<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>~ Iqbal Ir ~ &#187; Tentang Pernikahan</title>
	<atom:link href="http://blog.iqbalir.com/archives/category/keluarga/tentang-pernikahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.iqbalir.com</link>
	<description>Today is a new day</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 15:23:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pudarnya Cahaya Cleopatra -Raihana-</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/08/pudarnya-cahaya-cleopatra-raihana/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/08/pudarnya-cahaya-cleopatra-raihana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Aug 2006 03:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/08/pudarnya-cahaya-cleopatra-raihana/</guid>
		<description><![CDATA[Tambahan artikel dalam halaman &#8220;Tentang Perhikahan&#8221; -halaman yang paling sering dikunjungi- . Silahkan membaca, cerita yang cukup panjang . *** Pudarnya Cahaya Cleopatra -Raihana- Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.&#8221;Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tambahan artikel dalam halaman &#8220;<a href="http://blog.iqbalir.com/tentang-pernikahan/">Tentang Perhikahan</a>&#8221; -halaman yang paling sering dikunjungi- <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Silahkan membaca, cerita yang cukup panjang <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_peace.gif' alt='[peace]' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>***</p></blockquote>
<p><b>Pudarnya Cahaya Cleopatra -Raihana-</b></p>
<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/flower.gif" alt="Flower" style="float:left;margin-right:7px" border="0" />Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.&#8221;Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu&#8221; kata ibu.</p>
<p>&#8220;Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu&#8221;, ucap beliau dengan nada mengiba.</p>
<p>Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.</p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p>Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.</p>
<p>Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, &#8220;cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.</p>
<p>Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!</p>
<p>Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.</p>
<p>Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.</p>
<p>Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab &#8220;tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga &#8220;Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil &#8216;mbak&#8217;, &#8220;kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku&#8221; tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. &#8220;wallahu a&#8217;lam&#8221; jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, &#8220;Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini&#8221;. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.</p>
<p>Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. &#8220;Mas tidak apa-apa&#8221; tanyanya dengan perasaan kuatir. &#8220;Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih&#8221; lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. &#8220;Mas airnya sudah siap&#8221; kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. &#8220;Mas aku buatkan wedang jahe&#8221; Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. &#8220;Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?&#8221; Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. &#8220;Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas&#8221;. &#8220;Biasanya dikerokin&#8221; jawabku lirih. &#8220;Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin&#8221; sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.</p>
<p>Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. &#8220;Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu&#8221; kata Ratu Cleopatra. &#8220;Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu&#8221;. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.</p>
<p>Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba &#8220;Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya&#8221; kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. &#8220;Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya&#8221; lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.</p>
<p>&#8220;Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang.&#8221; Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. &#8220;Maaf&#8230; maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana, &#8220;lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. &#8220;Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. &#8220;Ya Mas!&#8221; sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil &#8220;dinda&#8221;. &#8220;Matanya sedikit berbinar. &#8220;Te.. terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, Insya Allah.&#8221; ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.</p>
<p>Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. &#8220;Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?&#8221;. Hana begitu bahagia.</p>
<p>Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.</p>
<p>Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. &#8220;Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.</p>
<p>Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.</p>
<p>Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. &#8220;Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu&#8221; kata ibuku. &#8220;Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?&#8221; sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.</p>
<p>Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya &#8220;Mana tanggung jawabmu!&#8221; Aku hanya diam dan mendesah sedih. &#8220;Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta&#8221; gumamku.</p>
<p>Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, &#8220;Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita&#8221;.</p>
<p>Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.</p>
<p>Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.</p>
<p>Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.<br />
&#8220;Apakah kamu sudah menikah?&#8221; kata Pak Qalyubi.<br />
&#8220;Alhamdulillah, sudah&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Dengan orang mana?&#8221;.<br />
&#8220;Orang Jawa&#8221;.<br />
&#8220;Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?&#8221;.<br />
&#8220;Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran&#8221;.<br />
&#8220;Kau sangat beruntung, tidak sepertiku&#8221;.<br />
&#8220;Kenapa dengan Bapak?&#8221;<br />
&#8220;Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang&#8221;.<br />
&#8220;Bagaimana itu bisa terjadi?&#8221;.</p>
<p>Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.</p>
<p>Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.</p>
<p>Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.</p>
<p>Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.</p>
<p>Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.</p>
<p>Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.</p>
<p>Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. &#8220;Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir&#8221;. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.</p>
<p>Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang&#8221;.</p>
<p>Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.</p>
<p>Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.</p>
<p>Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku &#8220;serong&#8221;?.</p>
<p>Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya&#8230; Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.</p>
<p>&#8220;Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba&#8221; tulis Raihana.</p>
<p>Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa &#8220;Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau&#8221;.</p>
<p>Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang <i>baby face</i> dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. </p>
<p>Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.</p>
<p>Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.  Aku jadi heran dan ikut menangis. &#8220;Mana Raihana Bu?&#8221;. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.</p>
<p>&#8220;Raihana&#8230; istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya&#8221;.<br />
&#8220;Ada apa dengan dia&#8221;.<br />
&#8220;Dia telah tiada&#8221;.<br />
&#8220;Ibu berkata apa!&#8221;.<br />
&#8220;Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya&#8221;. </p>
<p>Hatiku bergetar hebat. &#8220;Ke&#8230;. kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?&#8221;. &#8220;Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami&#8221;.</p>
<p>Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.</p>
<p>Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.</p>
<p>Dunia tiba-tiba gelap semua&#8230;.. <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_cry.gif' alt=':-((' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/cleopatra.png" alt="Cleopatra" style="float:left;margin-right:7px" border="0" />Sumber : Buku <b>&#8220;Pudarnya Pesona Cleopatra&#8221;</b> (Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa)<br />
Karya: Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel best seller Ayat-ayat Cinta)</p>
<p>***</p>
<div class="alert">Penyesalan tiada guna. Semoga semakin menggugah jiwa untuk mencintai pasangan hidup sepenuh hati segenap jiwa. <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_flower.gif' alt=':flower:' class='wp-smiley' />  </div>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta Laki-laki Biasa</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/" rel="bookmark" class="crp_title">Rindu Itu Pun Tertebus</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/08/pudarnya-cahaya-cleopatra-raihana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi keluarga Samara</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jun 2006 03:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama tidak memasukkan artikel pada halaman &#8220;About Marriage&#8221; . Berikut ini sekedar tambahan artikel yang dirasa cukup lama beredar, sekedar di dokumentasikan mengumpulkan nasihat yang terserak. Bagi Mereka yang Mencari Mawaddah, Sakinah dan Rahmah dalam Keluarga Bismillahhirrahmaanirrahiim. Dengan kerendahan hati, mari kita simak pesan-pesan Al-Qur&#8217;an tentang tujuan kehidupan yang sebenarnya. Nasehat ini untuk semuanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama tidak memasukkan artikel pada <a href="http://blog.iqbalir.com/tentang-pernikahan/">halaman &#8220;About Marriage&#8221;</a> <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />   . Berikut ini sekedar tambahan artikel yang dirasa cukup lama beredar, sekedar di dokumentasikan mengumpulkan nasihat yang terserak. </p>
<p><strong>Bagi Mereka yang Mencari Mawaddah, Sakinah dan Rahmah dalam Keluarga</strong></p>
<p>Bismillahhirrahmaanirrahiim. Dengan kerendahan hati, mari kita simak pesan-pesan Al-Qur&#8217;an tentang tujuan kehidupan yang sebenarnya. Nasehat ini untuk semuanya. Untuk mereka yang sudah memiliki arah untuk mereka yang belum memiliki arah, dan untuk mereka yang tidak memiliki arah. Nasehat ini untuk semuanya. Semua yang menginginkan kebaikan.</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Nikah itu ibadah. Nikah itu suci. Ingat itu. Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan bisa karena keturunan, dan bisa karena agama. Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan&#8230; karena semua itu akan menyebabkan celaka. Jadikanlah agama sebagai alasan&#8230; Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk oleh karena cinta. Namun&#8230; jika cinta engkau jadikan sebagai landasan, maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur. Jadikanlah &#8220;ALLAH&#8221; sebagai landasan niscaya engkau akan selamat. Tidak saja dunia, tapi juga akherat. Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan&#8230; Niscaya mawaddah, sakinah, dan rahmah akan tercapai.</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Jangan engkau menginginkan untuk menjadi raja dalam &#8216;istanamu&#8217;. Disambut istri ketika datang, dan dilayani segala kebutuhan. Jika ini kau lakukan &#8216;istana&#8217;mu tidak akan langgeng. Lihatlah manusia ter-agung Muhammad SAW. Tidak marah ketika harus tidur di depan pintu beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya. Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar, menjahit baju-nya yang robek&#8230;</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam &#8216;istana&#8217;mu. Disayang, dimanja, dan dilayani suami. Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu. Jika itu engkau lakukan, &#8216;istana&#8217;mu akan jadi neraka bagimu.</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu. Jangan engkau terlalu menuruti istrimu. Jika itu kau lakukan, engkau akan celaka. Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih, tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah. Lihatlah bagaimana Allah menegur Nabi-mu tatkala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan sang istri. Tegaslah terhadap istrimu. Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah. Jangan biarkan dia dengan kehendaknya. Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth&#8230; Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang&#8230;</p>
<p>Istrimu bisa menjadi musuhmu. Didiklah istrimu. Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas sang suami, Ibrahim. Jadikanlah dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya. Jadikanlah dia sebagai Khadijah wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad SAW menerima tugas risalah. Istrimu adalah tanggung jawabmu. Jangan kau larang mereka taat kepada Allah. Biarkan mereka menjadi wanita shalihah. Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam. Jangan kau belenggu mereka dengan EGO-mu&#8230;</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Jika engkau menjadi istri, jangan kau paksa suamimu menurutimu. Jangan paksa suamimu melanggar Allah. Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar yang setia terhadap tugas suami. Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam yang bisa menjaga kehormatannya. Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah yang bisa mendampingi suami menjalankan misi. Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu. Jangan kau usik dengan tangismu. Jika itu kau lakukan, kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka&#8230; jangan&#8230;</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Jika engkau menjadi Bapak, jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim. Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim. Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad SAW.</p>
<p>Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah. Ajak mereka taat kepada Allah. Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti, jadikan dia sebagai Ismail yang taat. Jangan kau jadikan mereka sebagai Kan&#8217;an yang durhaka. Mohonlah kepada Allah. Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih, anak yang bisa membawa kebahagiaan.</p>
<p>Saudaraku&#8230;</p>
<p>Jika engkau menjadi ibu, jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh. Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu. Jadikanlah mereka mujahid, jadikanlah mereka tentara-tentara Allah. Jangan biarkan mereka bermanja-manja, jangan biarkan mereka bermalas-malas. Siapkanlah mereka untuk menjadi hamba yang shalih, hamba yang siap menegakkan Risalah Islam&#8230; Amin.<br />
Wassalam</p>
<p>Source : Unknown</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/" rel="bookmark" class="crp_title">Nasihat untuk calon Suami-Istri</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/" rel="bookmark" class="crp_title">Doa bagi yang sedang bimbang</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/" rel="bookmark" class="crp_title">Yang menjadi dambaan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Risalah Nikah</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit tentang cinta</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 May 2006 08:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bond with love]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[&#34;When two people love each other, nothing is more imperative and delightful than giving.&#34; Guy de Maupassant Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat &#8212; Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&quot;When two people love each other, nothing is more imperative and delightful than giving.&quot; Guy de Maupassant </p></blockquote>
<p><b>Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat</b> &#8212; Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat. Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal. Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan jawab bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan.</p>
<p><span id="more-91"></span></p>
<p><b>Cinta membutuhkan proses</b> &#8212; Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. &quot;Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks,&quot; katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi dalam fenomena &quot;cinta pada pandangan pertama&quot; adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus &quot;cinta pada pandangan pertama&quot;, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta. Mereka mencintai pasangan sebagai persolinatas yang utuh.</p>
<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/flo.jpg" alt="Flower" style="float:left;margin-right:7px" border="0" /><b>Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi*</b> &#8212; Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.</p>
<p><b>Cinta itu konstruktif*</b> &#8212; Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan. </p>
<p><b>Cinta tidak melenyapkan semua masalah*</b> &#8212; Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit ( panacea ). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.</p>
<p><b>Cinta cenderung konstan*</b> &#8212; Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.</p>
<p><b>Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik*</b> &#8212; Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya.Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.</p>
<p><b>Cinta tidak buta, tapi menerima*</b> &#8212; Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.</p>
<p><b>Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan*</b> &#8212; Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan. </p>
<p><b>Cinta berani melakukan hal menyakitkan (demi yang dicintai)*</b> &#8212; Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata &quot;tidak&quot; saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu. Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan. </p>
<p>Source: Unknown<br />
