan semakin hari semakin banyak ditambah dengan dengan berbagai program kerja BEM yang harus mereka laksanakan. Selama satu tahun penuh mereka berjibaku dengan kegiatan-kegiatan BEM. Kepengurusan BEM pun akhirnya berakhir, mereka berhasil melaksanakan kegiatan-kegiatannya dengan sukses.
***
Waktupun terus berjalan membawa mereka dalam perjalanan hidup yang panjang. Kini mereka telah lulus dan telah bekerja. Walaupun mereka bekerja pada perusahaan yang berbeda, Shandy dan Wanda masih sering berkomunikasi satu sama lain. Merekapun masih kontak dan sering bertemu dengan mba Dewi dalam pertemuan setiap pekan. Sesibuk dan sesempit apapun waktunya, mereka mengusahakan untuk hadir setiap pekan. Mereka masih sering berkumpul dan berbagi cerita dan pengalaman disamping untuk menambah dan menggali pemahaman agamanya.
Tuttutut…. Tuttututtut…. Seketika, Shandy mencari handphone-nya yg berbunyi didalam tasnya. Tampak nama mba Dewi dalam layar telepon gengamnya.
“Assalammu’alaykum mba Dewi…”
“Alaykummussalam Shandy, apa kabarnya..??”
“Baik mba, Mba sendiri bagaimana…??”
“Alhamdulillah, baik juga. Kamu sudah sampai kantor..??”
“iyaa mba… barusan sampai. Aku sedang menyalakan komputer nih…”
“ooo… Eh iyaa Shan, kamu akhir minggu ini ada acara…??”
“Insya Allah tidak ada mba… Kenapa…??”
“Ngga kok, ada yang ingin mba bicarakan saja…”
“ooo begitu… jadi bagaimana mba…??”
“Kamu bisa datang ke rumah mba hari ahad pagi, yaa kira-kira jam 10…??”
“Insya Allah bisa mba…”
“Oke deh kalau bagitu, mba tunggu yaa… Assalammu’alaykum…”
“Waalaykummussalam warohmatullahi wabarokatuh.”
***
Minggu pagi yang cerah, burung-burung berkicau merdu. Lambat laun mentari memancarkan sinarnya yang menyejukkan dan memberikan kesegaran suasana pagi. Minggu pagi yang cerah, awan-awan putih yang lembut bergerak sangat lambat di memenuhi angkasa. Kuncup-kuncup bunga nan indah mulai merekah penuh warna. Menghiasi taman asri warna-warni. Butir-butir embun memenuhi dedaunan, lambat laun mulai menghilang seiring dengan mentari yang beranjak naik.
Ting nooong…. Ting nooong….
“Siapa yaa….?? Ehhh kamu sudah sampai Shandy…”
“Iyaa mba… baru saja… Assalammu’alaykum”
“Alaykummussalaam waromatulloh wabarokatuh, ayoo masuk…”
“makasih mba…”
“Kamu sudah sarapan Shan…?? Sarapan di rumah mba yuk…”
“Sudah sarapan dirumah mba, terima kasih”
“iya deh… kalau begitu mba buatkan minum yaa… ayoo duduk dulu…”
“makasih mba…”
Mba Dewi masuk ke dapur dan Shandy duduk di ruang tamu sambil memperhatikan pernak-pernik yang ada dalam lemari hias. Terdapat juga aquarium yang berisi ikan-ikan lucu peliharaan kesayangan anak-anak mba Dewi.
“Nihh minumnya sudah selesai… ayoo diminum dulu Shan…”
“Terima kasih mba…”
“Bagaimana pekerjaan kamu…??”
“Alhamdulillah lancar mba. Semakin lama aku semakin menguasai pekerjaanku.”
“Begini Shan… Mba mengundang kamu kesini karena ada yang ingin mba bicarakan dengan kamu. Tapi sebelumnya, mba ingin bertanya. Adakah kesiapan dalam diri Shandy untuk menikah dan berumah tangga..??”
