Mencintai Itu Keputusan
9 Comments Published by Iqbal_Ir 4 years, 7 months ago in Tentang Pernikahan.
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, "Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini.
" Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi…
sebab memberi adalah pekerjaan…
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat…
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama…
sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh…
maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, "Aku mencintaimu." Kepada siapa pun! Sebab itu adalah keputusan besar.
Ada taruhan kepribadian disitu."Aku mencintaimu," adalah ungkapan lain dari, "Aku ingin memberimu sesuatu, aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia… aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin… aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu…" Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. "Aku mencintaimu" merupakan deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi sulit. Disitu konsistensi teruji, disitu juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar. Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain.
Oleh : Ust. Anis Matta
Cinta menurut definisi Ibnu Qayyim al-Jauziyah “Tidak ada cinta sebelum ijab kabul diucapkan.”
Cinta antara jiwa dalam hadist Rasulullah, “Jiwa-jiwa itu bagaikan tentara-tentara berbaris rapi; Jika saling mengetahui (mempercayai) mereka akan bersatu, dan jika saling mengingkari, mereka akan berpisah.” (HR. Bukhari)
wah, berat amat definisinya. menurut saya mencintai bukanlah pekerjaan yang berat. mencintai ya mencintai saja, mengikut perasaan yang murni. mencintai tidak perlu menuntut. mencintai tidak perlu menimbulkan beban dalam hati. justru karena mencintai, hati jadi terbebaskan dari beban.
kalo mengikuti definisi tulisan di atas: mencintai adalah pekerjaan memberi yang sangat berat.. orang akan takut mencintai.
mencintai itu seharusnya pekerjaan yang membebaskan jiwa. bukan mengungkung jiwa.
mencintai bukan memberi cinta, tapi merasakan cinta.
jangan membuat definisi yang berat2. cinta itu mudah saja. semudah rasulullah menerima pinangan janda tua Khadijah. tanpa syarat, tanpa beban.
bahwa dari cinta menimbulkan tanggung jawab itu mungkin benar. dari cinta timbul kasih sayang, dari kasih sayang muncul tanggung jawab. rasa tanggung jawab yang muncul ini bukan bermakna kewajiban. tetapi tanggung jawab yang muncul karena hak. oleh karena itu, saya tidak percaya cinta harus bermakna sesuatu yang berat seperti definisi tulisan di atas. cinta itu ringan, cinta itu mudah, cinta membebaskan, bukan membebankan.
cinta adalah kekuatan yang terjalin suci,antara kedua pasangan.mitsaqan ghalidah,yang dilandasi kecintaan terhadap Roobnya.jalan untuk menggapai ridhonya sampai maut memisahkan keduanya,hingga bertemu di alam kekal kelak,Insya Allah.
cinta itu seperti islam, islam itu agama yang mudah tapi jangan di permudah sama kaya cinta…. mudah buat kita memahami cinta tapi jangan di permudah… islam itu rumit karna semuanya penuh dengan aturan2 yang pasti tapi jangan pula di perumit begitu juga cinta, cinta itu rumit tapi jangan juga di bikin rumit segala sesuatu nya… jalani aja dengan iklas apa ada nya … iya ga sih…
itu mah tulisannya anis matta
ditulis dong sumbernya, “mencintai itu keputusan” oleh anis matta…
@Joko,
Sudah sy tulis mas… Thx…
ikut copy paste ya akh bagus bget artikelnya ..syukron
ijin copas yah, ak suka artikelnya,..thx sblm dan sesudahnya.