Kiriman seorang teman yang layak ditayangkan untuk halaman <a href="http://blog.iqbalir.com/tentang-pernikahan/">&#8220;Tentang Pernikahan&#8221;</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat-fillah/" rel="bookmark" class="crp_title">Refleksi untuk Ikhwan wa Akhwat fillah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serasa dan Serasi</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/04/serasa-dan-serasi/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/04/serasa-dan-serasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2006 07:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/04/serasa-dan-serasi/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama tidak memasukkan artikel pada halaman &#8220;About Marriage&#8221; . Berikut ini sekedar tambahan artikel dari majalah &#8220;Tarbawi&#8221;. Serasa dan Serasi Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama tidak memasukkan artikel pada <a href="http://blog.iqbalir.com/tentang-pernikahan/">halaman &#8220;About Marriage&#8221;</a> <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />   . Berikut ini sekedar tambahan artikel dari majalah &#8220;Tarbawi&#8221;. </p>
<p><center><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="3"><strong>Serasa dan Serasi</strong></font></center></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanent bila kita ingin membangun sebuah hubungan jangka panjang. Tapi seperti berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik, maka mereka tidak menghargainya.Atau mungkin mereka mengenalnya, tapi terasa terlalu jauh untuk dijangkau, seperti mimpi memetik bintang atau mimpi memeluk gunung. Atau mungkin ia mengenalnya, tapi terasa terlalu mewah untuk sebuah kelas sosial, atau kurang serasi untuk sebuah suasana.</p>
<p>Kira-kira itulah yang membuat Aisyah &ndash; Radhiyallahu`anha &ndash; sekali ini benar-benar gundah. Orang terbaik dimuka bumi ketika itu, Amirul Mu&#8217;minin, Khalifah kedua, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Ummu Kaltsum. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran beliau kecuali bahwa Abu Bakar, sang Ayah, yang juga Khalifah Pertama, telah mendidik puteri-puterinya dengan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Aisyah karena itu, percaya bahwa adiknya tidak akan kuat beradaptasi dengan pembawaan Umar yang kuat dan kasar. Bahkan ketika Abu Bakar meminta pendapat Abdurrahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, beliau menjawab : &#8220;Dia yang paling layak, kecuali bahwa dia kasar&#8221;.</font></p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Dengan sedikit bersiasat, Aisyah meminta bantuan Amru bin `Ash untuk &#8220;menggiring&#8221; Umar agar menikahi Ummu Kaltsum yang lain, yaitu Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib yang ketika itu berumur 11 tahun. Karena garis jiwa, akal dan ruh mereka lebih setara dan karena itu mereka akan tampak lebih serasi karena bisa serasa. Berbekal pengalaman sebagai diplomat ulung, pesan itu memang sampai kepada Umar. Akhirnya Umar menikahi Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Kesetaraan dan keserasian. Itu yang lebih menentukan daripada sekedar pesona <i>an sich</i>. Ibnu Hazem menjelaskan, kalau ada lelaki tampan menikahi perempuan jelek, atau sebaliknya, itu bukan sebuah keajaiban. Yang ajaib adalah kalau seorang lelaki meninggalkan kekasih yang cantik dan memilih kekasih baru yang jelek. &#8220;Saya tidak bisa memahaminya. Tapi memang tidak harus dijelaskan&#8221;.</p>
<p>Ibnu Hazem, imam terbesar pada mazhab Zhahiryah, yang menulis puluhan buku legendaries dalam fiqh, hadist, sejarah, sastra, puisi dan lainnya, lelaki tampan yang lembut dan seorang pecinta sejati, putera seorang menteri di Cordova, suatu ketika harus menelan luka: cintanya ditolak oleh seorang perempuan yang justru bekerja dirumahnya. Ibnu Hazem bahkan mengejar-ngejarnya dan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi tetap saja ditolak. &#8220;Saya teringat, kadang-kadang saya masuk melalui pintu rumahku dimana gadis itu ada disana, untuk berdekat-dekat dengannya. Tapi begitu ia tahu aku mendekat ia segera menjauh dengan sopan dan tenang. Jika ia memilih pintu lain, maka aku akan kesana juga tapi dia akan pindah lagi ketempat lain. Dia tahu aku sangat mencintainya walaupun perempuan-perempuan tidak tahu hal itu karena jumlah mereka sangat banyak di istanaku&#8221;.</p>
<p>Begitulah lelaki yang memiliki semua pesona itu ditolak. Bahkan ketika suatu saat Ibnu Hazem menyaksikan gadis itu menyanyi di istananya, Ibnu Hazem benar-benar terpesona dan makin mencintainya. Tapi ia hanya berkata dengan lirih: &#8220;Oh, nanyian itu seakan turun kehatiku, dan hari itu tidak akan pernah kulupakan sampai hari ketika berpisah dengan dunia&#8221;. Oh, lelaki baik yang terluka oleh hukuman keserasaan dan keserasian.</p>
<p>Oleh: Anis Matta, Lc<br />
<br />Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 129 Th.7/Shafar 1427 H/30 Maret 2006 M.</font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/" rel="bookmark" class="crp_title">Rindu Itu Pun Tertebus</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/hidup-dengan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup dengan pilihan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/04/serasa-dan-serasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta di Atas Cinta</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2006 07:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Tambahan artikel pada halaman &#8220;About Marriage&#8221;. Ehmm&#8230; sepertinya belakangan ini lagi pengen post meteri2 seperti ini nih&#8230; Cinta di Atas Cinta Hudzaifah.org &#8211; Perempuan oh perempuan! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tambahan artikel pada <a href="http://blog.iqbalir.com/tentang-pernikahan/">halaman &#8220;About Marriage&#8221;</a>. Ehmm&#8230; sepertinya belakangan ini lagi pengen post meteri2 seperti ini nih&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><center><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="3"><strong>Cinta di Atas Cinta</strong></font></center></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2"><a href="http://Hudzaifah.org">Hudzaifah.org</a> &#8211; Perempuan oh perempuan! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan! </p>
<p>Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya. </font></p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi-nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri. </p>
<p>Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.</p>
<p>Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah <b>yang membawanya sebagai hadiah</b>. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya. </p>
<p>Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. </p>
<p>Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar. </p>
<p>Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada <em>cinta di atas cinta!</em> Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. </p>
<p>Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, <em>Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?</em> Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, <em>Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!</em><br />
[] </p>
<p>Penulis : M Anis Matta Lc. <br />
Sumber : Tarbawi 55/4/Muharram 1424H <br />
<a href="http://www.hudzaifah.org/Article313.phtml" target="_blank">http://www.hudzaifah.org /Article313.phtml</a></font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/04/serasa-dan-serasi/" rel="bookmark" class="crp_title">Serasa dan Serasi</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/03/ketika-akhirnya/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika akhirnya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/" rel="bookmark" class="crp_title">Rindu Itu Pun Tertebus</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rindu Itu Pun Tertebus</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2006 14:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/</guid>
		<description><![CDATA[Tambahan artikel pada halaman &#8220;About Marriage&#8221;. Artikel lama dikenang kembali. Rindu Itu Pun Tertebus Ada seorang pemuda gagah yang turut berjihad bersama pasukan Islam. Selama perjalanan, pemuda itu tetap berpuasa di siang hari dan tak lepas dari sholat di malam hari. Bahkan dia juga melayani kebutuhan pasukan dan ikut berjaga-jaga bila semua tidur. Hingga sampailah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tambahan artikel pada <a href="http://blog.iqbalir.com/tentang-pernikahan/">halaman &#8220;About Marriage&#8221;</a>. Artikel lama dikenang kembali.</p>
<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/Roses_frame2_brown.jpg" alt="" style="float:left;margin-right:5px" /><center><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="3"><strong>Rindu Itu Pun Tertebus</strong></font></center></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Ada seorang pemuda gagah yang turut berjihad bersama pasukan Islam. Selama perjalanan, pemuda itu tetap berpuasa di siang hari dan tak lepas dari sholat di malam hari. Bahkan dia juga melayani kebutuhan pasukan dan ikut berjaga-jaga bila semua tidur. Hingga sampailah pasukan itu sampai di perbatasan Romawi.</p>
<p>Menjelang pertempuran, pasukan Islam beristirahat di suatu tempat. Karena lelah pemuda itu jatuh tertidur. Namun tiba-tiba ia terjaga dan berseru lirih, <em>&#8220;Ah, alangkah rindunya aku pada Ainul Mardhiyah&#8221;</em>. Orang-orang yang mendengarnya terheran-heran dan mengira pemuda itu mengingau. <em>&#8220;Siapakah Ainul Mardhiyah itu ?&#8221;</em> tanya Abdul Wahid, seorang ulama pejuang, yang mengenal pemuda itu.</font></p>
<p><span id="more-66"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Pemuda itu kemudian bertutur : Saya tertidur dan bermimpi bertemu seseorang. Orang itu berkata,<em>&#8220;Pergilah kepada Ainul Mardhiyah&#8221;</em>. Lalu saya dibawa kesebuah taman yang dikelilingi sungai. Di tepi sunga itu banyak gadis-gadis yang lengkap perhiasannya. Dan ketika melihatku, tiba-tiba mereka berkata, <em>&#8220;Itulah suami Ainul Mardhiyah&#8221;</em>.</p>
<p>Saya memberi salam dan bertanya, <em>&ldquo;Adakah di antara kalian bernama Ainul Mardhiyah ?&rdquo;</em>. <em>&#8220;Kami hanya pelayan-pelayannya. Kalau Tuan ingin bertemu, silakan jalan terus menyusuri sungai ini&#8221;</em>. Akhirnya aku menyusuri sungai. Ternyata itu adalah sungai susu yang tidak berubah rasa dan warnanya. Hingga sampailah aku di tempat yang banyak berkerumun gadis-gadis cantik dan lengkap perhiasannya. <em>&#8220;Inilah suami Ainul Mardhiyah&#8221;</em>, kata gadis-gadis itu berbisik-bisik.</p>
<p>Tapi ketika aku bertanya yang mana Ainul Mardhiyah, aku mendapat jawaban yang sama. Kali ini yang kutelusuri adalah sungai madu sampai ketemui lagi kerumunan gadis-gadis. Mereka ternyata lebih cantik hingga dapat melupakan kecantikan gadis-gadis sebelumnya. Lalu aku ditunjukkan sebuah kemah yang tersusun dari permata yang indah. Aku pun segera ke sana.</p>
<p>Sungguh aku terkagum-kagum menyaksikan kecantikan gadis yang ada di kemah itu. Aku menyangka inilah Ainul Mardhiyah. Aku merasa sudah cukup puas bila gadis itu yang menjadi pendampingku. Tapi lagi-lagi dugaanku salah. Gadis itu malah memanggil seseorang yang ada di dalam kamar, <em>&#8220;Hai Ainul Mardhiyah, inilah suamimu telah datang&#8221;</em>.</p>
<p>Bergegas aku masuk ke kamar itu. Kulihat seorang gadis sedang duduk di atas tempat tidur emas, yang bertaburkan permata, berlian, dan yaqut. Aku hampir-hampir tidak dapat menahan diri. <em>&#8220;Marhaban wahai kekasihku, sudah hampir tiba kedatanganmu&#8221;</em>, kata gadis itu dengan senyum paling manis dan keteduhan matanya yang belum pernah kulihat. Sungguh, ingin sekali aku memeluknya. <em>&#8220;Sabar dulu, engkau belum sah menjadi suamiku. Sebab engkau masih hidup&#8221;</em>, kata Ainul Mardhiyah. <em>&#8220;Tetapi insya Allah, engkau akan berbuka di sini&#8221;</em>.</p>
<p>Usai menceritakan mimpinya, pemuda itu berlari menyongsong musuh. Sembilan orang tentara Romawi di ujung pedangnya. Pada hitungan kesepuluh, dia tersenyum sepenuh bibirnya ketika syahid menjemputnya. Rindu itu pun tertebus.</p>
<p>(Oase majalah sabili no.15,10/02/1999)<br />
(posted by hery haldun )<br />
&ndash;<br />
diambil dari <a href="www.percikan-iman.com" target="_blank">www.percikan-iman.com</a></font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/03/ketika-akhirnya/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika akhirnya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/04/serasa-dan-serasi/" rel="bookmark" class="crp_title">Serasa dan Serasi</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/dapatkah-kau-tahan/" rel="bookmark" class="crp_title">Dapatkah kau tahan ?</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa bagi yang sedang bimbang</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2006 02:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah&#8230; Seandainya telah Engkau catatkan dia akan mejadi teman menapaki hidup Satukanlah hatinya dengan hatiku Titipkanlah kebahagiaan diantara kami Agar kemesraan itu abadi Dan ya Allah&#8230; ya Tuhanku yang Maha Mengasihi Seiringkanlah kami melayari hidup ini Ke tepian yang sejahtera dan abadi Tetapi ya Allah&#8230; Seandainya telah Engkau takdirkan&#8230; &#8230;Dia bukan milikku Bawalah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/pastelroses20.gif" alt="Bunga" /></center></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Ya Allah&#8230; <br />
Seandainya telah Engkau catatkan <br />
dia akan mejadi teman menapaki hidup <br />
Satukanlah hatinya dengan hatiku <br />
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami <br />
Agar kemesraan itu abadi <br />
Dan ya Allah&#8230; ya Tuhanku yang Maha Mengasihi <br />
Seiringkanlah kami melayari hidup ini <br />
Ke tepian yang sejahtera dan abadi</font></p>
<p><span id="more-58"></span></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Tetapi ya Allah&#8230; <br />
Seandainya telah Engkau takdirkan&#8230; <br />
&#8230;Dia bukan milikku <br />
Bawalah ia jauh dari pandanganku <br />
Luputkanlah ia dari ingatanku <br />
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Dan peliharalah aku dari kekecewaan <br />
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti&#8230; <br />
Berikanlah aku kekuatan <br />
Melontar bayangannya jauh ke dada langit <br />
Hilang bersama senja nan merah <br />
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Dan ya Allah yang tercinta&#8230; <br />
Gantikanlah yang telah hilang <br />
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah <br />
Walaupun tidak sama dengan dirinya&#8230;.</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Ya Allah ya Tuhanku&#8230; <br />
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu <br />
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan <br />
Adalah yang terbaik buatku <br />
Karena Engkau Maha Mengetahui <br />
Segala yang terbaik buat hambaMu ini</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Ya Allah&#8230; <br />
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku <br />
Di dunia dan di akhirat <br />
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- <br />
Jangan Engkau biarkan aku sendirian <br />
Di dunia ini maupun di akhirat <br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran <br />
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman <br />
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup <br />
Ke jalan yang Engkau ridhai <br />
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh</font></p>
<p align="center"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Amin&#8230; Ya Rabbal &#8216;Alamin</font></p>
<p align="left"><font face="Monotype Corsiva" size="3" color="#003399">Diambil dari: <a href="http://dudung.net/index.php?naon=depan&#038;action=detail&#038;id=133&#038;cat=2&#038;pilihan=2&#038;keyword=Seandainya%20telah%20Engkau%20catatkan" target="_blank">dudung.net</a></font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/dapatkah-kau-tahan/" rel="bookmark" class="crp_title">Dapatkah kau tahan ?</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/hidup-dengan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup dengan pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/03/ketika-akhirnya/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika akhirnya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/bersimpuh-dalam-doa/" rel="bookmark" class="crp_title">Bersimpuh Dalam Doa</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/selamat-atas-kemenangan-hamas/" rel="bookmark" class="crp_title">Selamat atas kemenangan Hamas</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/selamat-hari-raya/" rel="bookmark" class="crp_title">Selamat Hari Raya</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Itu Keputusan</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2006 10:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, &#34;Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini. &#34; Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/love.jpg" alt="" style="float:left;margin-right:10px" /><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, &quot;Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini. <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  &quot; Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.</font></p>
<p><span id="more-57"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Sebab cinta adalah kata lain dari memberi&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />
sebab memberi adalah pekerjaan&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />
sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />
maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, <i>&quot;Aku mencintaimu.&quot;</i> <b>Kepada siapa pun!</b> Sebab itu adalah keputusan besar.</p>
<p>Ada taruhan kepribadian disitu.<i>&quot;Aku mencintaimu,&quot;</i> adalah ungkapan lain dari, <i>&quot;Aku ingin memberimu sesuatu, aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia&#8230; aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin&#8230; aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu&#8230;&quot;</i> Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. <i>&quot;Aku mencintaimu&quot;</i> merupakan deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: <u>memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.</u></p>
<p>Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi sulit. Disitu konsistensi teruji, disitu juga integritas terbukti. <i>Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.</i> Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain.</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Oleh : Ust. Anis Matta</font></p>
<hr />
<blockquote><p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Cinta menurut definisi Ibnu Qayyim al-Jauziyah <i>&#8220;Tidak ada cinta sebelum ijab kabul diucapkan.&#8221;</i></p>
<p>Cinta antara jiwa dalam hadist Rasulullah, <i>&#8220;Jiwa-jiwa itu bagaikan tentara-tentara berbaris rapi; Jika saling mengetahui (mempercayai) mereka akan bersatu, dan jika saling mengingkari, mereka akan berpisah.&#8221; (HR. Bukhari)</i></font></p>
