Perjalanan bersama banjir Jakarta
Published by Iqbal_Ir 1 year, 11 months ago in Keseharian.Untuk kali kedua setelah tahun 2002 Jakarta dilanda banjir (kembali). Banjir kali ini lebih buruk dibandingkan banjir yang melanda Jakarta 2002 silam. Kini Jakarta kembali terpuruk dalam banjir, tak bisa berkutik. Ibu kota negara lumpuh lantak seketika.
Catatan perjalanan bersama banjir Jakarta 2007.
Kamis, 1 February 2007 - Jakarta masih tampak aman
Meski belum sampai banjir, tapi Jakarta dilanda hujan yang tak junjung mereda sejak malam harinya. Pagi harinya saya sempat pergi ke Rawasari dan Kalimalang mencari keramik untuk kamar mandi, dapur dan lantai. Karena masih berharap esok harinya saya bisa ke tempat ini lagi untuk membeli keramik, maka saya mengurungkan niat untuk membeli keramik.
Jum’at, 2 February 2007 - Sejak pagi sudah mulai terlihat tanda-tanda banjir
Pulang dari kantor pagi sekitar pukul 08:30 setelah kerja di malam harinya. Nampak air jalan arteri di Benhil (Bendungan Hilir) sudah sampai pinggang orang dewasa. Motor tidak ada yang bisa melintas, jadi terpaksa lewat jalur cepat. Sang driver membawa kami melewati Jalan Tendean, namun ternyata Polisi sudah memblokir jalan tersebut. Kami diarahkan melewati jalan Duren Tiga, tembus ke kalibata kemudian Pasar Minggu.
Hari jum’at inilah jalan-jalan dan pemukiman di Jakarta dilanda banjir. Bisa dibilang yang paling buruk sejak tahun 2002 lalu.
Sore harinya, saya mencoba untuk kembali ke Kalimalang. Mengambi jalan dari Dewi Sartika terus berbelok ke kanan, masuk ke cawang. Namun ternyata ketika masuk ke mulut terowongan underpass, saya saya dihadapkan dengan macet yang tak bisa dihindari. Kurang lebih 1 jam bersama macet, saya berharap bisa megambil ke kiri masuk jalan DI Panjaitan. Ternyata saya lupa, DI panjaitan telah diberitakan di TV bahwa jalan tersebut sudah macet. Ternyata betul, akses kesana sudah di blokir. Akhirnya saya berputar arah kembali pulang ke rumah.
Malam harinya, saya kebetulan kerja malam. Sang driver sudah menanti di depan rumah, saya berangkat sekitar pukul 9 malam. Meski sudah saya beritahu bahwa jalan Tendean sudah banjir dan tidak bisa dilalui, sang driver masih berharap banjir sudah mereda -sayapun berharap demikian-. Namun ternyata dugaan meleset, jalan masih di blokir dan kami terpaksa putar arah, saya dan driver masuk mencari jalan2 yang masih bisa dilalui. Meski banyak juga jalan-jalan di rumah-rumah penduduk yang menjadi lautan banjir. Akhirnya sampai di Jalan Pasar minggu, jalan ini tidak banjir tetapi jadi mecet sekali karena underpass di sepan pasar ikut tergenang air. Ketika memasuki lampu merah pancoran, tampak mulut Jalan Gatot Subroto sudah penuh sesak dengan mobil. Malam itu macet ada dimana-mana. Kami akhirnya melewati jalan Casablanca, berharap agar tidak ikut dalam jebakan macet. Namun ternyata jalan inilah yang menjadi jalan alternatif karena jalan Sudirman (Benhil) ikut terkena banjir. Untuk bisa mencapai putaran terdekat, saya menempuh waktu kurang lebih setengah jam. Akhirnya kami memutar kemudian masuk ke Kuningan dan Kebon Sereh. Alhamdulillah, jalur ini ternyata sudah sepi karena banyak karyawan sudah meninggalkan kantor sejak awal. Saya telat 1 jam untuk sampai ke kantor dari waktu yang seharusnya.
Ahad, 4 February 2007 - Terjebak macet sepulang dari pengajian mingguan
Pagi harinya saya dan istri menyempatkan pergi ke pernikahan teman satu angkatan saya. Kami hanya bisa menyempatkan hadir sampai waktu dzuhur karena kami berencana ingin membeli keramik. Namun apa nyana, ketika sampai toko keramik yang di maksud tidak beroperasi (baca = tutup). Jadi kami pulang kembali kerumah sambil mengambil photo-photo banjir.
Malam harinya sepulang dari pengajian mingguan, saya mengantar teman ke daerah Jatinegara. Di jalan, saya sempat melewati banjir di lampu merah Pramuka-Matraman. Alhamdulillah, mobil saya masih bisa melewati jalan tersebut. Kelegaan saya tidak berlangsung lama, selepas teman ngaji saya pamit turun di Jatinegara. Saya dikagetkan dengan banjir yang melewati jalan Otista (Otto Iskandar Dinata). Saya dialihkan oleh penduduk mengikuti jalan angkot untuk mencapai Cililitan. Jalan yang saya lalui sangat macet karena sepeda motor juga ikut melintas di arah yang berlawanan ditambah dengan jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh 1 mobil saja. Lampu rumah penduduk mati disekitarnya, sinyal Handphone sudah tidak ada -kemungkinan besar BTS (Base Tranceiver Station)nya sudah kebabisan tenaga-, penduduk keluar dari rumah semua, jalanan semakin ramai dan macet.
Tak lama kemudian saya mendapati rumah penduduk yang listriknya menyala, sinyal Handphone juga menampakkan tanda-tanda kehidupan. Setelah beberapa kali berusaha menghubungi istri, akhirnya saya tersambung dan mengabarkan kondisi yang saya alami. Istri sangat khawatir, saya memaklumi hal tersebut. Namun seketika hubungan komunikasi terputus. Hampir puluhan kali saya coba untuk redial tetapi karena blocking -istilah dalam celluler untuk user yang tidak bisa mendapatkan traffic channel karena traffic channel yang ada sudah terpakai semua- sangat besar, saya tidak bisa menghubunginya lagi. Akhirnya saya terbebas dari macet, setelah kurang lebih 45 menit terjebak didalamnya. Alhamdulillah saya sampai juga dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat.
Technorati tags: 

![[Spirit in everything we do]](http://blog.iqbalir.com/wp-content/themes/alphanauthilus/styles/alphanuathilus/images/logostatis.gif)
Ngati2 cak. Saya cuman bisa mendoakan
@achedy,
Terima kasih cak… Mudah2an musibah ini cepat berakhir…
Halo Mas,
Terimakasih udah berbagi cerita soal banjir Jakarta.
Saya juga ingin tanya bagaimana caranya menambahkan social bookmarking box di situs mas.
Terimkasih banyak sebelumnya.
@Anto,
Tinggal klik aja social bookmarkingnya di sidebar blog ini. Tentunya harus disesuaikan dengan account social bookmarking yang anda punya, misalnya jika anda sudah terdaftar di del.icio.us anda tinggal klik logo-nya disana.