“Sebenarnya… Dalam hati yang terdalam, Shandy sudah siap untuk menikah. Namun demikian karena ini menyangkut keputusan terbesarku, aku akan memikirkannya lebih mendalam dan sholat Istikhoroh meminta petunjuk Allah.”
“Alhamdulillah… Syukur kalau begitu. Begini Shan, sebenarnya mba menanyakan ini karena ada yang menanyakan kesiapan Shandy untuk menikah. Mba akan memproses selanjutnya jika Shandy ingin diproses lebih lanjut. Ada seorang Ikhwan yang sudah siap untuk menikah. Nanti mba akan memberikan biodata Ikhwan yang ingin ta’aruf dengan Shandy setelah Shandy memberikan biodata Shandy ke mba. Tolong nanti dibaca dan dipelajari, mba akan memberikan waktu dua minggu bagi Shandy untuk memikirkannya. Nanti Shandy berikan keputusannya sama mba yaa… Silahkan dipertimbangkan.”
“Iyaa mba… Terima Kasih. Akan aku siapkan biodatanya.”
“Mba memberikan kebebasan bagi Shandy. Keputusan kamu jangan sampai terpengaruh dari apa yang mba sampaikan. Dipikirkan saja masak-masak.”
“Iyaa… Terima kasih mba.”
“Ayoo diminum lagi minumnya Shan.”
***
Jam dinding di kamar Shandy sudah menunjukkan pukul 3.15 pagi. Shandy bangun dari tidur berniat untuk melaksanakan Shalat Istikhoroh. Dengan mata berat karena masih mengantuk, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk berwudhu. Mukena kemudian dikenakan dan sajadahpun digelar. Shandy mulai melaksanakan Sholat Istikhorohnya. Dalam doanya, Shandy dengan suara yang lirih meminta petunjuk kepada Allah dalam mempertimbangkan calon yang ditawarkan oleh mba Dewi.
“Yaa Allah… Karuniakanlah kepadaku pendamping hidup yang mampu mendidik dan membimbingku dalam bertaqwa kepada-Mu. Jika ikhwan yang ingin berta’aruf ini adalah jodoh dan pasangan hidupku dalam mengarungi hidup, maka satukanlah aku dengannya dalam ikatan Mitsaqan Ghaliza yang suci. Namun jika ia bukan jodohku, maka tunjukkanlah yaa Allah. Pertemukanlah aku dengan jodoh dan pasangan hidupku.”
Sejak pertama kali bertukaran biodata, Shandy belum pernah membuka amplop yang diberikan oleh mba Dewi. Akhirnya iapun mengambil amplop tersebut dan membukanya. Dengan perasaan deg-degan dan dengan perlahan Shandy membuka amplop tersebut. Sambil memejamkan mata, Shandi mulai mengeluarkan isi amplop tersebut. Akhirnya perlahan-lahan ia membuka isinya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat isi dari amplop tersebut. “Masya Allah… Inikaaannn… Ini khaaannn… Foto dan biodatanya kak Adit.” Shandy berkata dalam hati.
***
Waktu yang diberikan oleh mba Dewi pun berakhir. Kini tiba saatnya bagi Shandy untuk mengemukakan hasil Istikhorohnya kepada mba Dewi.
Ting nooong…. Ting nooong….
“Assalammu’alaykum…”
“Alaykummussalaam waromatulloh wabarokatuh… Shandy, silahkan masuk.”
“Terima kasih mba…”
“Habis dari rumah..??”
“Iya mba.”
“Ayoo duduk… Mba ambilkan minum yaa…”
“Terima kasih mba…”
“Ikan di aquarium-nya tambah banyak aja mba…”
“Iyaa… Setiap ke pasar bersama Aziz, pasti minta dibelikan ikan. Kalau tidak dibelikan pasti menangis sampai rumah. Jadi terpaksa dibeli supaya Aziz bisa diam. Ehh iyaa… ini minumnya, ayo diminum.”