</blockquote>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/03/ketika-akhirnya/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika akhirnya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/dapatkah-kau-tahan/" rel="bookmark" class="crp_title">Dapatkah kau tahan ?</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/selamat-atas-kemenangan-hamas/" rel="bookmark" class="crp_title">Selamat atas kemenangan Hamas</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/hidup-dengan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup dengan pilihan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat untuk calon Suami-Istri</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2006 05:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/</guid>
		<description><![CDATA[Nasihat ini mengajarkan pada calon suami-istri untuk bisa mempelajari kenyataan hidup bahwa kebahagiaan bahtera rumah tangga hanya bisa digapai dengan pergaulan yang baik dan lemah lembut antar keduanya. Pergaulan yang baik akan mampu menghantarkan pasangan suami intri kepada masa &#8211; masa bahagia dan kehidupan yang menyenangkan. Nasihat Untuk Calon Istri Jagalah kemuliaanmu. Jangan pernah kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasihat ini mengajarkan pada calon suami-istri untuk bisa mempelajari kenyataan hidup bahwa kebahagiaan bahtera rumah tangga hanya bisa digapai dengan pergaulan yang baik dan lemah lembut antar keduanya. Pergaulan yang baik akan mampu menghantarkan pasangan suami intri kepada masa &ndash; masa bahagia dan kehidupan yang menyenangkan. </p>
<p><strong>Nasihat Untuk Calon Istri</strong></p>
<p>Jagalah kemuliaanmu. Jangan pernah kamu menyakiti ayah dan ibumu. Bila kau menikah, maka hormatilah suamimu dan hargailah ucapannya. Jaga kehormatan suamimu karena engkau adalah laksana pakaian baginya yang mampu menampakkan kebaikannya dan menutupi kekurangannya. Pergunakanlah waktu kedatangannya dari pekerjaannya. Jadilah kau orang yang menyenangkannya dengan senyum dan kasih sayangmu padanya. Jangan pernah kau durhaka pada suami dalam keadaan apapun, khususnya di saat ia sedang dalam kondisi sulit. Ingatlah, wanita dikatakan sebagai golongan yang paling mudah mendapatkan surga sekaligus paling mudah mendapatkan bagian neraka. Mudah baginya memasuki surga karena dia hanya perlu berbuat kebaikan dan taat kepada suaminya dan mudah baginya mendapat balasan neraka apabila ia mendurhakai dan menghina suaminya sendiri. Oleh karenanya, peluang inilah yang harus kau rebut dengan taat dan menghargai suamimu. Keras kepala dari kedua belah pihak hanya bisa diselesaikan dengan pemutusan hubungan suami isteri dan itu sangat tidak baik untukmu. Edifikasikan keluarganya dengan semua yang baik. Hormatilah ibunya dan ketahuilah bahwa ia tetap menjadi ibunya walau ia kini telah menjadi suamimu. Allah telah mewajibkan suamimu untuk tetap taat kepada ibunya dan mencintainya dengan tulus sebagaimana kelak anak keturunanmu pun diwajibkan hal yang sama terhadapmu. Hormati pula ayahnya dan jadikanlah ia laksana ayahmu.</p>
<p><span id="more-56"></span></p>
<p>Anak &ndash; anakmu adalah bagian dari tubuh dan darahmu. Jadikanlah prioritas utamamu untuk dapat merawat mereka dengan penuh kasih. Jadikanlah pula mereka generasi yang bahagia dan mencintai negerinya dan keluarganya. Engkau adalah ratu di rumahmu dan kau mengendalikan kerajaan kecil di rumahmu. Karenanya siapkanlah kemampuan hingga kau mampu menanggung amanat tersebut dan kaupun kelak mendapatkan keridhoan Ilahi. </p>
<p>
<strong>Nasihat Untuk Calon Suami</strong></p>
<p>Jadilah kau raja di rumahmu. Cintailah isterimu dengan tulus dan jadikanlah ia sebagai ratumu. Buat ia bangga menjadi permaisuri di kerajaanmu dengan berlandaskan cinta kasih dan ketaatan kepada Allah SWT. Berikanlah dirinya makanan yang cukup dan persembahkan untuknya beragam jenis pakaian. Belikan untuknya minyak wangi karena wanita menyukai minyak wangi. Buatlah dirinya bahagia selama kau hidup dan berilah nafkah yang baik dan halal untuk isteri dan anak &ndash; anakmu. </p>
<p>Sesungguhnya seorang istri laksana cermin bagi suaminya dan menjadi bukti akan apa yang diusahakannya dalam mencapai kebahagiaan ataupun kesengsaraan. Engkau adalah laksana pakaian baginya yang mampu menampakkan kecantikan diri dan pribadinya serta menutupi setiap kekurangannya. Jangan terlalu keras dalam rumah tanggamu karena isteri diciptakan dari tulang rusukmu, bagian dari dirimu. Tulang rusuk berada di tempat yang terlindung sehingga isterimu pun ada untuk kau lindungi. Sebagaimana tulang rusuk yang bengkok, berwasiatlah yang baik terhadap isterimu karena jika engkau keras dalam meluruskan maka ia akan patah dan jika engkau biarkan maka selamanya ia akan bengkok. </p>
<p>Engkau adalah imam dan pemimpin dalam keluarga sehingga berilah contoh yang baik. Sikap lemah lembut akan mampu menggetarkan hati wanita disaat ia melakukan suatu kesalahan ataupun saat ia melakukan satu perbuatan buruk. Berikanlah apapun yang diinginkannya selama kau mampu mewujudkannya. Berikan pula padanya kesenangannya hingga ia pun akan menyenangkanmu dan membuatmu bahagia. Bila tidak demikian maka hidupmu akan hancur berantakan. Dekatkan dirimu kepadanya dan panggillah dirinya dengan panggilan yang menyenangkan. Ingatlah, sebaik apapun istri yang Allah kirimkan untukmu, kalau pikiranmu sibuk membayangkan tentang kekurangannya maka engkau akan dapati kekurangan dan keburukan sebanyak yang engkau sanggup untuk mencatatnya. Akan tetapi jika engkau menyibukkan diri melihat kelebihan dan kebaikannya, maka engkau akan dapati kebaikan sebanyak yang ada pada dirinya dan itu akan membahagiakan hidupmu. Oleh karena itu, hormatilah dirinya dan tunjukkanlah rasa kasih sayangmu yang konsisten.</p>
<p>Disamping itu, sayangi dan hormati orang tuanya sebagaimana orang tuamu sendiri. Kemudian jangan sekali &ndash; kali membuat ibumu marah kepadamu karena rintihannya akan langsung didengarkan oleh Allah dan kaupun akan mendapatkan hukuman &ndash; Nya.</p>
<p>Source : Unknown.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/" rel="bookmark" class="crp_title">Menjadi keluarga Samara</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Risalah Nikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/" rel="bookmark" class="crp_title">Yang menjadi dambaan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/" rel="bookmark" class="crp_title">Doa bagi yang sedang bimbang</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Jalan Dakwah Aku Menikah</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2005 03:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/</guid>
		<description><![CDATA[Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ekuator.com/katalog.see.p?see=katalogsee&#038;id=6065" target="_blank"><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/dijalan_dakwah.gif" alt="" style="float:left;margin-right:10px" /></a></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#003399" size="2">Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya. </p>
<p>Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga. </font></p>
<p><span id="more-55"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#003399" size="2"><br />
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda? </p>
<p>Ternyata anda memilih si A, karena ia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, Pandai, dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra : </p>
<p><i>&#8220;Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</i></p>
<p>Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra, </p>
<p><i>&#8220;Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.&#8221;</i> kata Jabir <i>&#8220;benar katamu&#8221;</i> jawab Nabi saw. </p>
<p>Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan. </p>
<p>Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ? </p>
<p>Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? mereka, wanita tadi adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka? </p>
<p>Ah, mengapa pertanyaannya &#8220;harus&#8221; ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ? kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas ini. Jodoh ditangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian? </p>
<p>Kendatipun nabi saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda. </p>
<p>Kendatipun nabi saw. menyatakan agar Jabir beristeri gadis, pada kenytaannya Jabir telah menikahi janda. </p>
<p>Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah. </p>
<p>Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa&#8217;ad bin Rabi saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurahman bin Auf. &#8220;Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang diantara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai maka nikahilah dia&#8221; (riwayat Bukhari)</p>
<p>Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar. </p>
<p>Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia? Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya ? dalam konteks pernikahan ? oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, &#8220;saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah&#8221;. </p>
<p>Atau kita telah sepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut: </p>
<p><i>&#8220;Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</i></p>
<p>Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-ngiris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca, dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.</p>
<p>Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim. </p>
<p>Sumber : Buku &#8220;<a href="http://www.ekuator.com/katalog.see.p?see=katalogsee&#038;id=6065" target="_blank">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a>&#8220;.<br />
Oleh : Cahyadi Takariawan.</font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Jangan Takut Bilang Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Muslimah, Antara Siap Dan Ingin Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/" rel="bookmark" class="crp_title">Nasihat untuk calon Suami-Istri</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/hidup-dengan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup dengan pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maafkan Karena Aku Bukan Pangeran</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/maafkan-karena-aku-bukan-pangeran/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/maafkan-karena-aku-bukan-pangeran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2005 01:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/maafkan-karena-aku-bukan-pangeran/</guid>
		<description><![CDATA[Usianya masih jauh dari setengah abad, namun tubuhnya kian tampak mengisut. Dahi yang kadang berkerut, dan kantung kehitaman di bawah mata membuat cahaya wajahnya meredup. Jelas, kecantikan masa lalunya perlahan pudar diranggas keriput. Keringat masih menetes dan membasahi daster berwarna pudar yang dikenakannya, namun ia terlihat kembali sibuk membersihkan peralatan dapur. Sebentar kemudian beralih mencuci [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Usianya masih jauh dari setengah abad, namun tubuhnya kian tampak mengisut. Dahi yang kadang berkerut, dan kantung kehitaman di bawah mata membuat cahaya wajahnya meredup. Jelas, kecantikan masa lalunya perlahan pudar diranggas keriput. </p>
<p>Keringat masih menetes dan membasahi daster berwarna pudar yang dikenakannya, namun ia terlihat kembali sibuk membersihkan peralatan dapur. Sebentar kemudian beralih mencuci baju, membilas dan menjemur. Bagaikan manusia perkasa, ia seolah-olah selalu bertenaga mengurus semuanya. Tak kenal lelah, hingga jarum jam berdentang saat tengah malam tiba. </p>
<p>Sekejap akupun merenung&#8230;</p>
<p><span id="more-49"></span></p>
<p>Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan senyum ketika pertama kali bertemu. Tak sepatah kata terucap, karena ayah bunda telah mengerti makna diam bagi seorang dara yang! dilamar jejaka. Sepekan menjelang, kitapun disatukan dalam mitsaqan ghalizha. Sebuah ikatan pernikahan yang begitu sederhana di mata manusia, namun begitu besar keutamaannya di hadapan Sang Pemilik Cinta. </p>
<p>Saat itu, hanya seperangkat mukena dan mushaf sebagai mahar. Tampak matanya berkaca-kaca, rasa haru menyeruak dari lubuk hatinya. Terlebih saat kulantunkan untaian ayat tentang tuntunan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. </p>
<p>Tak ada intan permata atau harta berlimpah ruah. Tak ada pula kereta kencana bertahta emas yang dihela banyak kuda. Istana yang ditempati juga hanyalah sebentuk rumah kontrakan yang sangat sederhana. Dihiasi beberapa helai kain batik usang, cukuplah sebagai tirai sutra penutup jendela. Bantal kapuk pun bagaikan berisi bulu domba untuk kita senantiasa bercengkrama. </p>
<p>Seiring waktu yang selalu berganti siang dan malam, perlahan raganya tak lagi indah dan segar laksana kuntum bunga yang sedang merekah. Lentik jari-jemari telah menjadi kapalan, semerbak harum mewangi lambat laun berganti aroma aneka masakan. </p>
<p>Aku semakin masyuk merenung dan menerawang jauh&#8230; </p>
<p>Teringat kisah Asma&#8217;, putri Abu Bakar yang tak pernah sungkan menyabit rumput, menanam benih di kebun hingga memelihara kuda sang kekanda tercinta. Bahkan seorang Fatimah harus rela lecet telapak tangannya karena letih menumbuk gandum dan mengerjakan urusan rumah tangga. Tak ada dayang-dayang cantik nan jelita sebagai pelayan atau khadimah, padahal mereka adalah putri-putri seorang khalifah dan Rasulullah. </p>
<p>Aaah&#8230; <br />
Kudengar dengkuran halus, tapi cukup mengembalikan jiwaku yang tadi sempat melayang jauh. </p>
<p>Tentu, ia yang terbaring dengan raut wajah letih itu bukan Asma&#8217; atau Fatimah. Namun, keikhlasan dan kesabarannya semoga menuai pahala seperti layaknya mereka. </p>
<p>Ia pun bukan Cinderella atau istri seorang pangeran tampan nan rupawan, putra maharaja yang memiliki istana megah dan indah. Seorang pewaris sebuah kerajaan yang dengan kekayaannya sanggup menyediakan dayang-dayang untuk senantiasa melayani atau meringankan beban pekerjaan. </p>
<p>Ia hanyalah belahan jiwa dari seorang laki-laki biasa, yang harus hidup membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi keluarganya. </p>
<p>Semakin kutatap wajahnya dengan penuh luahan rasa cinta dan kasih sayang. Lalu akupun segera bangkit dari tempat duduk, menghampirinya yang sedang pulas tertidur seraya berbisik penuh kemesraan, &#8220;Maafkan, karena aku bukan pangeran.&#8221; </p>
<p>
Source: buku &#8220;Sapa Cinta Dari Negeri Sakura&#8221;<br />
Penulis : <a href="http://www.abuaufa.net/" target="_blank" title="Abu Aufa">Abu Aufa</a><br />
Penerbit : Pena Pundi Aksara-Jakarta.<br />
<font size="small"><i>Waahh bukunya baru dibaca separuhnya, blm hatam nih&#8230; hehehe.. <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <br />
Mudah2an menjadi penambah semangat yaa, buat yg sudah dan yg belum&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </i></font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/" rel="bookmark" class="crp_title">Rindu Itu Pun Tertebus</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta Laki-laki Biasa</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Jangan Takut Bilang Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Risalah Nikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/maafkan-karena-aku-bukan-pangeran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Takut Bilang Cinta</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2005 02:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang &#8216;kadung&#8217; dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/geulis.jpg" alt="" style="float:left;margin-right:10px" /><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang &#8216;kadung&#8217; dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.</font></p>
<p><span id="more-46"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#000099" size="2">Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar &#8220;terlihat&#8221;, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema &#8220;lelaki&#8221; pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.</p>
<p>Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan &#8216;caper&#8217;.</p>
<p>Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang &#8216;sedikit&#8217; lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.</p>
<p>Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.</p>
<p>Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.</p>
<p>Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah &#8220;seberapa pantas dirinya&#8221; saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.</p>
<p>Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a&#8217;lam bishshowaab (Bayu Gautama)<br />
</font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Muslimah, Antara Siap Dan Ingin Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Risalah Nikah</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2005 07:22:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini ditujukan untuk teman2ku yang ingin menggenapkan 1/2 dien-nya. Semoga apa yang diniatkan mendapatkan keberkahan dari 4JJ1 SWT. Amiieennn&#8230; Risalah Nikah Karya : Milis Muslim-its Istri yang paling baik adalah yang membahagiakanmu, saat kamu memandangnya, yang mematuhimu kala kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan dirimu bila kamu tidak ada disisinya. Setelah Rasulullah SAW [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini ditujukan untuk teman2ku yang ingin menggenapkan 1/2 dien-nya. Semoga apa yang diniatkan mendapatkan keberkahan dari 4JJ1 SWT. Amiieennn&#8230; <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p><b>Risalah Nikah<br />
Karya : Milis Muslim-its</b></p>
<p>Istri yang paling baik adalah yang membahagiakanmu, saat kamu memandangnya, yang mematuhimu kala kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan dirimu bila kamu tidak ada disisinya. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, ada beberapa orang sahabat menemui Aisyah memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah. Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang ia berkata: <i>&ldquo;Kaana Kullu Amrihi Ajaba&rdquo;</i> [Aah&hellip;semua perilakunya indah]. </p>
<p><span id="more-45"></span></p>
<p>Allah berfirman: <br />
<i>&ldquo;Diantara tanda-tanda keangungan Allah, ialah Dia ciptakan bagimu, dari jenis-jenismu sendiri, pasangan-pasangannya. Supaya kamu hidup tentram bersamanya, dan Allah jadikan bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir&rdquo;. [QS 30 : 21]</i> </p>
<p>Ayat ini ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, gemuruh halilintar dann keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini Dia ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup manusia yang bersedia berdiri dengan setia disamping kita, yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang mau menerima perasaan tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih, yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh lemah dan memperkuat hati. </p>
