Ordinary Sunday
Published by Iqbal_Ir 3 years, 1 month ago in Keseharian.Ahad, 2 Oktober 2005
Seperti pada hari ahad biasanya, ahad inipun saya telah merencanakan acara-acara yang akan saya kerjakan sepanjang hari ini. Entah mengapa, sepertinya hari ahad pagi ini kepalaku sudah mencoba mengatur dan memanfaatkan waktu dengan baik.
Mengawali pagi dengan membuka laptop dan membuka-buka kembali file-file materi perkuliahan yang telah diberikan untuk mempelajari materi tersebut. Mengingat banyak materi kuliah yang sempat tertinggal karena tugas kantor yang mengharuskan saya untuk pergi ke Kalimantan. Tugas Praktikum Mikroprosessor telah membuat kepalaku pusing dibuatnya. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan cukup sempit ditambah banyak tugas yang belum saya mengerti bagaimana mengerjakannya. Tugas yang diberikan masih belum selesai, mungkin dengan membaca koran akan sedikit mengendurkan syaraf-syaraf otak yang tegang memikirkan tugas tersebut.
Koran minggu pagi bertajuk “Pemerintah keterlaluan” ditulis besar di depan halaman muka. Tulisan tersebut dimaksudkan untuk merespon kenaikan harga Bahan Bakar Minyak yang naik 108% per 1 Oktober 2005. Saya hanya membaca beberapa paragraf awal tulisan tersebut kemudian melihat berita-berita di halaman lain. Membaca koran memang menyita waktu, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 9. Tiba-tiba saja saya tergerak untuk mengikuti Musran DPRa tempat saya tinggal. Awalnya saya ragu-ragu untuk ikut, karena sudah lama sejak kepergian ke Kalimantan selama kira-kira 2 tahun membuat saya dengan terpaksa vakum dari kegiatan-kegiatan DPRa. Sudah saatnya untuk aktif kembali, pikirku dalam hati. Inilah moment yang tepat untukku.
Musran DPRa berjalan lancar, dengan sedikit kendala klise yaitu molornya acara. Tak mengapalah pikirku dalam hati, ini juga merupakan kesempatan untuk berdialog dengan bapak-bapak yang telah saya kenal dan bertukar kabar dengan teman-teman lainnya. Laporan evaluasi kegiatan DPRa dibawakan oleh ketua DPRa Bapak Hanom. Saatnya untuk memilih ketua DPRa yang baru. Jaring pendapat telah diedarkan oleh panitia beberapa waktu yang lalu, akhirnya ditetapkan 6 calon kandidat ketua DPRa Balekambang. Pemilihan tersebut memutuskan Bapak Chasoli sebagai ketua DPRa yang baru. Semoga Allah memberikan pertolongan dalam menjalankan amanahnya Pak, doaku kepadanya.
Akhirnya acara berakhir pada tengah hari. Saya ikut membantu merapihkan tempat acara. Bangku-bangku disusun dan disatukan untuk dikembalikan ke pemiliknya. Sampah-sampah dibersihkan. Satu persatu peserta pulang ke rumah masing-masing. Tinggal kami berlima saja di tempat tersebut yang harus membereskan sisanya. Saya dan Jefri kebagian untuk memulangkan whiteboard ke DPC dan setelah itu kembali lagi ke tempat acara untuk mengantarkannya. Tinggal bangku saja yang belum dikembalikan. Akhirnya kami mengangkat bangku tersebut dengan motor. Dengan bereksperimen dalam teknis pengangkatannya, akhirnya motorpun ikut lecet dan tergores-gores dibuatnya. “Afwan akh, motor ente jadi lecet-lecet nih…” ucap ikhwah yang mengangkat bangku tersebut ke motorku. “Ngga apa-apa kok, motor ini khan memang untuk diberdayakan.” jawabku. “Mudah-mudahan mendapat ganti yang lebih baik.” katanya lagi. Aku menjawab doa tersebut dengan mengucap “Amiinnn….”
Ketika acara tersebut, saya bertemu dengan Akh Rovi. Rovi adalah seorang teman alumni dari SMU tempat saya dahulu sekolah memberikan kabar tentang acara syuro Formula 62 dan mengajak saya untuk ikut. Waktu sore yang direncanakan memang kosong dan tidak ada dalam jadwal saya, Insya Allah aku bisa mengikutinya.