“Iya terima kasih mba… Begini mba… Pertama-tama saya minta maaf. Bukan maksudku jika mba nanti kecewa dengan apa yang aku sampaikan. Tetapi Istikhoroh yang selama ini aku lakukan membimbingku kepada keputusan ini. Semoga ini adalah yang terbaik, keputusan yang datang atas petunjuk Allah. Saya ingin mengembalikan biodata ini kepada mba. Dengan terpaksa proses ini dihentikan sampai disini saja.”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Mba akan memberitahukan ikhwannya.”
***
Waktu terus berjalan, seiring dengan itu, Shandy pun masih dalam kesendiriannya. Tidak sedikit ikhwan yang ingin menikah dengannya. Pun demikian, Shandy masih tetap merasa belum menemukan Ikhwan yang menjadi harapan dalam Istikhorohnya. Hitungan bulan, bahkan tahun tanpa terasa berlalu dengan cepatnya. Satu persatu teman-temannya mulai menggenapkan setengah diennya. Namun demikian, Shandy tidak terlalu mempermasalahkan kesendiriannya itu. Ia percaya suatu saat jika saatnya sudah tiba, Allah akan mempertemukannya dengan ikhwan yang sesuai dengan harapannya.
***
Ting nooong…. Ting nooong….
“Assalammu’alaykum…”
“Alaykummussalaam… Siapa yaa…?? ehh nak Wanda… ayoo masuk…”
“Terima kasih Tante… Shandy-nya ada Tante…??”
“Ada kok… Silahkan duduk dulu, Tante panggilkan Shandy yaa…”
“Iyaa… Makasih Tante…”
“Ehh kamu Nda… Apa kabar nih…?? Sudah lama tidak mampir ke rumahku…”
“Ehmm iyaa nih Shan… Maklumlah tugas-tugas di kantor semakin lama semakin banyak. Weekend juga masih sering diisi sama kegiatan-kegiatan sosial.”
“Ciee… Yang aktifis memang beda nih….”
“Bukan aktifis lagi… Ukhtifis gitu loh… hahaha… Eh iyaa… aku kemari sebenarnya mau menyampaikan ini. Kamu dateng yaa… Awas kalau ngga…”
“Apa nih Nda… Undangan…?? Haaa…. Kamu kok ngga bilang-bilang sih… Akhirnya kamu lebih dulu dari aku yaa…”
“Aku ingin memberikan surprise ke kamu Shan…”
“Ehh… Ini tulisannya bener yaa…?? Wanda Hamidah dengan Aditya Gunawan…??”
“Iyaa Shan… Itu juga termasuk surprise yang kedua… hehehe… Ternyata jodoh memang tidak kemana. Allah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan nan suci.”
“Ciee yang mau menikah… Romantiss…”
***
Waktu terus berlalu, satu tahun sudah Wanda menikah. Wanda masih dengan kesibukannya bersama dengan organisasi sosial kewanitaan yang dipimpinnya. Bersama dengan organisasi tersebut, Wanda sering mengadakan kegiatan-kegiatan sosial. Mulai dari donor darah, santunan untuk anak yatim, bhakti sosial dan lain sebagainya sudah biasa ia lakukan.
Umur Shandy pun semakin lama semakin menanjak naik. Umurnya kini telah 27 tahun. Walaupun keinginan untuk menikah telah menggebu, namun ia tetap berpikiran positif. Ia yakin bahwa ini adalah skenario yang telah digariskan-Nya.
Tuttutut…. Tuttututtut…. Telepon genggam Shandy berbunyi. Iapun segera mengambil telepon tersebut. Muncul nama Wanda dalam layar LCD-nya, segera saja Shandy menjawab panggilan tersebut.
“Assalammu’alaykum Wanda…”
“Alaykummussalam warohmatulloh wabarokatuh… Apa kabarnya Shan..??”
“Alhamdulillah baik… Bagaimana denganmu…?? Kapan kira-kira keponakanku akan lahir…??”
“Alhamdulillah, aku baik juga… Insya Allah dua bulan lagi Shan, doakan ya semoga semuanya lancar.”
“Insya Allah akan aku doakan, apa sih yang tidak untuk sahabat terbaikku ini.”