<p>Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu Akad Nikah, agar hubungan antara pecinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta dan kasih sayang. Dengan dua kalimat yang sederhana <i>&ldquo;Ijab dan Qabul&rdquo;</i> terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang. Begitu besarnya perubahan ini sehingga Al Qur&rsquo;an menyebut Akad Nikah sebagai Mitsaqon Ghalidon [perjanjian yang berat]. Hanya 3 kali kata ini disebut dalam Al Qur&rsquo;an. Pertama, ketika Allah membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul Ulul &lsquo;Azmi [QS 33 : 7]. Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Tsur diatas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah [QS 4 : 154]. Dan Ketiga, ketika Allah menyatakan hubungan pernikahan [QS 4 : 21]. </p>
<p>Peristiwa Akad Nikah bukanlah peristiwa kecil di hadapan Allah. Akad Nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orang tuanya, saudara dan sahabat-sahabat tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Rabbul Izzati [Penguasa Alam Semesta]. Maka apabila kamu sia-siakan perjanjian ini, ikatan yang sudah terbuhul, janji yang terpatri, kamu bukan hanya harus bertanggung jawab kepada mereka yang hadir, tetapi juga dihadapan Allah Rabbul Alamin. </p>
<p><i>&ldquo;Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.&rdquo; [HR Bukhori dan Muslim] </p>
<p>&ldquo;Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dan lembut terhadap keluarganya&rdquo;. [HR Bukhari]</i> </p>
<p>Seorang isteri boleh memberi apa saja yang ia miliki. Tetapi, bagi seorang suami, tidak ada pemberian isteri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi kesenangan dan penderitaan. Di luar rumah, sang suami boleh jadi diguncangkan oleh berbagai kesulitan, ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan-ucapan kasar, dan pergumulan hidup yang berat. Ia ingin ketika pulang ke rumah, disitu ditemukan wajah yang ceria, mata yang sejuk, ucapan yang lembut dam berlindung dalam keteduhan kasih sayang sang isteri [seperti cerita puteri salju-nya Anderson]. Ia ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang terbit dari samudera kasih sayang sang isteri. </p>
<p>Rasulullah bersabda: <br />
<i>&ldquo;Isteri yang terbaik adalah isteri yang, membahagiakanmu saat kamu memandangnya, yang mematuhimu kalau kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya san hartamu bila kamu tidak ada disisinya.&rdquo; </i></p>
<p>Rasulullah bersabda bahwa surga terletak dibawah kaki kaum Ibu. Maka apakah rumah tangga yang dibangun hari ini akan menjadi surga atau neraka, tergantung pada sang ibu rumah tangga. Rumah tangga akan menjadi surga apabila disitu dihiaskan kesabaran, kesetiaan dan kesucian. </p>
<p>Allah SWT berfirman: <br />
<i>&ldquo;Wahai wanita, ingatlah ayat-ayat Allah dan hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.&rdquo; [QS 33 : 34]</i> </p>
<p>Suatu saat, kelak bila perahu rumah tangga bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian remaja menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan diguncangkan gempa cobaan, tetaplah teguh disamping sang suami, tetaplah tersenyum walau langit semakin mendung. </p>
<p>Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia. Dan Aisyah, ia bercerita bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya: &ldquo;Di rumah, kata Aisyah, &ldquo;Rasulullah melayani keperluan isterinya, memasak, menyapu lantai, memerah sesu dan memebrsihkan pakaian. Dia memanggil isterinya dengan gelaran yang baik&rdquo;. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, ada bebarapa orang sahabat menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah SAW. Aisyah sesaat tidak menjawab pertanyaan itu. Air matanya berderai kemudian dengan naafas panjang ia berkata: &ldquo;Kaana Kullu Amrihi Ajaba&hellip;&rdquo; [Ah&hellip;semua perilakunya indah]. Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian menceritakan bagaimana Rasul yang mulia di tengah malam bangun dan meminta ijin kepada Aisyah untuk shalat malam &ldquo;Ijinkan aku beribadah kepada Rabb-ku&rdquo; ujar Rasulullah SAW kepada Aisyah. </p>
<p>Rasulullah bersabda: <br />
<i>&#8220;Seandainya aku boleh memerintahkan kepada manusia bersujud kepada manusia lain, aku akan perintahkan para isteri untuk bersujud kepada suami mereka karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah atas mereka.&rdquo; [HR. Tirmidzi]</i> </p>
<p>Banyak isteri yang menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikir oleh mereka bagaimana membahagiakan suami. Padahal cinta dan kasih sayang akan tumbuh dan subur dalam suasana &ldquo;memberi&rdquo; bukan &ldquo;mengambil&rdquo;. Cinta adalah &ldquo;sharing&rdquo; saling membagi. Cinta tidak akan diperoleh kalau yang ditebarkan adalah kebencian. Kasih sayang tidak akan dapat diraih bila yang disuburkan adalah dendam dan kekecewaan. </p>
<p>Marie von Ebner Eschebach berkata: <br />
<i>&ldquo;Bila di dunia ini ada surga, surga itu adalah pernikahan yang bahagia tetapi bila di dunia ini ada neraka, neraka adalah pernikahan yang gagal&rdquo;</i>. Karena itulah Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. </p>
<p>Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, saat haji wada&rsquo; Rasulullah menyampaikan khotbah perpisahannya &#038; perhatikan apa yang diwasiatkannya pada waktu itu, <i>&ldquo;Wahai manusia, takutlah kepada Allah dalam urusan wanita, Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai isteri dengan amanat Allah. Dia halal-kan kehormatan mereka dengan kalimat-Nya. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas isterimu, dan isterimupun berhak atas kamu. Ketahuilah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap isteri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya dan kamupun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain dari itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya kepada mereka&rdquo;. [HR. Muslim dan Turmudzi]</i> </p>
<p>Rasulullah bersabda: <br />
<i>&ldquo;Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah siksanya di dunia ini juga, yaitu: Al-bagyu dan durhaka kepada orang tua&rdquo;. [HR. Turmudzi, Bukhari dan Thabrani]</i> </p>
<p>Al-bagyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat dzalim/aniaya terhadap orang lain. Al-bagyu yang paling dimurkai Allah adalah berbuat dzalim kepada isteri sendiri, yaitu menelantarkan isteri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikan dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama-sama. Karena itulah Rasulullah mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara ia bergaul dengan isterinya, Nabi yang mulia bersabda: <i>&ldquo;Tidak akan memuliakan wanita kecualli laki-laki yang mulia, dan tidak akan merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah pula&rdquo;</i>. </p>
<p>Pada saat perahu rumah tangga bertubrukan dengan kerikil tajam, impian remaja telah berganti menjadi kenyataan yang pahit, dan bukti-bukti harapan diguncangkan gempa cobaan, tidak ada yang paling menyejukkan sang suami selain pemandangan yang mengharukan. Ia bangun di malam hari, di dapatinya sang isteri tidak ada di sampingnya. Tetapi, kemudian ia dengar suara yang sangat dikenalnya. Diatas sajadah, diatas lantai yang dingin, ia menyaksikan seorang wanita bersujud. Suaranya bergetar. Ia memohon agar Allah menganugerahkan pertolongan bagi suaminya. Pada saat seperti itu sang suami akan mengangkat tangannya ke langit dan bersamaan tetes-tetes air matanya ia berdoa: </p>
<p><i>&ldquo;Ya Allah, karuniakan kepada kami isteri dan keturunan yang menentramkan hati kami, dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang bertaqwa&rdquo;</i>. </p>
<p>Suatu saat Aisyah ra bercerita lama, setelah meninggalnya Khadijah ra. <i>&ldquo;Hampir setiap kali Rasulullah akan keluar rumah, beliau meyebutkan nama Khadijah seraya memujinya. Sehingga pada suatu hari ketika beliau menyebutkan lagi, timbul rasa cemburuku dan kukatakan kepadanya, &ldquo;Bukankah ia hanya seorang wanita yang sudah tua, sedangkan Allah telah memberi pengganti yang lebih baik dari dia?&rdquo;</i> Mendengar itu Rasulullah kelihatan sangat marah, sehingga bagian depan rambutnya bergetar karenanya. Lalu ia berkata, <i>&ldquo;Tidak demi Allah! Aku tidak mendapat pengganti yang lebih baik dari dia&hellip;! Dia beriman kepadaku ketika orang lainn mendustakanku. Dia membantu dengan hartaku ketika tak seorangpun selain dia memberiku sesuatu dan Allah telah menganugerahkan keturunan daripadanya dan tidak dari isteri-isteriku yang lain&rdquo; [Al Hadits]</i> </p>
<p><i>&ldquo;Bila seorang wanita meninggal dunia, dan suaminya ridho sekali dengan tingkah lakunya semasa hidupnya, maka wanita itu masuk surga&rdquo;</i>. [HR. Turmudzi dan Ibnu Majah] </p>
<p><i>Ya Allah&hellip; <br />
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. </p>
<p>Ya Allah&hellip; <br />
Abadikan kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma&rsquo;rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga shalawat seta salam selalu tercurah kepada Mudammad SAW, kepada keluarganya dan kepada semua sahabatnya. </p>
<p>Ya Allah&hellip; <br />
Hari ini dua hamba-Mu yang dhaif mematri janji di hadapan kebesaran-Mu. Kami tahu tidak mudah untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi kami untuk mengayuh perahu rumah tangga kami menghadapi taufan godaan di hadapan kami. Karena itulah, kami datang memohon rahman dan rahim-Mu. </p>
<p>Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang lebih Engkau anugerahi kenikmatan, bukan-nya jalan orang-orang yang Engkau timpai kemurkaan, bukan pula jalan orang-orang yang Engkau tenggelam dalam kesesatan. Sinarilah hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu. </p>
<p>Terangilah jalan kami dengan sinar taufik-Mu. Kalau Engkau berkenan menganugerahkan nikmat-Mu atas kami, bantulah kami untuk banyak berdzikir dan bersyukur atas nikmat-Mu itu. Hindari kami dari orang-orang yang terlena dalam kemewahan dunia. Lembutkan hati kami untuk merasakan curahan rahmat-Mu. </p>
<p>Ya Allah&hellip; <br />
Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa&hellip;Allah teladan yang baik bagi manusia. </p>
<p>YaAllah&hellip; <br />
Damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan hati kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan tersembunyi.</p>
<p>Ya Allah&hellip; <br />
Berkatilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, suami/isteri kami, keturunan kami dan ampunilah kami. </p>
<p>Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Amiin&hellip; </i>
</p>
<p>Dikutip dari : Prayoga.net</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2008/09/syukur-nikmat/" rel="bookmark" class="crp_title">Syukur Nikmat</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/" rel="bookmark" class="crp_title">Yang menjadi dambaan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/" rel="bookmark" class="crp_title">Nasihat untuk calon Suami-Istri</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/04/alhamdulillah-ia-isteriku/" rel="bookmark" class="crp_title">Alhamdulillah Ia Isteriku&#8230;</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi untuk Ikhwan wa Akhwat fillah</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat-fillah/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat-fillah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2005 01:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat/</guid>
		<description><![CDATA[Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi &#8216;alad diinik&#8230; Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi &#8216;alad da&#8217;watik&#8230; Love is a give (Cinta adalah berkah)&#8230; Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan: Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)&#8230; Cinta 4JJI yang membuat bumi ada&#8230; Cinta 4JJI yang membuat sang surya bersinar&#8230; Cinta antar manusia yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi &#8216;alad diinik&#8230; <br />
Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi &#8216;alad da&#8217;watik&#8230;</p>
<p>Love is a give (Cinta adalah berkah)&#8230;<br />
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:<br />
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)&#8230; <br />
Cinta 4JJI yang membuat bumi ada&#8230;<br />
Cinta 4JJI yang membuat sang surya bersinar&#8230;<br />
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman&#8230;<br />
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana&#8230;<br />
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima&#8230;</i></p>
<p><span id="more-43"></span></p>
<p><i>Mirip seperti itulah hakikat menjadi da&#8217;I&#8230;<br />
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi da&#8217;wah&#8230;<br />
Dia selalu memberi utk Islam, tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja da&#8217;wahnya&#8230;<br />
Itulah ikhlash&#8230;<br />
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah&#8230;<br />
Siap mengeluarkan uang utk da&#8217;wah&#8230;<br />
Siap mengeluarkan tenaga utk da&#8217;wah&#8230;</p>
<p>Ana teringat kata Ust. Darlis:<br />
Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis da&#8217;wah adalah seperti saudara&#8230;<br />
Cukup sampai disana&#8230;<br />
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,<br />
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader <br />
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)&#8230;<br />
Kecuali 4JJI memberikan kesempatan padanya utk menyelesaikan setengah agamanya&#8230;</p>
<p>Jika 4JJI telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,<br />
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo&#8230;?<br />
Masih panjang langkah da&#8217;wah kita&#8230;<br />
Masih begitu banyak lahan da&#8217;wah yang belum kita jamah&#8230;<br />
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh&#8230;<br />
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji 4JJI pada kita&#8230;<br />
Jangan sampai da&#8217;wah kita berpenyakit hanya karena masalah ini&#8230;<br />
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,<br />
Bila sampai ada aktivis da&#8217;wah yang terjangkiti hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)&#8230;</p>
<p>Da&#8217;wah adalah sesuatu yang suci&#8230;<br />
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)&#8230;<br />
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)&#8230;</p>
<p>Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,<br />
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya&#8230;<br />
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,<br />
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab&#8230;</p>
<p>Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa yang zholim (HR Bukhori Muslim)&#8230;</p>
<p>Bukan ingin ketenaran&#8230;<br />
Dia berda&#8217;wah ingin menuju Jannah-Nya,<br />
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya&#8230;</p>
<p>Ingat ikhwan wa akhwat fillah,<br />
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:<br />
Utk ikhwan&#8230;<br />
Bila anda istiqomah di jalan da&#8217;wah ini,<br />
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti&#8230;<br />
Utk Akhwat&#8230;<br />
Bila anda istiqomah di jalan da&#8217;wah ini,<br />
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di syurga&#8230;</p>
<p>Kebenaran hakiki hanya milik 4JJI&#8230;<br />
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan <br />
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan&#8230;</i></p>
<p>Judul asli : Pesan Moral Untuk Ikhwan &#038; Akhwat<br />
Diambil dari : <del datetime="2006-11-15T00:45:58+00:00">Prayoga.net</del> Di edit atas permintaan dari pemilik situs (pak Prayoga), Situs barunya adalah <a href="http://prayoga.info/" target="_blank">Prayoga.info</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Muslimah, Antara Siap Dan Ingin Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/apa-pertanyaan-hari-ini/" rel="bookmark" class="crp_title">Apa Pertanyaan Hari Ini ?</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sedikit tentang cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat-fillah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Terurai Jadi Laku</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2005 04:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/</guid>
		<description><![CDATA[Kata Terurai Jadi Laku Oleh: Anis Matta Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Kata Terurai Jadi Laku</b><br />
Oleh: Anis Matta</p>
<p>Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk  ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.</p>
<p>Suatu saat perempuan itu berkata padanya, &ldquo;Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.&rdquo; Tapi lelaki itu malah menjawab, &ldquo;Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi.&rdquo;</p>
<p>Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, &ldquo;Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.&rdquo;</p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<blockquote><p>Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati&hellip; terkembang dalam kata&hellip; terurai dalam laku&hellip; Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata&hellip; Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.</p>
</blockquote>
<p>Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.</p>
<p>Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.</p>
<p>Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii, Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu, Semua kan jadi enteng.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sedikit tentang cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat-fillah/" rel="bookmark" class="crp_title">Refleksi untuk Ikhwan wa Akhwat fillah</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersimpuh Dalam Doa</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/bersimpuh-dalam-doa/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/bersimpuh-dalam-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2005 04:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/bersimpuh-dalam-doa/</guid>
		<description><![CDATA[Surat Al Furqan (QS 25:74-76) 025.074 &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1607;&#1614;&#1576;&#1618; &#1604;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1586;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1580;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1584;&#1615;&#1585;&#1617;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1602;&#1615;&#1585;&#1617;&#1614;&#1577;&#1614; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1610;&#1615;&#1606;&#1613; &#1608;&#1614;&#1575;&#1580;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575; 025.074 And those who pray, &#8220;Our Lord! Grant unto us wives and offspring who will be the comfort of our eyes, and give us (the grace) to lead the righteous.&#8221; Dan orang orang yang berkata: &#8220;Ya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Trebuchet MS" size="3" color="#0033FF"><b>Surat Al Furqan (QS 25:74-76)</b></font></p>
