Jangan Takut Bilang Cinta
Published by Iqbal_Ir 2 years, 11 months ago in Tentang Pernikahan.
Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang ‘kadung’ dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.
Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.
Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan ‘caper’.
Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang ’sedikit’ lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.
Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.
Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.
Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah “seberapa pantas dirinya” saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.
Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)
Click to Social Bookmark












































![[Spirit in everything we do]](http://blog.iqbalir.com/wp-content/themes/alphanauthilus/styles/alphanuathilus/images/logostatis.gif)
Ada sesuatu yang dilupakan pak zidane (panggilan saya untuk pak bayu gautama). Sisi ikhwan ketika dia pun mengalami masa yang sama dengan kondisi akhwat diatas. tapi mungkin karena ikhwan cenderung lebih cuek ya, atau karena wanita cenderung lebih banyak menggunakan perasaannya, sehingga wanita yang lebih banyak disorot???
Wallahu’alam…
Mungkin sudah menjadi lumrah ketika seorang ikhwan menyatakan perasaannya. Bahkan sampai ada dogma “Ikhwan siap memilih dan akhwat siap menolak”. Pada dasarnya, ikhwan juga seorang manusia yang memiliki perasaan. Dan sudah menjadi kewajaran jika ikhwan yang menyatakan terlebih dahulu, namun jika akhwat yang menyatakannya terlebih dahulu bukan berarti sesuatu yg tidak wajar. Akhwat juga seorang manusia, memiliki hati dan rasa. Oleh karena itu mungkin Bayu dalam tulisan ini ingin memberikan gambaran bahwasanya tidak ada salahnya seorang akhwat untuk menyatakan terlebih dahulu (Karena kl Ikhwan yg menyatakan terlebih dahulu sudah menjadi hal yg lumrah dan wajar, shg tdk dibahas dlm tulisan ini).
ini sekedar pendapat pribadi sy sj lho…
eehmmm,soal-soal kayak gini udah lama jadi pembicaraan n terus menuai benih-benih kontroversi pendapat…he he..he.kalo ane sendiri sih cenderung memilih ikhwan duluan deh yang ngomong…soalnya ane punya pengalaman yaaang kurang baik soal akhwat yang nembak duluan walaupun bukan pengalaman sendiri sih. but sometimes akhwat perlu juga untuk mengungkapkan terlebih dahulu, dengan catatan, kalo sampai si ikhwan nolak jangan sampai nyaakitin perasaan n jangan terus g—–r—geto loh—–
by-antee1807
Sebenernya masalah kaya gini adalah masalah yang nggak bakal ada abisnya buat akhwan dan ikhwan yang belum nikah, termasuk saya. makanya pesan saya buat akhwat yang terlanjur ngebet pengen nikah, udah punya target (ikhwan yang sesuai kriteria ), mending langsung aja sampaikan/nyatakan. dari pada nanti sang ikhwan idaman keburu ngelamar yang lain. Now Or Never.
Ukh Ana dan Akh Yadi, antum sama2 betul. Baik ikhwan atau akhwat yang menyatakan duluan tidak masalah, sepanjang melakukannya dalam koridor syar’i yang dibenarkan dan pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat dahulu.
Saya yakin kita semua khn sudah mengerti, jadi lakukanlah yang terbaik, dengan jalan yang terbaik dan semoga menghasilkan yang terbaik.
ukhti bersabar sabar saja dalam penantian?
iyaa ukh… Innallaha maashobiriin…
yakinlah bahwa Allah akan selalu bersama orang2 yg bersabar…
Tetapi ikhtiarnya jangan berhenti y, teruslah berusaha… Semoga Allah memberikan yang terbaik…
memang tdk ada salahnya utk omong duluan , sy memiliki pengalaman pribadi: mengajak nikah ikhwan dg niat dlm hati dapat Ridho allah, alhamdulillah dia mau, padahal gak pacaran .Cuma kenal melalui teman. Awalnya emang malu2, sekarang anak udah mau dua…
ops:
Waahh…
pengalaman pribadi mama Farras bisa dijadikan contoh y…
ops:
Mama Farras, bisa diceritakan proses “ngomong” nya gimana ?? mungkin ada yang mau i’ttiba
terkadang kita masih ragu dengan diri kita aakah kita udah sia lahir7batin
perbanyaklah sedekah insya4JJ dimudahkan jodohnya. amiin
menurut q banyak2 berpuasa aja.
bang iqbal…nyusun kalimatnya bagus banget sih…
gw baca udah sampe abis…salut deh buat si abang
@kendi,
Ini tulisannya bang Bayu Gautama… Dulu sempet masuk ke email sayah… ehhh ditempel di blog… Belum ijin lg sm yg punya, upss jadi malu nih…
sbg akhwat ana juga memahami kondisi akwat yg demikian. Tapi kalau boleh sedikit berpendapat, hal ini tdk akan terjadi bila tdk dipicu oleh sang ikhwan
. Walaupun tidak semua, tapi fenomena kriteria “*****” yang jadi parameter ikhwan mencari pendamping setidaknya cukup menjadi alasan akhwat untuk berusaha sedikit “******”. Jujur ana sendiri sempat tidak percaya lagi dengan ikhwan dan beberapa teman akhwat bahkan sampai takut untuk menikah krn kondisi ikhwan yg demikian…
(afwan…
Note: Some comment were edited by iqbalir.com
sebagai ikhwan, ana takut jika lamaran ana di tolak sm keluarga akhwat. ada yang bs bantu?
@izzah,
Kalau melamar akan ada dua kemungkinan jawaban, diterima atau ditolak. Apapun jawabannya, kita harus siap menerimanya dan juga bertanggungjawab terhadap apapun keputusan tersebut. Maksudnya, jika diterima kita harus siap dengan proses selanjutnya yaitu menikah jika ditolak kita harus siap menerima keputusan tersebut. Yakinlah bahwa Allah mengetahui yang terbaik untuk kita, jika diterima berarti itu adalah jodoh yang Allah tetapkan untuk kita, jika ditolak yakinlah Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik. Karena Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Jadi jangan takut ditolak, berserah diri kepada Allah atas apapun keputusan-Nya.
penting pasrah sama ALLAH