“Ahh kamu Shan… bisa saja… Ehh iyaa, begini Shan… Aku membutuhkan bantuanmu untuk acara Konser Amal Nasyid dan Bazaar di Istora Senayan. Kami membutuhkan banyak orang karena ini adalah acara besar dan kami membutuhkan banyak SDM untuk mendukung acara ini. Kamu bisa membantu tidak Shan…??”
“Insya Allah, akan aku usahakan semaksimal mungkin. Kamu itu yaa… Walau sudah hamil besar tetapi masih terus aktif… Lebih baik jaga saja keponakanku yaa Nda…”
“Iyaa Shan… Itu juga salah satu pertimbanganku. Jadi kamu bersedia yaa…??”
“Insya Allah.”
***
“Baiklah… Ini adalah technical meeting kita yang terakhir sebelum konser dimulai. Kita akan membahas segala persiapan yang telah kita lakukan. Tolong semua permasalahan yang masih ada kita bicarakan disini dan sama-sama kita cari solusinya.” Ucap Wanda memimpin rapat persiapan akhir konser nasyid. Wanda mempercayakan Shandy untuk memimpin tim penjualan tiket. Publikasi sudah mereka laksanakan dengan maksimal, demikian juga dengan penjualan tiket. Delapan puluh persen target penjualan telah tercapai, mereka berharap dua puluh persen sisanya bisa tercapai pada saat acara berlangsung.
Hari yang dinanti akhirnya sampai. Konser berlangsung di dalam ruang utama Istora Senayan. Shandy di depan mengkoodinasikan dan mengatur tim penjualan tiketnya. Sebuah tiket box terletak pada pintu depan dengan lokasi yang strategis. Pengunjung yang belum memiliki tiket dapat membeli langsung di tempat tersebut.
“Maaf mba… Saya ingin membeli tiket. Berapa harganya…??” Ucap salah seorang pengunjung yang mendatangi tempat penjualan tiket. "Harganya tiga puluh ribu rupiah. Bagaimana, jadi membeli pak..??” Jawab salah seorang petugas tiket. “Ehmm boleh, saya pesan satu tiket.” Kata pengunjung tersebut. “Ini uangnya.” Tambahnya. Shandy datang menemui petugas tiket tersebut untuk melihat hasil penjualan tiketnya. “Nisa, bagaimana hasil penjualan tiketnya..??” Kata Shandy. “Sebentar mba Shandy, akan saya ambil laporan penjualan sementaranya.” Jawab Nisa petugas penjual tiket. “Pak, ini tiketnya.” sambung Nisa. “Terima kasih.” Jawab pengunjung tersebut. Nisa pamit pergi mengambil laporan sementara penjualan tiket yang diminta oleh Shandy. “Ehhmm… Maaf, boleh saya tanya mba.” tanya pengunjung tersebut kepada Shandy. “Boleh, silahkan…” jawab Shandy. “Ini mba Shandy temannya Wanda yang dulu kuliah di psikologi yaa…??” tanya pengunjung tersebut. “Iyaa… Kok bapak tau sih…??” jawab Shandy. “Iyaa… Saya masih ingat dengan mba. Mba masih ingat dengan saya..??” lanjut pengunjung tersebut. “Ehhmm… Kalau tidak salah, ini bapak Bayu yaa…?? Temannya kak Adit khan…??” kata Shandy sambil berusaha mengingat-ingat wajah yang berada didepannya. “Iyaa benar saya Bayu. Tolong jangan panggil saya bapak yaa… Saya belum menikah dan umur kita khan tidak jauh berbeda. Tolong panggil nama saja yaa…” kata pengunjung tersebut yang ternyata tidak lain adalah Bayu kakak kelas Shandy di psikologi. “Iya deh… sama juga untuk saya, tolong jangan panggil mba yaa… cukup panggil nama saja… Kalau aku panggil kak Bayu tidak apa-apa khan..??” jawab Shandy. “Aku dengar dari teman-teman, kak Bayu tinggal di Paris yaa..??” lanjut Shandy. “Iyaa… Aku bekerja disana, sambil melanjutkan kuliah S2-ku. Mumpung dapat kesempatan beasiswa.” jawab Bayu menjelaskan. “Oh yaa… Wah enak yaa…” kata Shandy. “Sudah dua tahun aku tinggal disana. Aku pulang kampung kesini karena sedang liburan kuliah sekaligus mengambil cuti dari pekerjaan supaya bisa pulang kampung. Aku melihat konser inipun karena membaca koran di rumah, sudah lama aku tidak menonton konser nasyid.” jelas Bayu. “ooo begitu… oh yaa… Konsernya akan dimulai kak… Nanti terlambat.” kata Shandy mengingatkan bahwa konser akan segera dimulai. “Oke deh kalau begitu. Aku masuk ke dalam yaa…” ucap Bayu pamit pergi ke dalam ruang utama. “Pintu masuk ikhwan disebelah sana kak.” Kata Shandy sambil menunjukkan sebuah pintu masuk yang dijaga oleh dua orang ikhwan. “Terima kasih Shan…” jawabnya.