<p><a NAME="QURAN_VERSE_025_074"><center><br />
<table BORDER=2 CELLSPACING=0 CELLPADDING=4 WIDTH=500>
<tr>
<td BGColor=#F5F5EF>
<table BORDER=0 CELLSPACING=0 CELLPADDING=4 WIDTH=100%>
<tr>
<td ALIGN="Right"><font FACE="Traditional Arabic" SIZE="5"><b><font FACE="Verdana, Arial, Helvetica, Tahoma" SIZE="2">025.074</font></b><br />
<bdo DIR=RTL>&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1607;&#1614;&#1576;&#1618; &#1604;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1586;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1580;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1584;&#1615;&#1585;&#1617;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1602;&#1615;&#1585;&#1617;&#1614;&#1577;&#1614; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1610;&#1615;&#1606;&#1613; &#1608;&#1614;&#1575;&#1580;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575;</bdo></font></td>
</tr>
<hr SIZE=1 COLOR="Silver"/>
<tr>
<td ALIGN="Left"><b>025.074</b> And those who pray, &#8220;Our Lord! Grant unto us wives and offspring who will be the comfort of our eyes, and give us (the grace) to lead the righteous.&#8221;</p>
<p><i>Dan orang orang yang berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.&#8221;</i></td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
</table>
<p></center><br />
<!-- END HTML Generated by Qur'an Viewer --><br />
<span id="more-38"></span></p>
<p></a><a NAME="QURAN_VERSE_025_075"><center><br />
<table BORDER=2 CELLSPACING=0 CELLPADDING=4 WIDTH=500>
<tr>
<td BGColor=#F5F5EF>
<table BORDER=0 CELLSPACING=0 CELLPADDING=4 WIDTH=100%>
<tr>
<td ALIGN="Right"><font FACE="Traditional Arabic" SIZE="5"><b><font FACE="Verdana, Arial, Helvetica, Tahoma" SIZE="2">025.075</font></b><br />
<bdo DIR=RTL>&#1571;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614; &#1610;&#1615;&#1580;&#1618;&#1586;&#1614;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1594;&#1615;&#1585;&#1618;&#1601;&#1614;&#1577;&#1614; &#1576;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1589;&#1614;&#1576;&#1614;&#1585;&#1615;&#1608;&#1575; &#1608;&#1614;&#1610;&#1615;&#1604;&#1614;&#1602;&#1617;&#1614;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1581;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575;</bdo></font></td>
</tr>
<hr SIZE=1 COLOR="Silver"/>
<tr>
<td ALIGN="Left"><b>025.075</b> Those are the ones who will be rewarded with the highest place in heaven, because of their patient constancy: therein shall they be met with salutations and peace,</p>
<p><i>Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,</i></td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
</table>
<p></center><br />
<!-- END HTML Generated by Qur'an Viewer --></p>
<p></a><a NAME="QURAN_VERSE_025_076"><center><br />
<table BORDER=2 CELLSPACING=0 CELLPADDING=4 WIDTH=500>
<tr>
<td BGColor=#F5F5EF>
<table BORDER=0 CELLSPACING=0 CELLPADDING=4 WIDTH=100%>
<tr>
<td ALIGN="Right"><font FACE="Traditional Arabic" SIZE="5"><b><font FACE="Verdana, Arial, Helvetica, Tahoma" SIZE="2">025.076</font></b><br />
  <bdo DIR=RTL>&#1582;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1583;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1614;&#1575; &#1581;&#1614;&#1587;&#1615;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1605;&#1615;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1611;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1615;&#1602;&#1614;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575;</bdo></font></td>
</tr>
<hr SIZE=1 COLOR="Silver"/>
<tr>
<td ALIGN="Left"><b>025.076</b> Dwelling therein;- how beautiful an abode and place of rest!</p>
<p><i>mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.</i></td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
</table>
<p><font SIZE=2>Al-Qur&#8217;an, 025.074-076 (Al-Furqan [The Criterion, The Standard])<br />
<br />Text Copied from <a HREF="http://www.DivineIslam.com" TARGET="framDivineIslam">DivineIslam&#8217;s</a> Qur&#8217;an Viewer software v2.9</font></center><br />
<!-- END HTML Generated by Qur'an Viewer --><br />
</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/dijual-motorola-razr-v3-black/" rel="bookmark" class="crp_title">Dijual Motorola RAZR V3-Black</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/dapatkah-kau-tahan/" rel="bookmark" class="crp_title">Dapatkah kau tahan ?</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/" rel="bookmark" class="crp_title">Doa bagi yang sedang bimbang</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/03/ketika-akhirnya/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika akhirnya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/selamat-atas-kemenangan-hamas/" rel="bookmark" class="crp_title">Selamat atas kemenangan Hamas</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/hidup-dengan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup dengan pilihan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/bersimpuh-dalam-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2005 01:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/</guid>
		<description><![CDATA[Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta Penulis: M. Fauzil Adzim Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Trebuchet MS" size="3" color="#000066"><b>Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</b></font><br />
<font face="Trebuchet MS" size="2">Penulis: M. Fauzil Adzim</font></p>
<p>Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.</p>
<p>Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.</p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p>Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.</p>
<p>Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.</p>
<p>Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi &#8216;Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.</p>
<p>Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.</p>
<p>Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, &#8220;Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?&#8221;</p>
<p>Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda &#8216;Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., &#8220;Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.&#8221;</p>
<p>Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.</p>
<p>Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. &#8220;Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,&#8221; kata Rasulullah Saw. melanjutkan, &#8216;kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.&#8221; Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepadaAllah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isti, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.</p>
<p>Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/" rel="bookmark" class="crp_title">Menjadi keluarga Samara</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/" rel="bookmark" class="crp_title">Nasihat untuk calon Suami-Istri</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Risalah Nikah</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan karena tidak ada pilihan</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/bukan-karena-tidak-ada-pilihan/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/bukan-karena-tidak-ada-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2005 02:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/bukan-karena-tidak-ada-pilihan/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan karena tidak ada pilihan Penulis: Iqbal Irwansyah &#8220;Sepertinya tidak masalah Da. Aku bisa menerima hasil ini kok. Walaupun belum sesuai dengan harapan. Semoga ini adalah yang terbaik.&#8221; &#8220;Naahh begitu dong Shan&#8230; Kalau begitu khan lebih baik. Lagipula belum tentu kuliah di Kedokteran itu lebih baik dari kuliah di Psikologi. Iyaa khaannn&#8230;?? Yaa sudah&#8230; sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Trebuchet MS" size="3" color="#000066"><b>Bukan karena tidak ada pilihan</b></font><br />
<font face="Trebuchet MS" size="2">Penulis: <a href="http://iqbalir.com/blog">Iqbal Irwansyah</a><br />
</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" size="2"><em>&#8220;Sepertinya tidak masalah Da. Aku bisa menerima hasil ini kok. Walaupun belum sesuai dengan harapan. Semoga ini adalah yang terbaik.&#8221; <br />
</em><br />
<em>&#8220;Naahh begitu dong Shan&#8230; Kalau begitu khan lebih baik. Lagipula belum tentu kuliah di Kedokteran itu lebih baik dari kuliah di Psikologi. Iyaa khaannn&#8230;?? Yaa sudah&#8230; sekarang kamu konsentrasi saja kuliah di Psikologi ini, tahun depan kalau kamu mau berubah pikiran kamu khan bisa ikut SPMB lagi.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa Shandy&#8230; Bunda setuju dengan Wanda, kamu terima saja hasil jerih payah kamu. Lagipula, kamu khan jadi satu kampus dengan Wanda. Kalian khan masih bisa tetap terus bersama. Naahh sambil ngobrol, ayo&#8230; ini diminum dulu teh manisnya&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Eeehhh Bunda&#8230; Kok ngga bilang sih mau bawa teh manis ? Shandy khan bisa bawain sendiri.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehhmm Tante&#8230; Jadi merepotkan nih&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Aahh&#8230; ngga apa-apa Nak Wanda. Silahkan dilanjutkan, Tante mau ke dapur lagi.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iya deh&#8230; Makasih Bunda&#8221;. </em></p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>*** </p>
<p>Shandy dan Wanda baru saja menyelesaikan pendidikan SMU-nya. Mereka berdua berasal dari SMU yang sama. Kini mereka sedang dalam persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Sebenarnya Shandy ingin masuk ke Fakultas Kedokteran, namun hasil SPMB mengatakan dia diterima di Fakultas Psikologi yang menjadi pilihan keduanya. Berbeda dengan Wanda yang menjadikan Fakultas Psikologi sebagai pilihan pertamanya. Shandy sejak dulu sudah berniat untuk kuliah di Fakultas Kedokteran karena itu adalah pilihan favoritnya, tetapi sayang hasil SPMB berbeda dengan yang diharapkan. Sebenarnya Shandy adalah anak yang cerdas, dia bukan hanya diterima di Fakultas Psikologi namun juga diterima pada beberapa Fakultas Kedokteran swasta lainnya. Dari hasil SPMB, Shandy dan Wanda diterima di Universitas Indonesia pada Fakultas Psikologi. Setelah mendapatkan masukan dari Wanda sahabatnya ditambah masukan dari ibunya, iapun akhirnya menerima hasil tersebut. </p>
<p><em>&#8220;Ngga terasa yaa Shan&#8230; Sebentar lagi kita akan ikut OKK, kamu sudah siap belum&#8230;?? Perlengkapannya bagaimana..??&#8221; </em> Ucap Wanda memecah kesunyian dalam Bis Kuning yang sedang membawa mereka menuju fakultas psikologi. <em>&#8220;Yaa sebenarnya sih di siap-siapin aja&#8230; Daftar perlengkapannya aja belum aku catat.&#8221; </em> Jawab Shandy sekenanya. <em>&#8220;Yaaa&#8230; Kamu jangan gitu dong&#8230; Ayoo semangat&#8230; Ini khan akan jadi pengalaman pertama kita di-ospek. Pasti ini akan jadi pengalaman yang takkan terlupakan seumur hidup.&#8221; </em> Ucap Wanda memberikan semangat kepada Shandy. </p>
<p>Shandy dan Wanda sedang mempersiapkan kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) yang akan mereka ikuti. Kegiatan ini adalah pengenalan dunia kampus dengan sistem perkuliahannya kepada mahasiswa baru. Banyak perlengkapan yang harus mereka persiapkan sedangkan waktu yang diberikan oleh kakak-kakak panitia hanya seminggu. Mau tidak mau mereka harus bekerja keras untuk membuat dan mengumpulkan semua perlengkapan tersebut. Perlengkapan tersebut tidak semuanya bisa dibeli, karena sebagian harus dibuat sendiri. Tas karung terigu, topi anyaman dari bambu yang diberi warna warni yang mencolok sampai papan nama dengan tali gantungan yang terbuat dari tali rafiah harus mereka kerjakan sendiri. </p>
<p>Dua minggu yang mereka jalani dalam OKK adalah hari-hari terberat sepanjang hidup mereka. Belum pernah mereka merasa seberat itu sebelumnya. Badan lelah dan mata mengantuk karena kurang istirahat akibat banyaknya tugas yang diberikan oleh panitia mengisi hari-hari mereka. Ingin rasanya melompat dan pindah dengan lorong waktu untuk menghindari semua kegiatan itu. Dengan sisa tenaga dan pikiran, mereka berusaha untuk melalui semua kegiatan-kegiatan OKK. </p>
<p>*** </p>
<p><em>&#8220;Heyy&#8230; Sedang apa kamu Shan..?? Kok bengong begitu..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Eehhh&#8230; Kamu mengagetkan aku saja Nda&#8230; Ngga lihat nih aku pegang buku, aku mau pinjam buku di perpustakaan ini.&#8221; </p>
<p>&#8220;Deeuuhhh&#8230; segitu sewotnya&#8230; ngga bisa bercanda yaa&#8230; Ehhmm&#8230; Tadi aku perhatikan, sepertinya kamu lagi memperhatikan seseorang. Hayyoo ngaku&#8230; Kamu lagi memperhatikan siapa&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Aahh kamu Nda, ngga kok&#8230; Yang bener aja, aku khan lagi mencari buku di rak ini.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehhmm&#8230; yang bener nih&#8230; Sepertinya aku tau deh siapa yang kamu perhatikan.&#8221; </p>
<p>&#8220;Aaahh ngaco kamu&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;ehhmm&#8230; aku tau kok siapa yang kamu perhatikan, kamu lagi memperhatikan Adit khan&#8230;?? </em><em>Nih aku kasih tau yaa&#8230; Namanya Adhitya Gunawan. Dia satu tingkat diatas kita. Kamu naksir yaa&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Wanda&#8230; Ini pertama kali aku melihatnya&#8230; Belum ada perasaan apa-apa kok&#8230; eh iyaa, kok kamu tahu dia sih&#8230;?? Naahh yaa&#8230;.&#8221; </p>
<p>&#8220;Adit itu khan kakak pembimbing kelompok aku ketika OKK kemarin. Kok kamu baru lihat sekarang&#8230;?? Kemana aja non&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Yee&#8230;. udah ahh&#8230; cepetan yuk ke Musholla, mba Dewi sudah menunggu kita.&#8221; </p>
<p>&#8220;ooo iya yaa&#8230; sekarang khan kita ada mentoring. Ayoo cepat deh kalau begitu.&#8221; </em></p>
<p>Sejak OKK, Shandy dan Wanda sudah diperkenalkan dengan sistem mentoring yang diberikan oleh kakak-kakak kelasnya. Walaupun Shandy dan Wanda berbeda kelompok dalam OKK, tetapi menjadi satu kelompok ketika mentoring. Mereka sama-sama dalam kelompok mba Dewi. Mba Dewi adalah mahasiswi semester 7 Fakultas Psikologi. Dia sering memberikan tips dan trik dalam menjalani perkuliahan di kampus tersebut. Dia juga memberikan beberapa buku-buku perkuliahan yang dibutuhkan oleh adik-adik binaannya. Sudah beberapa minggu ini Shandy dan Wanda mengikuti semua program mentoring yang diberikan oleh mba Dewi. Mba Dewi pun dengan senang hati memberikan penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan dari adik-adiknya. Mentoring yang diberikan oleh mba Dewi bukan hanya tentang perkuliahan saja, namun juga mba Dewi memberikan materi-materi tentang agama Islam. </p>
<p><em>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum mba&#8230;&#8221; </em> ucap Shandy dan Wanda kompak sambil memasuki musholla. <em>&#8220;Maaf yaa mba kami terlambat.&#8221; </em> sambung Shandy. <em>&#8220;Alaykummussalaam warohmatullahi wabarokatuh&#8230; Iyaa tidak apa-apa kok&#8230; Ayo bergabung saja disini&#8230;&#8221; </em> jawab mba Dewi sambil mempersilahkan masuk dan memberikan tempat kepada mereka berdua. <em>&#8220;Oke&#8230; kalau begitu kita sambung lagi yaa pembahasan yang tadi&#8230; Shandy dan Wanda, mba dan teman-teman kamu tadi sedang membahas materi untuk minggu ini yaitu tentang kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslimah. Naahh&#8230; salah satu kewajiban kita sebagai muslimah adalah mengenakan jilbab. Ini adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslimah. Jilbab berfungsi sebagai hijab penutup aurat, kamu tahu khan kalau muslimah itu mempunyai aurat yang harus dijaga dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan muhrimnya&#8230;??&#8221; </em> Sambung mba Dewi meneruskan materi yang diberikan. <em>&#8220;ehhmm&#8230; maaf mba, boleh tanya ngga..??&#8221; </em> Ucap Wanda sambil mengernyitkan dahi. <em>&#8220;Iyaa boleh kok, silahkan Wanda mau tanya apa..??&#8221; &#8220;Maaf mba, tadi mba bilang hijab, aurat, muhrim&#8230; itu apa sih..??&#8221; </em></p>
<p>*** <br />
<em><br />
&#8220;Bunda yang baik dan cantiiikkk&#8230;.&#8221; </p>
<p>&#8220;Kenapa Shandy&#8230;?? </em><em>Ehhmm&#8230; Bunda tau deh, pasti kamu lagi ada maunya nih&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Eehh Bunda tau aja&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa&#8230; Setiap Bunda khan pasti tau sifat-sifat anaknya&#8230; Ya sudah, sekarang duduk sini sama Bunda. Ceritakan ada apa..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Begini Bunda&#8230; Sudah beberapa bulan ini Shandy khan ikut mentoring di kampus. Yang menjadi mentornya adalah Mba Dewi kakak kelas Shandy di kampus. Didalam mentoring itu Shandy diberikan materi-materi baik tentang perkuliahan dan juga diberikan materi tentang agama Islam.&#8221; </p>
<p>&#8220;Terus&#8230;?? Eehh&#8230; Jangan-jangan kamu ikut aliran yang macam-macam yaa&#8230;.??&#8221; </p>
<p>&#8220;Ngga&#8230; bukan begitu Bunda. Ini cuma mentoring biasa kok, materi yang diberikan juga materi-materi umum. Naahhh&#8230; Minggu kemarin Shandy diberikan materi tentang kewajiban muslimah mengenakan jilbab. Sudah seminggu ini Shandy memikirkan untuk mengenakan jilbab dan Shandy ingin memakai jilbab Bunda&#8230; Bagaimana, boleh tidak Bunda&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehhmm Iya deh kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Bunda setuju.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa Bunda&#8230;?? Beneran Bunda&#8230;?? Alhamdulillah&#8230;. eemmuuuaahhh&#8230;.&#8221; </em></p>
<p>Beberapa minggu setelah mba Dewi memberikan materi tentang jilbab, akhirnya Shandy dan Wanda pun mengenakannya. Kini mereka telah mengetahui dan melaksanakan kewajiban untuk menutup aurat. Mba Dewi pun senang melihat adik-adiknya telah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Beberapa hari berikutnya, teman-teman Shandy dan Wanda dalam kelompok mentoring mba Dewi-pun ikut mengenakan jilbab. Akhirnya semua anggota kelompok yang dibina oleh mba Dewi telah mengenakan jilbab. </p>
<p>*** </p>
<p><em>&#8220;Alhamdulillah&#8230; akhirnya selasai juga mata kuliah Bahasa Inggris, waahh bu Inna memang suka lupa waktu kalau mengajar ya Nda..??&#8221; </em> Ucap Shandy selepas bu Inna pergi meninggalkan ruang belajar. <em>&#8220;Iyaa&#8230; perutku sudah keroncongan nih. Ke kantin yuk Shan.. aku sudah kelaparan nih.&#8221; </em> Jawab Wanda sambil mengajak Shandy ke kantin. <em>&#8220;Iyaa aku juga sama&#8230; yuk&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehh Shan&#8230; kamu mau makan apa siang ini..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehhmm apa yaa&#8230; pokoknya yang bisa bikin perut kenyang deh.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehh itu ada ketoprak, makan itu aja yuk&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Boleh&#8230; yuk kesana&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Shandy, kamu yang pesan ketopraknya ya&#8230; aku mau pesan minum, kamu mau pesan minum apa..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Aku es teh saja deh&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Oke, aku pesankan sekalian.&#8221; </em></p>