Acaraku siang itu rencananya akan dilanjutkan dengan acara bedah buku “Cyber Love” yg diselenggarakan oleh Muslimah-IT. Namun karena membantu beres-beres di acara DPRa, akhirnya terlambat untuk hadir. Selain tujuannya untuk mengetahui isi dari bedah buku tersebut, saya juga ingin membeli buku tersebut karena seseorang meminta oleh-oleh buku itu. Inginnya memberikan buku tersebut untuk seseorang, namun akhirnya tidak jadi pergi ke acara tersebut karena sudah terlambat. Akhirnya sayapun pergi ke Gramedia Matraman untuk mencari buku tersebut. Ternyata setelah ditelusuri di semua kategori, buku tersebut tidak ada. Mencari di komputer database buku-buku juga tidak menghasilkan apa-apa. Ternyata buku tersebut belum masuk ke Toko Buku Gramedia. Mungkin lain waktu saya akan usahakan untuk mencari buku tersebut, semoga akan masuk Gramedia secepatnya. Dengan terpaksa, akhirnya lihat buku-buku lainnya saja.
Karena sudah terlanjur ada di Gramedia, akhirnya lihat buku-buku yang ada disana. Memilih buku yang tepat agak sulit memang, terutama jika tidak tahu ingin membaca buku apa. Akhirnya tangan ini mengarahkan untuk mengambil buku Robert Kiyosaki, entah sudah berapa buku Robert Kiyosaki yang aku koleksi. Dari semua buku tersebut, mungkin baru 35% saja yang selesai aku baca. Buku Robert Kiyosaki isinya banyak mengenai bagaimana berinvestasi dalam bentuk usaha dan bagaimana berpindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan. Sejak dahulu saya ingin mempunyai usaha sendiri yang mandiri bebas dari pekerjaan menjadi karyawan dan bebas dari Rat Race versi Robert. Namun itu semua masih menjadi cita-cita, masih bingung bagaimana memulainya. Disamping itu, meluangkan waktu untuk membaca memang suatu tantangan tersendiri.
Beralih ke tumpukan buku lainnya, ada juga buku yang membuat saya tertarik. Buku-buku Dan Brown yang menghebohkan beberapa bulan yang lalu masih banyak dalam tumpukan. Bahkan seri-seri berikutnya dari buku “The Da Vinci Code” yang menghebohkan sudah tersedia dan sudah diterjemahkan. Buku “The Da Vinci Code” versi hardcover dibandrol dengan harga Rp. 99.000,- cukup mahal juga yaa… untuk versi softcover dibandrol Rp. 74.900,-. Akhirnya setelah ditimbang-timbang, aku memutuskan untuk membeli buku “The Da Vinci Code” versi hardcover dan buku Robert Kiyosaki.
Sore harinya melanjutkan kegiatan, menunaikan janji dengan Akh Rovi. Kami janjian pukul 17.30 di suatu tempat di jalan raya Chaglak. Setelah menunggu agak lama, akhirnya dia datang dan kami melanjutkan perjalanan ke rumah salah seorang akhwat angkatan 2001 untuk syuro tentang acara GETAR 62 (Gema Ta’lim Ramadhan). Acara ini memang diadakan setiap tahun. Sejak saya masih sekolah di SMU 62, acara ini sudah ada. Kalau tahun-tahun sebelumnya acara ini hanya formalitas saja, tetapi beberapa tahun belakangan ini acara ini menjadi salah satu target untuk merekrut anggota-anggota Rohis yang akan memegang jalannya da’wah di SMU 62. Kami para alumni senantiasa membantu aktivis-aktifis Rohis dalam merekrut dan melobi pihak sekolah terutama dalam hal mentoring. Acara syuro berakhir pada pukul 19.30 dan akan dilanjutkan minggu depan. Senang rasanya melihat semangat para da’i dan da’iyah 62, masih dengan orang-orang yang sama ketika awal terbentuknya Formula 62. Semoga personilnya terus bertambah agar tongkat estafet terus berjalan.
Hari ahad yang melelahkan, inginnya melanjutkan belajar dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Namun apa daya, badan ini sudah rindu dengan kasur yang menggoda untuk dihampiri. Semoga Allah memberikan pertolongan dan memudahkan tugas-tugas yang belum terselesaikan. Amiinn…
Click to Social Bookmark












































![[Spirit in everything we do]](http://blog.iqbalir.com/wp-content/themes/alphanauthilus/styles/alphanuathilus/images/logostatis.gif)
No Responses to “Ordinary Sunday”
Please Wait
Leave a Reply