***
Krrinngggg……. kringggg…… krringgg…..
“Assalammu’alaykum, bisa bicara dengan Aditya Gunawan…??”
“Alaykummussalam warohmatullahi wabarokatuh… Saya sendiri, maaf dengan siapa saya berbicara…??”
“Ehh ternyata ente Dit… Ini ane, Bayu. Apa kabarnya akhi..??”
“Alhamdulillah ana bi khair akh. Ente sendiri bagaimana akh…?? Masih di Paris..??”
“Alhamdulillah, ana baik-baik juga. Iya masih, tetapi sekarang ane dalam masa liburan di Jakarta.”
“Masya Allah, ente pulkam kok ngga bilang-bilang ane sih… Kalau ada waktu kita ketemu akh, pintu rumah ane selalu terbuka untuk ente.”
“Boleh, nanti ane kerumah ente deh… By the way, begini nih akh… Salah satu tujuan ane ke Jakarta sebenarnya karena ane sudah siap dan ingin menikah.”
“Subhanallah… Bagus akh… Sudah ada calonnya belum…?? atau mau ana bantuin…??”
“Sebenarnya ane belum punya akh… Dan memang betul sekali, ane butuh bantuan ente akh…”
“Insya Allah ane akan bantu akh… Kira-kira apa nih yang ane bisa bantu…?? Sudah ada belum akhwat yang…”
“Sebenarnya ada sih akh… Tetapi, ane masih malu mengatakannya…”
“Ente nih yaa… ngga usah malu akh, kalo malu terus kapan nikahnya…?? Yaa sudah… sebutkan saja siapa akhwatnya, nanti ane minta bantuan istri untuk menanyakan ke akhwat atau murobbiyah-nya. Bagaimana..??”
“Boleh… Syukron akhi…”
“Nahhh… Sekarang sebutkan saja siapa akhwatnya akh…”
“Shandy Ramadhani.”
“Baiklah akan ane bantu, akan ane sampaikan ke istri. Bagaimanapun, nanti yang memproses tetap harus murobbi ente yaa…”
***
Akhirnya proses itupun berlangsung dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Pernikahan Shandy dan Bayu berlangsung meriah, banyak kerabat handai taulan, dan teman-teman semasa kuliah yang hadir dalam acara tersebut. Meski prosesnya terbilang cepat, mereka tetap harmonis. Empat tahun setelah pernikahannya, Shandy dan Bayu telah memiliki dua orang anak yang lucu-lucu. Bayu melanjutkan pekerjaannya di Paris dan Shandy ikut dengan suami. Shandy tidak bekerja lagi karena harus mengurus anak-anak mereka agar mendapatkan pendidikan yang terbaik langsung dari ibunya. Itulah yang menjadi pertimbangan bagi Shandy untuk mengundurkan diri dari perkerjaannya. “Cukup mas saja yang bekerja mencari nafkah, aku disini saja bersama dengan anak-anak kita mempersiapkan mereka agar menjadi orang-orang terbaik dan orang yang bermanfaat.” ucapnya ketika menyatakan akan mengundurkan diri dari pekerjaan di kantornya.