<p>Siang itu, Shandy dan Wanda sedang berada di kantin kampus. Mata kuliah Bahasa Inggris yang dibawakan oleh Ibu Inna berakhir pada pukul satu siang. Karena sudah merasakan lapar, Shandy dan Wanda memutuskan pergi ke kantin untuk makan siang. <em>&#8220;Ehh Shan&#8230; Tau ngga, tadi aku ketemu sama Adit. Dia bersama teman-temannya.&#8221; </em> Kata Wanda sambil menghampiri meja makan mereka. <em>&#8220;Aahh kamu Nda&#8230; Apaan sih&#8230; Sudah ahhh&#8230;&#8221; </em> Jawab Shandi. <em>&#8220;Eh Eh&#8230; Itu orangnya lewat&#8230; aku panggil yaa&#8230; ehm Diiit&#8230; Kak Adiitt&#8230;&#8221; </em> sambung Wanda. <em>&#8220;Wandaa&#8230;?!!&#8221; </em> Ucap Shandy sambil mencubit perut Wanda. <em>&#8220;Ahh kamu ini, jangan malu-malu.&#8221; </em> Ucap Wanda sambil melepaskan tangan Shandy yang sedang mencubitnya. <em>&#8220;Sini aku kenalin&nbsp; yaa&#8230; Kak Adit kenalin ini temanku, namanya Shandy.&#8221; </em> Sambung Wanda. </p>
<p><em>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum, saya Adit.&#8221; </em> Kata Adit. </p>
<p><em>&#8220;Alaykummussalaam, saya Shandy.&#8221; </em> Jawab Shandy sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. </p>
<p><em>&#8220;Ehm maaf&#8230; saya tidak bisa bersalaman.&#8221; </em> Ucap Adit sambil menyatukan kedua tangan ditengah dadanya, salaman seperti orang sunda. </p>
<p><em>&#8220;Ooh iya yaa&#8230; Maaf.&#8221; </em> Kata Shandy sambil menarik lagi tangannya. </p>
<p><em>&#8220;Ehh iyaa&#8230; Ini temanku, kenalkan&#8230; namanya Bayu.&#8221; </em> Kata Adit sambil memperkenalkan teman yang bersamanya. </p>
<p><em>&#8220;Saya Bayu.&#8221; </em> Kata Bayu memperkenalkan diri. </p>
<p><em>&#8220;Shandy.&#8221; </em> Jawab Shandy. </p>
<p><em>&#8220;Wanda, Kamu baru memakai Jilbab yaa&#8230;?? Selamat yaa&#8230;&#8221; </em> Kata Adit. </p>
<p><em>&#8220;Iyaa&#8230; baru seminggu Kak Adit. Shandy juga sama Kak.&#8221; </em> Jawab Wanda. </p>
<p><em>&#8220;Ooo Begitu&#8230; Selamat yaa untuk kalian berdua.&#8221; </em> Ucap Adit. <em>&#8220;Oh yaa&#8230; Kami pergi dulu yaa&#8230; ada amanah yang harus dilaksanakan.&#8221; </em> Lanjutnya. </p>
<p><em>&#8220;Iya kak&#8230; Silahkan.&#8221; </em> Jawab Wanda. </p>
<p><em>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum&#8221; </em> Kata Adit pamit meninggalkan mereka. </p>
<p><em>&#8220;Waalaykummussalam.&#8221; </em> Jawab Shandy dan Wanda. </p>
<p>*** <br />
<em><br />
&#8220;Wanda, ini karcis keretanya. Sekarang kita tunggu kereta di peron yuk.&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Makasih Shan.&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Kita duduk disana aja yuk&#8230; lebih dekat dan teduh.&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Oke deh, yuk kesana.&#8221; </em> Jawab Wanda. <em>&#8220;Shan&#8230; menurutmu gimana kak Adit tadi&#8230;??&#8221; </em> Lanjutnya. </p>
<p><em>&#8220;Wandaa&#8230; kamu mulai lagi deh&#8230; sepertinya kamu menjodoh-jodohkan aku dengan kak Adit yaa&#8230;??&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;hehe&#8230; Shanda&#8230; kamu sebenarnya tertarik khann&#8230;??&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Yaa&#8230; kalau menurutku itu sih wajar saja Nda&#8230; Siapa juga yang ngga tertarik sama kak Adit. Orangnya sopan, ramah, simpatik lumayan cakep lagi.&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Tuuhh khaannn&#8230; Bener khan rasa itu ada&#8230;??&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Iyaa&#8230; Dan menurutku itu wajar saja&#8230; kita khan difitrahkan seperti itu. Tetapi, bukan pada tempatnya membiarkan perasaan seperti itu terus tumbuh. Itu sama artinya dengan membuka pintu lebar-lebar untuk syetan-syetan masuk kedalam hati kita. Naah Wanda yang sholehah&#8230; Sekarang aku ingin melupakan itu semua. Aku ingin menutup rapat-rapat pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati kita. Inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit hati, naah sekarang aku ingin membuang penyakit hati itu dalam diriku. Ndaa&#8230; Kita jangan bahas masalah ini lagi yaa&#8230; Kita lupakan dan hapus dari memori kita, oke&#8230;&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Kamu kalau ngomong seperti itu jadi inget sama mba Dewi. Oke deh&#8230; Mulai sekarang kita tidak membahas masalah ini lagi. eehh iyaa&#8230; itu keretanya sudah datang, yuk siap-siap.&#8221; </em></p>
<p>*** </p>
<p>Sejak saat itu, Shandy dan Wanda tidak pernah mambahas masalah itu lagi. Mereka sadar bahwa itu sebagai sebuah kesalahan. Tak terasa, waktupun terus berjalan. Seiring dengan berjalannya waktu, Shandy dan Wanda memfokuskan diri pada perkuliahannya. Disamping itu, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Mba Dewi berhasil mengajak mereka untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan di kampus. Mereka mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan mahasiswa mulai dari tingkat fakultas sampai tingkat universitas. </p>
<p>Tingkat satu dan dua adalah masa pembelajaran mereka. Mulai belajar berorganisasi, bersosialisasi dengan rekan-rekan lainnnya sampai belajar membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Lama-kelamaan mereka mulai menikmati berbagai kesibukkannya. Mereka menganggap kesibukannya merupakan media pembelajaran yang mungkin akan bermanfaat nanti dimasa yang akan datang. </p>
<p>Pada akhir tingkat dua, Universitas tempat mereka kuliah mengadakan pemilihan raya. Pemilihan raya ini adalah media untuk memilih pemimpin lembaga-lembaga eksekutif dan legislatif di kampus, baik dari tingkat Universitas maupun tingkat Fakultas. Adit, kakak kelas mereka dicalonkan oleh teman-temannya untuk menjadi ketua BEM UI. Shandy dan Wanda diamanahkan untuk membantu tim sukses pemenangan Adit sebagai ketua BEM UI. Merekapun berusaha melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. </p>
<p>Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, Adit terpilih sebagai ketua BEM pada pemilihan tersebut. Shandy dan Wanda diminta Adit sebagai ketua BEM yang baru untuk membantunya dalam kepengurusan BEM yang baru akan dibentuk. Shandy diamanahkan di posisi litbang dan Wanda sebagai bendahara. Aktifitas mereka semakin berat, disamping tugas perkuliahan semakin hari semakin banyak ditambah dengan dengan berbagai program kerja BEM yang harus mereka laksanakan. Selama satu tahun penuh mereka berjibaku dengan kegiatan-kegiatan BEM. Kepengurusan BEM pun akhirnya berakhir, mereka berhasil melaksanakan kegiatan-kegiatannya dengan sukses. </p>
<p>*** </p>
<p>Waktupun terus berjalan membawa mereka dalam perjalanan hidup yang panjang. Kini mereka telah lulus dan telah bekerja. Walaupun mereka bekerja pada perusahaan yang berbeda, Shandy dan Wanda masih sering berkomunikasi satu sama lain. Merekapun masih kontak dan sering bertemu dengan mba Dewi dalam pertemuan setiap pekan. Sesibuk dan sesempit apapun waktunya, mereka mengusahakan untuk hadir setiap pekan. Mereka masih sering berkumpul dan berbagi cerita dan pengalaman disamping untuk menambah dan menggali pemahaman agamanya. </p>
<p><em>Tuttutut&#8230;. Tuttututtut&#8230;. </em> Seketika, Shandy mencari handphone-nya yg berbunyi didalam tasnya. Tampak nama mba Dewi dalam layar telepon gengamnya. <em></p>
<p>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum mba Dewi&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalam Shandy, apa kabarnya..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Baik mba, Mba sendiri bagaimana&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, baik juga. Kamu sudah sampai kantor..??&#8221; </p>
<p>&#8220;iyaa mba&#8230; barusan sampai. Aku sedang menyalakan komputer nih&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;ooo&#8230; Eh iyaa Shan, kamu akhir minggu ini ada acara&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Insya Allah tidak ada mba&#8230; Kenapa&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Ngga kok, ada yang ingin mba bicarakan saja&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;ooo begitu&#8230; jadi bagaimana mba&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Kamu bisa datang ke rumah mba hari ahad pagi, yaa kira-kira jam 10&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Insya Allah bisa mba&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Oke deh kalau bagitu, mba tunggu yaa&#8230; Assalammu&#8217;alaykum&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Waalaykummussalam warohmatullahi wabarokatuh.&#8221; </em></p>
<p>*** </p>
<p>Minggu pagi yang cerah, burung-burung berkicau merdu. Lambat laun mentari memancarkan sinarnya yang menyejukkan dan memberikan kesegaran suasana pagi. Minggu pagi yang cerah, awan-awan putih yang lembut bergerak sangat lambat di memenuhi angkasa. Kuncup-kuncup bunga nan indah mulai merekah penuh warna. Menghiasi taman asri warna-warni. Butir-butir embun memenuhi dedaunan, lambat laun mulai menghilang seiring dengan mentari yang beranjak naik. </p>
<p><em>Ting nooong&#8230;. </em><em>Ting nooong&#8230;. </em><br />
<em><br />
&#8220;Siapa yaa&#8230;.?? Ehhh kamu sudah sampai Shandy&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa mba&#8230; baru saja&#8230; Assalammu&#8217;alaykum&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalaam waromatulloh wabarokatuh, ayoo masuk&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;makasih mba&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Kamu sudah sarapan Shan&#8230;?? Sarapan di rumah mba yuk&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Sudah sarapan dirumah mba, terima kasih&#8221; </p>
<p>&#8220;iya deh&#8230; kalau begitu mba buatkan minum yaa&#8230; ayoo duduk dulu&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;makasih mba&#8230;&#8221; </em></p>
<p>Mba Dewi masuk ke dapur dan Shandy duduk di ruang tamu sambil memperhatikan pernak-pernik yang ada dalam lemari hias. Terdapat juga aquarium yang berisi ikan-ikan lucu peliharaan kesayangan anak-anak mba Dewi. </p>
<p><em>&#8220;Nihh minumnya sudah selesai&#8230; ayoo diminum dulu Shan&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Terima kasih mba&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Bagaimana pekerjaan kamu&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah lancar mba. Semakin lama aku semakin menguasai pekerjaanku.&#8221; </p>
<p>&#8220;Begini Shan&#8230; Mba mengundang kamu kesini karena ada yang ingin mba bicarakan dengan kamu. Tapi sebelumnya, mba ingin bertanya. Adakah kesiapan dalam diri Shandy untuk menikah dan berumah tangga..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Sebenarnya&#8230; Dalam hati yang terdalam, Shandy sudah siap untuk menikah. Namun demikian karena ini menyangkut keputusan terbesarku, aku akan memikirkannya lebih mendalam dan sholat Istikhoroh meminta petunjuk Allah.&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah&#8230; Syukur kalau begitu. Begini Shan, sebenarnya mba menanyakan ini karena ada yang menanyakan kesiapan Shandy untuk menikah. Mba akan memproses selanjutnya jika Shandy ingin diproses lebih lanjut. Ada seorang Ikhwan yang sudah siap untuk menikah. Nanti mba akan memberikan biodata Ikhwan yang ingin ta&#8217;aruf dengan Shandy setelah Shandy memberikan biodata Shandy ke mba. Tolong nanti dibaca dan dipelajari, mba akan memberikan waktu dua minggu bagi Shandy untuk memikirkannya. Nanti Shandy berikan keputusannya sama mba yaa&#8230; Silahkan dipertimbangkan.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa mba&#8230; Terima Kasih. Akan aku siapkan biodatanya.&#8221; </p>
<p>&#8220;Mba memberikan kebebasan bagi Shandy. Keputusan kamu jangan sampai terpengaruh dari apa yang mba sampaikan. Dipikirkan saja masak-masak.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa&#8230; Terima kasih mba.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ayoo diminum lagi minumnya Shan.&#8221; </em></p>
<p>*** </p>
<p>Jam dinding di kamar Shandy sudah menunjukkan pukul 3.15 pagi. Shandy bangun dari tidur berniat untuk melaksanakan Shalat Istikhoroh. Dengan mata berat karena masih mengantuk, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk berwudhu. Mukena kemudian dikenakan dan sajadahpun digelar. Shandy mulai melaksanakan Sholat Istikhorohnya. Dalam doanya, Shandy dengan suara yang lirih meminta petunjuk kepada Allah dalam mempertimbangkan calon yang ditawarkan oleh mba Dewi. </p>
<p><em>&#8220;Yaa Allah&#8230; Karuniakanlah kepadaku pendamping hidup yang mampu mendidik dan membimbingku dalam bertaqwa kepada-Mu. Jika ikhwan yang ingin berta&#8217;aruf ini adalah jodoh dan pasangan hidupku dalam mengarungi hidup, maka satukanlah aku dengannya dalam ikatan Mitsaqan Ghaliza yang suci. Namun jika ia bukan jodohku, maka tunjukkanlah yaa Allah. Pertemukanlah aku dengan jodoh dan pasangan hidupku.&#8221; </em></p>
<p>Sejak pertama kali bertukaran biodata, Shandy belum pernah membuka amplop yang diberikan oleh mba Dewi. Akhirnya iapun mengambil amplop tersebut dan membukanya. Dengan perasaan deg-degan dan dengan perlahan Shandy membuka amplop tersebut. Sambil memejamkan mata, Shandi mulai mengeluarkan isi amplop tersebut. Akhirnya perlahan-lahan ia membuka isinya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat isi dari amplop tersebut. <em>&#8220;Masya Allah&#8230; Inikaaannn&#8230; Ini khaaannn&#8230; Foto dan biodatanya kak Adit.&#8221; </em> Shandy berkata dalam hati. </p>
<p>*** </p>
<p>Waktu yang diberikan oleh mba Dewi pun berakhir. Kini tiba saatnya bagi Shandy untuk mengemukakan hasil Istikhorohnya kepada mba Dewi. </p>
<p><em>Ting nooong&#8230;. </em><em>Ting nooong&#8230;. </p>
<p>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalaam waromatulloh wabarokatuh&#8230; Shandy, silahkan masuk.&#8221; </p>
<p>&#8220;Terima kasih mba&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Habis dari rumah..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Iya mba.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ayoo duduk&#8230; Mba ambilkan minum yaa&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Terima kasih mba&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Ikan di aquarium-nya tambah banyak aja mba&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa&#8230; Setiap ke pasar bersama Aziz, pasti minta dibelikan ikan. Kalau tidak dibelikan pasti menangis sampai rumah. Jadi terpaksa dibeli supaya Aziz bisa diam. Ehh iyaa&#8230; ini minumnya, ayo diminum.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iya terima kasih mba&#8230; Begini mba&#8230; Pertama-tama saya minta maaf. Bukan maksudku jika mba nanti kecewa dengan apa yang aku sampaikan. Tetapi Istikhoroh yang selama ini aku lakukan membimbingku kepada keputusan ini. Semoga ini adalah yang terbaik, keputusan yang datang atas petunjuk Allah. Saya ingin mengembalikan biodata ini kepada mba. Dengan terpaksa proses ini dihentikan sampai disini saja.&#8221; </p>
<p>&#8220;Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Mba akan memberitahukan ikhwannya.&#8221; </em></p>
<p>*** </p>
<p>Waktu terus berjalan, seiring dengan itu, Shandy pun masih dalam kesendiriannya. Tidak sedikit ikhwan yang ingin menikah dengannya. Pun demikian, Shandy masih tetap merasa belum menemukan Ikhwan yang menjadi harapan dalam Istikhorohnya. Hitungan bulan, bahkan tahun tanpa terasa berlalu dengan cepatnya. Satu persatu teman-temannya mulai menggenapkan setengah diennya. Namun demikian, Shandy tidak terlalu mempermasalahkan kesendiriannya itu. Ia percaya suatu saat jika saatnya sudah tiba, Allah akan mempertemukannya dengan ikhwan yang sesuai dengan harapannya. </p>
<p>*** </p>
<p><em>Ting nooong&#8230;. </em><em>Ting nooong&#8230;. </p>
<p>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalaam&#8230; Siapa yaa&#8230;?? ehh nak Wanda&#8230; ayoo masuk&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Terima kasih Tante&#8230; Shandy-nya ada Tante&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Ada kok&#8230; Silahkan duduk dulu, Tante panggilkan Shandy yaa&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa&#8230; Makasih Tante&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehh kamu Nda&#8230; Apa kabar nih&#8230;?? Sudah lama tidak mampir ke rumahku&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehmm iyaa nih Shan&#8230; Maklumlah tugas-tugas di kantor semakin lama semakin banyak. Weekend juga masih sering diisi sama kegiatan-kegiatan sosial.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ciee&#8230; Yang aktifis memang beda nih&#8230;.&#8221; </p>
<p>&#8220;Bukan aktifis lagi&#8230; Ukhtifis gitu loh&#8230; hahaha&#8230; Eh iyaa&#8230; aku kemari sebenarnya mau menyampaikan ini. Kamu dateng yaa&#8230; Awas kalau ngga&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Apa nih Nda&#8230; Undangan&#8230;?? Haaa&#8230;. Kamu kok ngga bilang-bilang sih&#8230; Akhirnya kamu lebih dulu dari aku yaa&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Aku ingin memberikan surprise ke kamu Shan&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehh&#8230; Ini tulisannya bener yaa&#8230;?? Wanda Hamidah dengan Aditya Gunawan&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa Shan&#8230; Itu juga termasuk surprise yang kedua&#8230; hehehe&#8230; Ternyata jodoh memang tidak kemana. Allah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan nan suci.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ciee yang mau menikah&#8230; Romantiss&#8230;&#8221; </em></p>
<p>*** </p>
<p>Waktu terus berlalu, satu tahun sudah Wanda menikah. Wanda masih dengan kesibukannya bersama dengan organisasi sosial kewanitaan yang dipimpinnya. Bersama dengan organisasi tersebut, Wanda sering mengadakan kegiatan-kegiatan sosial. Mulai dari donor darah, santunan untuk anak yatim, bhakti sosial dan lain sebagainya sudah biasa ia lakukan. </p>
<p>Umur Shandy pun semakin lama semakin menanjak naik. Umurnya kini telah 27 tahun. Walaupun keinginan untuk menikah telah menggebu, namun ia tetap berpikiran positif. Ia yakin bahwa ini adalah skenario yang telah digariskan-Nya. </p>
<p><em>Tuttutut&#8230;. Tuttututtut&#8230;. </em> Telepon genggam Shandy berbunyi. Iapun segera mengambil telepon tersebut. Muncul nama Wanda dalam layar LCD-nya, segera saja Shandy menjawab panggilan tersebut. </p>
<p><em>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum Wanda&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalam warohmatulloh wabarokatuh&#8230; Apa kabarnya Shan..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah baik&#8230; Bagaimana denganmu&#8230;?? Kapan kira-kira keponakanku akan lahir&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, aku baik juga&#8230; Insya Allah dua bulan lagi Shan, doakan ya semoga semuanya lancar.&#8221; </p>
<p>&#8220;Insya Allah akan aku doakan, apa sih yang tidak untuk sahabat terbaikku ini.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ahh kamu Shan&#8230; bisa saja&#8230; Ehh iyaa, begini Shan&#8230; Aku membutuhkan bantuanmu untuk acara Konser Amal Nasyid dan Bazaar di Istora Senayan. Kami membutuhkan banyak orang karena ini adalah acara besar dan kami membutuhkan banyak SDM untuk mendukung acara ini. Kamu bisa membantu tidak Shan&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Insya Allah, akan aku usahakan semaksimal mungkin. Kamu itu yaa&#8230; Walau sudah hamil besar tetapi masih terus aktif&#8230; Lebih baik jaga saja keponakanku yaa Nda&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa Shan&#8230; Itu juga salah satu pertimbanganku. Jadi kamu bersedia yaa&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Insya Allah.&#8221; </em></p>
<p>*** </p>
<p><em>&#8220;Baiklah&#8230; Ini adalah technical meeting kita yang terakhir sebelum konser dimulai. Kita akan membahas segala persiapan yang telah kita lakukan. Tolong semua permasalahan yang masih ada kita bicarakan disini dan sama-sama kita cari solusinya.&#8221; </em> Ucap Wanda memimpin rapat persiapan akhir konser nasyid. Wanda mempercayakan Shandy untuk memimpin tim penjualan tiket. Publikasi sudah mereka laksanakan dengan maksimal, demikian juga dengan penjualan tiket. Delapan puluh persen target penjualan telah tercapai, mereka berharap dua puluh persen sisanya bisa tercapai pada saat acara berlangsung. </p>
<p>Hari yang dinanti akhirnya sampai. Konser berlangsung di dalam ruang utama Istora Senayan. Shandy di depan mengkoodinasikan dan mengatur tim penjualan tiketnya. Sebuah tiket box terletak pada pintu depan dengan lokasi yang strategis. Pengunjung yang belum memiliki tiket dapat membeli langsung di tempat tersebut. </p>
<p><em>&#8220;Maaf mba&#8230; Saya ingin membeli tiket. Berapa harganya&#8230;??&#8221; </em> Ucap salah seorang pengunjung yang mendatangi tempat penjualan tiket. <em>&quot;Harganya tiga puluh ribu rupiah. Bagaimana, jadi membeli pak..??&#8221; </em> Jawab salah seorang petugas tiket. <em>&#8220;Ehmm boleh, saya pesan satu tiket.&#8221; </em> Kata pengunjung tersebut. <em>&#8220;Ini uangnya.&#8221; </em> Tambahnya. Shandy datang menemui petugas tiket tersebut untuk melihat hasil penjualan tiketnya. <em>&#8220;Nisa, bagaimana hasil penjualan tiketnya..??&#8221; </em> Kata Shandy. <em>&#8220;Sebentar mba Shandy, akan saya ambil laporan penjualan sementaranya.&#8221; </em>Jawab Nisa petugas penjual tiket. <em>&#8220;Pak, ini tiketnya.&#8221; </em> sambung Nisa. <em>&#8220;Terima kasih.&#8221; </em> Jawab pengunjung tersebut. Nisa pamit pergi mengambil laporan sementara penjualan tiket yang diminta oleh Shandy. <em>&#8220;Ehhmm&#8230; Maaf, boleh saya tanya mba.&#8221; </em> tanya pengunjung tersebut kepada Shandy. <em>&#8220;Boleh, silahkan&#8230;&#8221; </em> jawab Shandy. <em>&#8220;Ini mba Shandy temannya Wanda yang dulu kuliah di psikologi yaa&#8230;??&#8221; </em> tanya pengunjung tersebut. <em>&#8220;Iyaa&#8230; Kok bapak tau sih&#8230;??&#8221; </em> jawab Shandy. <em>&#8220;Iyaa&#8230; Saya masih ingat dengan mba. Mba masih ingat dengan saya..??&#8221; </em> lanjut pengunjung tersebut. <em>&#8220;Ehhmm&#8230; Kalau tidak salah, ini bapak Bayu yaa&#8230;?? Temannya kak Adit khan&#8230;??&#8221; </em> kata Shandy sambil berusaha mengingat-ingat wajah yang berada didepannya. <em>&#8220;Iyaa benar saya Bayu. Tolong jangan panggil saya bapak yaa&#8230; Saya belum menikah dan umur kita khan tidak jauh berbeda. Tolong panggil nama saja yaa&#8230;&#8221; </em> kata pengunjung tersebut yang ternyata tidak lain adalah Bayu kakak kelas Shandy di psikologi. <em>&#8220;Iya deh&#8230; sama juga untuk saya, tolong jangan panggil mba yaa&#8230; cukup panggil nama saja&#8230; Kalau aku panggil kak Bayu tidak apa-apa khan..??&#8221; </em> jawab Shandy. <em>&#8220;Aku dengar dari teman-teman, kak Bayu tinggal di Paris yaa..??&#8221; </em> lanjut Shandy. <em>&#8220;Iyaa&#8230; Aku bekerja disana, sambil melanjutkan kuliah S2-ku. Mumpung dapat kesempatan beasiswa.&#8221; </em> jawab Bayu menjelaskan. <em>&#8220;Oh yaa&#8230; Wah enak yaa&#8230;&#8221; </em> kata Shandy. <em>&#8220;Sudah dua tahun aku tinggal disana. Aku pulang kampung kesini karena sedang liburan kuliah sekaligus mengambil cuti dari pekerjaan supaya bisa pulang kampung. Aku melihat konser inipun karena membaca koran di rumah, sudah lama aku tidak menonton konser nasyid.&#8221; </em> jelas Bayu. <em>&#8220;ooo begitu&#8230; oh yaa&#8230; Konsernya akan dimulai kak&#8230; Nanti terlambat.&#8221; </em> kata Shandy mengingatkan bahwa konser akan segera dimulai. <em>&#8220;Oke deh kalau begitu. Aku masuk ke dalam yaa&#8230;&#8221; </em> ucap Bayu pamit pergi ke dalam ruang utama. <em>&#8220;Pintu masuk ikhwan disebelah sana kak.&#8221; </em> Kata Shandy sambil menunjukkan sebuah pintu masuk yang dijaga oleh dua orang ikhwan. <em>&#8220;Terima kasih Shan&#8230;&#8221; </em> jawabnya. </p>
<p>*** </p>
<p><em>Krrinngggg&#8230;&#8230;. kringggg&#8230;&#8230; krringgg&#8230;.. </p>
<p>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum, bisa bicara dengan Aditya Gunawan&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalam warohmatullahi wabarokatuh&#8230; Saya sendiri, maaf dengan siapa saya berbicara&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Ehh ternyata ente Dit&#8230; Ini ane, Bayu. Apa kabarnya akhi..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah ana bi khair akh. Ente sendiri bagaimana akh&#8230;?? Masih di Paris..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, ana baik-baik juga. Iya masih, tetapi sekarang ane dalam masa liburan di Jakarta.&#8221; </p>
<p>&#8220;Masya Allah, ente pulkam kok ngga bilang-bilang ane sih&#8230; Kalau ada waktu kita ketemu akh, pintu rumah ane selalu terbuka untuk ente.&#8221; </p>
<p>&#8220;Boleh, nanti ane kerumah ente deh&#8230; By the way, begini nih akh&#8230; Salah satu tujuan ane ke Jakarta sebenarnya karena ane sudah siap dan ingin menikah.&#8221; </p>
<p>&#8220;Subhanallah&#8230; Bagus akh&#8230; Sudah ada calonnya belum&#8230;?? atau mau ana bantuin&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Sebenarnya ane belum punya akh&#8230; Dan memang betul sekali, ane butuh bantuan ente akh&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Insya Allah ane akan bantu akh&#8230; Kira-kira apa nih yang ane bisa bantu&#8230;?? Sudah ada belum akhwat yang&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Sebenarnya ada sih akh&#8230; Tetapi, ane masih malu mengatakannya&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Ente nih yaa&#8230; ngga usah malu akh, kalo malu terus kapan nikahnya&#8230;?? Yaa sudah&#8230; sebutkan saja siapa akhwatnya, nanti ane minta bantuan istri untuk menanyakan ke akhwat atau murobbiyah-nya. Bagaimana..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Boleh&#8230; Syukron akhi&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Nahhh&#8230; Sekarang sebutkan saja siapa akhwatnya akh&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Shandy Ramadhani.&#8221; </p>
<p>&#8220;Baiklah akan ane bantu, akan ane sampaikan ke istri. Bagaimanapun, nanti yang memproses tetap harus murobbi ente yaa&#8230;&#8221; <br />
</em><br />
*** </p>
<p>Akhirnya proses itupun berlangsung dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Pernikahan Shandy dan Bayu berlangsung meriah, banyak kerabat handai taulan, dan teman-teman semasa kuliah yang hadir dalam acara tersebut. Meski prosesnya terbilang cepat, mereka tetap harmonis. Empat tahun setelah pernikahannya, Shandy dan Bayu telah memiliki dua orang anak yang lucu-lucu. Bayu melanjutkan pekerjaannya di Paris dan Shandy ikut dengan suami. Shandy tidak bekerja lagi karena harus mengurus anak-anak mereka agar mendapatkan pendidikan yang terbaik langsung dari ibunya. Itulah yang menjadi pertimbangan bagi Shandy untuk mengundurkan diri dari perkerjaannya. <em>&#8220;Cukup mas saja yang bekerja mencari nafkah, aku disini saja bersama dengan anak-anak kita mempersiapkan mereka agar menjadi orang-orang terbaik dan orang yang bermanfaat.&#8221; </em> ucapnya ketika menyatakan akan mengundurkan diri dari pekerjaan di kantornya. </p>
<p><em>&#8220;Bundaaa&#8230;&#8221; </em> Teriak Nabila berlari dikejar oleh Rafi kakaknya. </p>
<p><em>&#8220;Rafi&#8230; Nabila&#8230; Kenapa kalian kerja-kejaran seperti itu&#8230;?? Kalian tidak boleh begitu yaa&#8230; Kakak dan Adik harus rukun tidak boleh bertengkar.&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Habis Nabila Bunda&#8230; Mengganggu Rafi terus&#8230;&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Sudah-sudah&#8230; Sekarang kalian jangan bertengkar lagi yaa&#8230; ayoo saling bermaafan&#8230; Rafi, kamu khan kakaknya Nabila. Kamu harus membimbing adikmu dong. Harus mencontohkan yang baik kepada adik. Lebih baik Rafi sebagai kakak mengalah saja kalau Nabila meminta sesuatu. Nabila juga, kamu juga sebagai adik jangan suka mengganggu kakak yaa&#8230; Boleh bermain bersama tetapi tidak boleh bertengkar yaa&#8230; Kalian mengerti khan perkataan Bunda&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa Bunda&#8230;&#8221; </em> Rafi dan Nabila kompak menjawab. <em></p>
<p>&#8220;Sekarang kalian sudah mengerti, boleh dilanjutkan bermainnya. Tapi nanti jangan lupa mainannya di rapihkan kembali ketempatnya semula yaa&#8230;&#8221; </em></p>
<p>Bayu baru saja pulang dari kantornya dan menghampiri Shandy menanyakan apa yang barusan saja terjadi. </p>
<p><em>&#8220;Assalammu&#8217;alaykum&#8230; Ada apa dengan anak-anak Bunda&#8230;??&#8221; </p>
<p>&#8220;Alaykummussalam warohmatulloh wabarokatuh&#8230; Ehh&#8230; Mas sudah pulang&#8230; Ngga kok&#8230; Tadi Rafi dan Nabila, Nabila mengganggu kakaknya.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ooo begitu&#8230; sekarang sudah selesai khan..??&#8221; </p>
<p>&#8220;Sudah Mas&#8230;&#8221; </em></p>
<p>Bayu merenggangkan dasi yang melingkar di lehernya dan kemudian duduk di sofa depan kamar keluarga. Shandy menemani sambil membawakan teh manis kesukaan suaminya. Setelah meminum tes manis penghilang dahaga, Bayu bersandar di sofa diikuti dengan Shandy yang ikut bersandar dan merebahkan kepalanya di pundak sang suami. </p>
<p><em>&#8220;Mas&#8230; Aku tidak pernah membayangkan akan sebahagia ini. Melihat anak-anak tumbuh, diberikan Allah pengalaman yang tak terlupakan, diberikan juga anak-anak yang sehat dan keluarga yang berbahagia. Alhamdulillah, Allah telah memberikan kita kebahagian yang begitu besar kepada kita.&#8221; </p>
<p>&#8220;Iyaa Dik&#8230; Begitu besar kebahagiaan yang datang kepada kita. Kita harus mensyukurinya dengan berbakti kepada-Nya. Aku tidak menyangka mendapatkan istri yang sholehah, lembut dan penyayang seperti kamu.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ahh, mas bisa aja&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Eit&#8230; Sakit Dik, jangan terlalu kencang dong mencubitnya&#8230; hehe&#8230;&#8221;</em></font></p>
<blockquote><p>&#8220;Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama Mas. Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan Mas. Ternyata kita memang berjodoh&#8230; Walaupun sudah banyak yang mengajak menikah denganku, tetapi entah kenapa aku selalu merasa belum menemukan pasangan jiwaku. Kemudian ketika Mas datang, sepertinya Allah membimbingku untuk mengatakan iya. Ia menunjukkan jalan-Nya dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Akhirnya, akupun memilih Mas&#8230; <strong>bukan karena tidak ada pilihan tetapi karena Allah yang memilihkan </strong>.&#8221;</p>
</blockquote>
<p>*** T A M A T, Balikpapan, 090905. ***</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2008/09/syukur-nikmat/" rel="bookmark" class="crp_title">Syukur Nikmat</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2011/05/dapend-dana-pendidikan/" rel="bookmark" class="crp_title">#DaPend (Dana Pendidikan)</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/ordinary-sunday/" rel="bookmark" class="crp_title">Ordinary Sunday</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta Laki-laki Biasa</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/04/hidup-terus-berputar/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup terus berputar</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/bukan-karena-tidak-ada-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muslimah, Antara Siap Dan Ingin Menikah</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2005 01:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Ayyesha-yahya sumber http://www.manajemenqalbu.com Pernikahan Idham dan Rani berlangsung lancar. Kawan-kawan kuliah keduanya banyak yang datang, walaupun resepsi itu dilakukan jauh dari kota dimana mereka berdua menuntut ilmu. Di sudut ruangan, tampak sekelompok akhwat sedang menikmati hidangan. Mereka sedang menggoda Rifa, sahabat Rani, kapan Rifa akan segera menyusul Rani. Ditanya begitu, Rifa hanya tersenyum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ayyesha97.blogdrive.com/" target="_blank" name="Ayyesha">oleh : Ayyesha-yahya</a></p>
<p>sumber http://www.manajemenqalbu.com</p>
<p>Pernikahan Idham dan Rani berlangsung lancar. Kawan-kawan kuliah keduanya banyak yang datang, walaupun resepsi itu dilakukan jauh dari kota dimana mereka berdua menuntut ilmu. Di sudut ruangan, tampak sekelompok akhwat sedang menikmati hidangan. Mereka sedang menggoda Rifa, sahabat Rani, kapan Rifa akan segera menyusul Rani. Ditanya begitu, Rifa hanya tersenyum, dan menjawab, &ldquo;Jika saatnya tiba.&rdquo;</p>
<p>Namun tak lama setelah kejadian itu, timbul perasaan-perasaan ingin mengitu jejak Rani di hati Rifa. Meski Rifa sendiri masih galau, apakah dirinya benar-benar sudah siap atau hanya ingin menikah????</p>
<p>Sahabat Muslimah&hellip;Banyak akhwat yang mengalami peristiwa yang dialami Rifa dalam ilustrasi diatas. Beberapa diantaranya rata-rata masih tercatat sebagai mahasiswi. Memang, menikah dini di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini seolah menjadi trend yang sedang berkembang.</p>
<p><span id="more-33"></span></p>
<p>Sahabat Muslimah&hellip;Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seorang akhwat ingin segera mengakhiri masa lajangnya, antara lain:</p>
<p>1. Karena faktor usia</p>
<p>Banyak akhwat yang merasa gelisah karena usia yang sudah cukup untuk menikah, namun belum juga ditunjukkan siapa pendampingnya.</p>
<p>2. Melihat teman yang sudah menikah</p>
<p>Adakalanya, jika teman kita sudah menikah, mereka bercerita kepada kita, betapa indah dan menyenangkannya hidup berumah tangga, sehinga membuat kita ingin segera merasakannya.</p>
<p>3. Dipanas-panasi</p>
<p>Tak dipungkiri, di sebagian kalangan akhwat, salah satu topik favorit yang sering dibicarakan adalah seputar ikhwan dan nikah. Lambat laun, karena seringnya membicarakan hal itu, membuat hati sebagian akhwat kebat-kebit.</p>
<p>Apalagi jika sudah ditambah bumbu-bumbu tertentu. Itulah sebabnya mengapa kita dilarang untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu, karena bisa saja membuat hati kita kotor.</p>
<p>Sebagian lagi beralasan, mereka ingin segera menikah untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bukan alasan yang salah sebenarnya. Tapi acapkali, karena terburu-buru ingin menikah, banyak hal yang lupa dipersiapkan.</p>
<p>Sahabat muslimah&hellip; Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan ketika kita memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Antara lain:</p>
<p><b>1. Kesiapan Pemikiran yang mencakup:</b><br />
    a. Kematangan Visi Keislaman<br />
Hal ini dimaksudkan, agar pasangan suami istri mempunyai frame yang sama mengenai Islam sebagai dasar rumah tangga, agar rumah tangga benar-benar bernilai ibadah, tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan biologis saja. Dengan ajaran Islam sebagai landasan rumah tangga, diharapkan, rumah tangga tersebut dapat menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah.</p>
<p>b. Memiliki kematangan visi kepribadian<br />Disamping beragama secara kultural, banyak juga orang yang landasan keislamannya di bangun oleh emosi. Namun karena tidak dilandasi oleh pengetahuan Islam yang kuat, kadang membuat sebagian orang cepat futur, bosan dan lain sebagainya. Jika hal ini terjadi dalam rumah tangga, bisa menjadi sebab timbulnya kegagalan seseorang dalam berumah tangga.</p>
<p><b>2. Kesiapan Psikologis</b></p>
<p>Kematangan psikologis yang dimaksud adalah kematangan atau kesiapan tertentu secara psikis, untuk mengahadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi selama hidup berumah tangga. Seringkali karena secara psikologis kondisi seseorang belum siap, membuat pasangan suami istri tidak siap dengan berbagai kondisi pasca nikah.</p>
<p><b>3. Kematangan Fisik</b></p>
<p>Ada beberapa hal yang menjadi persyaratan mutlak dalam sebuah perkawinan menurut Islam, yang berkaitan dengan fisik. Antara lain :</p>
<p>a. Seorang laki-laki atau wanita yang kan menikah harus yakin bahwa alat-alat reproduksinya berfungsi dengan baik</p>
<p>Karena salah satu sebab perceraian yang diperbolehkan dalam Islam adalah karena alat reproduksi pasangannya tidak berfungsi dengan baik.</p>
<p>b. Usia</p>
<p>Kita juga harus menyadari, bahwa secara fisik, kita benar-benar sudah siap menikah. Itulah kenapa sebabnya seorang wanita dianjurkan untuk tidak menikah dalam usia yang masih dini. Banyak kasus yang terjadi, dimana anak-anak yang baru keluar dari sekolah dasar (usia sekitar 12-13 tahun) langsung dinikahkan. Di Barat, ada survey yang membuktikan, bahwa orang-orang yang melakukan hubungan seksual terlalu muda, pada umumnya di atas usia tiga puluh tahunan akan mengalami hambatan-hambatan fisik.</p>
<p>Meskipun sekali lagi, tidak ada kriteria tertentu kapan seseorang menjadi matang secara fisik. Ada kasus-kasus tertentu, seperti halnya orang-orang tua zaman dulu, banyak yang tetap sehat dan memiliki keluarga besar, meskipun menikah dalam usia yang masih sangat muda.</p>
<p>c. Kesehatan</p>
<p>Sebelum menikah, usahakan mengetahui kondisi fisik dan kesehatan calon pasangan kita. Kalau bisa, ketahui juga kesehatan keluarga calon pasangan kita itu, karena biasanya ada penyakit tertentu yang merupakan penyakit keturunan.</p>
<p><b>4. Kesiapan Finansial</b></p>
<p>Perkawinan juga merupakan kerja ekonomi, tidak hanya cukup dengan cinta. Bukan berarti seorang muslimah harus materialistis. Namun hal ekonomi /finansial kadang menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga. Meskipun ada beberapa pasangan yang merasa cukup hanya dengan bekal cinta saja, akan lebih baik jika kita mempersiapkan finansial sejak jauh-jauh hari.</p>
<blockquote><p>Sahabat muslimah&hellip; Menikah adalah sebuah Mitsaqan Ghalizhan, perjanjian yang sangat berat. Banyak konsekuensi yang harus dijalani suami istri dalam berumah tangga. Jangan pernah mengambil keputusan untuk menikah hanya karena &lsquo;ingin&rsquo;, sementara banyak faktor yang belum kita persiapkan. Jika sejak awal kita sudah mempersiapkan mahligai rumah tangga yang akan kita bina, niscaya kebahagiaan dunia dan akhirat akan kita rasakan. InsyaAllah. Maka, apakah sahabat sudah ingin menikah, atau benar-benar siap dengan pernikahan ???</p>