“Bundaaa…” Teriak Nabila berlari dikejar oleh Rafi kakaknya.
“Rafi… Nabila… Kenapa kalian kerja-kejaran seperti itu…?? Kalian tidak boleh begitu yaa… Kakak dan Adik harus rukun tidak boleh bertengkar.”
“Habis Nabila Bunda… Mengganggu Rafi terus…”
“Sudah-sudah… Sekarang kalian jangan bertengkar lagi yaa… ayoo saling bermaafan… Rafi, kamu khan kakaknya Nabila. Kamu harus membimbing adikmu dong. Harus mencontohkan yang baik kepada adik. Lebih baik Rafi sebagai kakak mengalah saja kalau Nabila meminta sesuatu. Nabila juga, kamu juga sebagai adik jangan suka mengganggu kakak yaa… Boleh bermain bersama tetapi tidak boleh bertengkar yaa… Kalian mengerti khan perkataan Bunda…??”
“Iyaa Bunda…” Rafi dan Nabila kompak menjawab.
“Sekarang kalian sudah mengerti, boleh dilanjutkan bermainnya. Tapi nanti jangan lupa mainannya di rapihkan kembali ketempatnya semula yaa…”
Bayu baru saja pulang dari kantornya dan menghampiri Shandy menanyakan apa yang barusan saja terjadi.
“Assalammu’alaykum… Ada apa dengan anak-anak Bunda…??”
“Alaykummussalam warohmatulloh wabarokatuh… Ehh… Mas sudah pulang… Ngga kok… Tadi Rafi dan Nabila, Nabila mengganggu kakaknya.”
“Ooo begitu… sekarang sudah selesai khan..??”
“Sudah Mas…”
Bayu merenggangkan dasi yang melingkar di lehernya dan kemudian duduk di sofa depan kamar keluarga. Shandy menemani sambil membawakan teh manis kesukaan suaminya. Setelah meminum tes manis penghilang dahaga, Bayu bersandar di sofa diikuti dengan Shandy yang ikut bersandar dan merebahkan kepalanya di pundak sang suami.
“Mas… Aku tidak pernah membayangkan akan sebahagia ini. Melihat anak-anak tumbuh, diberikan Allah pengalaman yang tak terlupakan, diberikan juga anak-anak yang sehat dan keluarga yang berbahagia. Alhamdulillah, Allah telah memberikan kita kebahagian yang begitu besar kepada kita.”
“Iyaa Dik… Begitu besar kebahagiaan yang datang kepada kita. Kita harus mensyukurinya dengan berbakti kepada-Nya. Aku tidak menyangka mendapatkan istri yang sholehah, lembut dan penyayang seperti kamu.”
“Ahh, mas bisa aja…”
“Eit… Sakit Dik, jangan terlalu kencang dong mencubitnya… hehe…”
“Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama Mas. Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan Mas. Ternyata kita memang berjodoh… Walaupun sudah banyak yang mengajak menikah denganku, tetapi entah kenapa aku selalu merasa belum menemukan pasangan jiwaku. Kemudian ketika Mas datang, sepertinya Allah membimbingku untuk mengatakan iya. Ia menunjukkan jalan-Nya dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Akhirnya, akupun memilih Mas… bukan karena tidak ada pilihan tetapi karena Allah yang memilihkan .”
*** T A M A T, Balikpapan, 090905. ***
Click to Social Bookmark












































![[Spirit in everything we do]](http://blog.iqbalir.com/wp-content/themes/alphanauthilus/styles/alphanuathilus/images/logostatis.gif)
Belajar bercerita kang…
hehe…
@Ike,
Mudah2an semakin membuat penulisnya rajin…
cerita na bagus..saya banyak mengambil hikmah dari cerita ini..Smg menajdi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah..amin…Bukan krn tidak ada pilahn tp ALLAH yang memilihkan..luar biasa…
ceritny UNIK , N BEGITULAH KALO DAH JODOH TAK AKAN LARI KE MANA