</blockquote>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/jangan-takut-bilang-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Jangan Takut Bilang Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/refleksi-untuk-ikhwan-wa-akhwat-fillah/" rel="bookmark" class="crp_title">Refleksi untuk Ikhwan wa Akhwat fillah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/mind-management/" rel="bookmark" class="crp_title">Mind Management</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/05/sedikit-tentang-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sedikit tentang cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>196</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan dan Pilihan</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 13:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan&#8230; Itupun adalah kesempatan Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,<br />
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,<br />
Itulah kesempatan</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,<br />
Itu bukan pilihan itu kesempatan.</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan&#8230;<br />
Itupun adalah kesempatan</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,<br />
Bahkan dengan segala kekurangannya,<br />
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan</font></p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Ketika engkau memilih bersama dengan<br />
Seseorang walaupun apapun yang terjadi<br />
Itu adalah pilihan</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Bahkan ketika kau menyadari<br />
Bahwa masih banyak orang lain<br />
Yang lebih menarik, pandai, dan kaya<br />
Daripada pasanganmu dan<br />
Tetap engkau memilih untuk mencintainya,<br />
Itulah pilihan</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Perasaan cinta, simpatik, tertarik<br />
Datang bagai kesempatan pada kita&#8230;</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.<br />
Pilihan yang kita lakukan.</font></p>
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Berbicara tentang pasangan jiwa,<br />
Ada suatu kutipan dari film yang<br />
Mungkin sangat tepat :</font></p>
<blockquote><p>
<font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="2">Nasib membawa kita bersama.<br />Tetapi tetap bergantung pada kita<br />bagaimana membuat semuanya berhasil </font></p></blockquote>
<hr />
<p><font face="Trebuchet MS" color="#FF3399" size="1"><i>Bagaimanapun&#8230;<br />&#8220;Taqdir takkan pernah tertukar&#8221;, percayalah kepada-Nya.</i></font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/dapatkah-kau-tahan/" rel="bookmark" class="crp_title">Dapatkah kau tahan ?</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/hidup-dengan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Hidup dengan pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/doa-bagi-yang-sedang-bimbang/" rel="bookmark" class="crp_title">Doa bagi yang sedang bimbang</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/03/ketika-akhirnya/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika akhirnya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/selamat-atas-kemenangan-hamas/" rel="bookmark" class="crp_title">Selamat atas kemenangan Hamas</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/selamat-hari-raya/" rel="bookmark" class="crp_title">Selamat Hari Raya</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/bersimpuh-dalam-doa/" rel="bookmark" class="crp_title">Bersimpuh Dalam Doa</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perseteruan Dua Cinta</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2005 01:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Perseteruan Dua Cinta (H.M.Anis Matta) &#8220;Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara istri-isri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagi kamu&#8230;! Bisakah anda membayangkan bahwa suatu saat, istri dan anak-anak yang anda cintai, justru jadi musuh bagi anda? Mungkin. Mungkin sekali itu terhadi. Pada siapa saja. Karena cintanya pada istri dan anak-anaknya tidak &#8220;turun&#8221; dari cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Perseteruan Dua Cinta</b><br />
(H.M.Anis Matta) </p>
<p>&#8220;Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara istri-isri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagi kamu&hellip;! Bisakah anda membayangkan bahwa suatu saat, istri dan anak-anak yang anda cintai, justru jadi musuh bagi anda? Mungkin. Mungkin sekali itu terhadi. Pada siapa saja. Karena cintanya pada istri dan anak-anaknya tidak &#8220;turun&#8221; dari cinta misi, dari cintanya pada Allah. Atau sebaliknya. Jika cinta pada istri dan anak-anak tidak berhasil membawa mereka ke dalam lingkaran cinta misi.</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p>Itulah tragedi dua orang nabi dan seorang perempuan shalihah. Dengan segenap cinta dan harapan jiwanya, Nabi Nuh masih terus berusaha mempertahankan istri dan anak-anaknya ketika tsunami itu datang. Tapi tidak! Cinta misinya tidak tersambung dengan nasabnya. Begitu pula Nabi Luth. Istrinya ada dalam daftar umatnya yang  dibinasakan Allah. Dan perempuan shalihah itu bernama Asia, istri seorang thagut terbesar sepanjang sejarah, Fir&#8217;aun. Ketika cinta harus memilih , ia memilih Tuhannya. Ia memilih cinta misinya. Meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.</p>
<p>Itu saat yang getir. Ketika kita harus memilih dua cinta yang bertarung dalam jiwa. Dan Allah mengabadikannya cerita pertarungan dua cinta itu dalam jiwa Nuh, Luth dan Asia. Agar kita mengerti bahwa permisalan itu adalah takdir kehidupan, bahwa siapapun mungkin mengalami itu:saat-saat dimana kita harus memutuskan pilihan dari dua cinta yang tidak dapat dipertemukan. Tidak harus selalu begitu, memang.Sebab juga ada cerita lain. Cerita dua cinta yang bertemu. Seperti cinta Muhammad dan Khadijah, atau Yusuf dan Zulaikhha, atau Adam dan Hawa. Cerita tentang Adam yang memakan buah khuldi yang terlarang adalah manifestasi cinta jiwa yang tidak terangkai dalam cinta misi. Tapi mereka segera bertaubat dan meluruskan arah cinta mereka. Tapi keteragaran Yusuf menghadapi godaan istri sang raja adalah pesona yang mengantarkan hidayah ke dalam jiwa Zulaikha. Adapun Muhammad dan Khadijah; itu kisah cinta yang sejak awal tumbuh dan berkembang dalam bingkai cinta misi.</p>
<p>Secara manusiawi perseteruan dua cinta ini lahir dari kecenderungan jiwa yang tidak terbingkai daengan nilai-nilai cinta misi. Itu cobaan hati yang paling banyak menimpa orang shalih. Ketika &#8220;bentuk&#8221; mengalahkan &#8220;makna&#8221;, ketika &#8220;rupa&#8221; mendahului &#8220;jiwa&#8221;, itu pertanda awal datangnya cobaan. Mereka yang memenangkan bentuk dan rupa , biasanya harus membayar harga kenikmatan duniawi dengan ongkos makna dan jiwa yang sering kali terlalu mahal.Itu sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita mendahulukan agama dalam memilih pasangan hidup.</p>
<blockquote><p>Itu kalau harus memilih. Tapi masalah ini tentu selesai dengan sendirinya kalau bentuk berpadu dengan makna, rupa bertemu jiwa. Dan itu, kata Ibnu Qoyyim, adalah puncak karunia dan kenikmatan dunia akhirat: menikahi seorang perempuan shalihah, cerdas dan cantik sekaligus. Seperti Muhammad kepada Aisyah. Tidak mudah memang. Tapi tetap saja mungkin.</p>
</blockquote>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/cinta-di-atas-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Cinta di Atas Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/08/kesempatan-dan-pilihan/" rel="bookmark" class="crp_title">Kesempatan dan Pilihan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/" rel="bookmark" class="crp_title">Menjadi keluarga Samara</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Laki-laki Biasa</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2005 05:59:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/</guid>
		<description><![CDATA[MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak- kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. &#8220;Kenapa?&#8221; tanya mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak- kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. &#8220;Kenapa?&#8221; tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.</p>
<p>Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.</p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p>Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. &#8220;Kamu pasti bercanda!&#8221; Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.</p>
<p>Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! &#8220;Nania serius!&#8221; tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. &#8220;Tidak ada yang lucu,&#8221; suara Papa tegas, &#8220;Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!&#8221; Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.</p>
<p>&#8220;Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?&#8221; Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, &#8220;maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?&#8221; Nania terkesima. &#8220;Kenapa?&#8221; Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!</p>
<p>Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata &#8216;kenapa&#8217; yang barusan Nania lontarkan. &#8220;Nania Cuma mau Rafli,&#8221; sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat&#8230; Parah.&#8221;Tapi kenapa?&#8221; Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. &#8220;Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!&#8221; Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?</p>
<p>Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak &#8216;luar biasa&#8217;. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah. ***</p>
<p><b>Setahun pernikahan.</b></p>
<p>Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.</p>
<p>&#8220;Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.&#8221;Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. &#8220;Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!&#8221; &#8220;Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!&#8221; &#8220;Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!&#8221; Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.</p>
<p>Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Rafli juga pintar, Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.</p>
<p>Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. &#8220;Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.&#8221;Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.</p>
<p>Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.</p>
<p>&#8220;Tak apa,&#8221; kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. &#8220;Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.&#8221; Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik. &#8220;Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?&#8221;</p>
<p>Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran  Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,  dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.</p>
<p>Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang- orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.</p>
<p>Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. ***</p>
<p>Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. &#8220;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!&#8221; Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.</p>
<p>Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. &#8220;Baru pembukaan satu.&#8221; &#8220;Belum ada perubahan, Bu.&#8221; &#8220;Sudah bertambah sedikit,&#8221; kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. &#8220;Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.&#8221; Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.</p>
<p>Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. &#8220;Masih pembukaan dua, Pak!&#8221; Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. &#8220;Bang?&#8221; Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.</p>
<p>&#8220;Dokter?&#8221; &#8220;Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.&#8221;Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.</p>
<p>Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. &#8220;Pendarahan hebat.&#8221;Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.</p>
<p>Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.***</p>
<p>Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.</p>
<p>Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.</p>
<p>Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. &#8220;Nania, bangun, Cinta?&#8221; Kata-kata itu dibisikkannya berulang- ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.</p>
<p>Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, &#8220;Nania, bangun, Cinta?&#8221;</p>
<p>Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.</p>
<p>Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah  penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.</p>
<p>Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan direstoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih- lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.</p>
<p>Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. &#8220;Baik banget suaminya!&#8221; &#8220;Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!&#8221; &#8220;Nania beruntung!&#8221; &#8220;Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!&#8221; Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?</p>
<p>Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang  lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.</p>
<p><i>Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa</i></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/perseteruan-dua-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Perseteruan Dua Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/" rel="bookmark" class="crp_title">Rindu Itu Pun Tertebus</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/mencintai-itu-keputusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Mencintai Itu Keputusan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/ungkapan-sederhana-untuk-istri-tercinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/07/cinta-laki-laki-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang menjadi dambaan</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2005 12:16:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/</guid>
		<description><![CDATA[Yang Ku Dambakan Penulis: Syafri Delon Arifin &#8220;Baiti jannati&#8221; itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size=2 face="Trebuchet MS" color=#ff00ff><strong>Yang Ku Dambakan</strong></p>
<p>Penulis: Syafri Delon Arifin</p>
<p>&ldquo;Baiti jannati&rdquo; itulah untaian kata indah yang keluar dari bibir mulia Rasulullah SAW, dalam mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang sakinah mawaddah warohamah dan penuh kebahagiaan.</p>
<p>Kebahagiaan dalam rumah tangga seorang muslim tidaklah didasari oleh harta dan kecantikan semata, walau tak dapat dipungkiri, kalau keduanya merupakan salah satu faktor penunjang.<br /></font></p>
<p><span id="more-28"></span></p>
<p><font size=2 face="Trebuchet MS" color=#ff00ff>Kalau kita cermati lebih lanjut dan menghayati kehidupan rumah tangga Rasul SAW, kita akan menemukan dua faktor utama yang menyebabkan rumah beliau seperti syurga. Dua faktor tersebut adalah suami shaleh dan istri yang shalehah, kenapa??, karena keduanya orang yang paham betul bagaimana cara membahagiakan pasangan hidupnya.</p>
<p>Suami shaleh adalah seorang suami yang selalu ingat bahwa Allah memerintahkannya agar ia mempergauli istrinya dengan baik dan ia tahu bahwa istri merupakan amanah yang dititipkan Allah kepadanya, karenanya, membahagiakan istri merupakan ibadah baginya.</p>
<p>Demikian pula dengan istri yang shalehah, ia mengerti betul bahwa ketaatannnya kepada suami adalah perintah Rasul dan merupakan ibadah yang dijanjikan pahala oleh yang Maha Pengasih. Begitulah, suami yang shaleh dan istri shalehah apabila mereka berdua saling mencintai maka keduanya akan selalu berusaha merealisasikan cinta tersebut dengan saling membahagiakan pasangannya. Namun jika keduanya tidak saling mencintai (kayaknya nggak mungkin, ya!!??) atau salah seorang diantara keduanya tidak mencintai yang lain atau pada saat-saat kesel dan sebel, niscaya mereka tidak akan menyakiti satu sama lain.</p>
<p>Pada kesempatan kali ini perkenankanlah penulis lebih menitik beratkan pembahasan tentang wanita shalehah tanpa mengurangi eksistensi pria shaleh, karena pada prinsipnya mereka mempunyai tuntutan dan pahala yang sama. Allah berfirman : &ldquo;Barang siapa yang mengerjakan amalan-amalan shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun&rdquo;. (Qs 4 : 12). Lihat juga firman Qs 9 : 71 dan Qs 33 : 35.</p>
<p>Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada para pemuda agar mereka lebih mempriorotaskan memilih dzaatuddin (baca : wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau bersabda yang artinya : &ldquo;Wanita dinikahi karena empat perkara : &ldquo;karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engakau akan bahagia&rdquo;.  (Muttafaqun Alaih)</p>
<p>Wanita shalihah&hellip;..<br />
Ia merupakan sosok makhluk lembut yang menjadi idaman bagi setiap muslim yang shaleh. Karena pada dirinya terdapat perhiasan terindah di dunia ini sebagaimana disinyalir oleh Sang pembawa kabar gembira Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya : &ldquo;Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah&rdquo;. Lantas seperti apasih wanita shalehah itu???.</p>
<p>Wanita shalehah adalah wanita yang benar-benar mengahambakan diri kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya. Ia menjauhkan diri dari perbuatan syirik baik kecil apalagi besar, tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak minta kepada kuburan atau pohon beringin, tidak memberi sesaji kepada Ratu Laut Selatan atau ratu-ratu lainnya, tidak kedukun, nggak make jimat dan banyak lagi perbuatan syirik yang dapat meluluh lantakan amal shaleh Allah berfirman yang artinya : &ldquo;Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-nabi sebelummu : &ldquo;Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tetulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sambah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur&rdquo;.</p>
<p>Lebih gawat lagi Allah tidak akan mengampuni dosa syirik sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : &ldquo;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa saj yang di kehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tesesat sejauh-jauhnya&rdquo;.(QS 4 : 116)</p>
<p>Wanita shalehah adalah wanita yang taat, patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah SWT menyelaraskan perintah beribadah hanya kepadanya dengan perintah berbuat baik dengan orang tua. Perhatiakan firman Allah dalam Qs Al-Israa&rsquo; ayat 23-24 yang artinya : &ldquo;Dan Tuhanmu telah memrintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan &ldquo;ah&rdquo; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : &ldquo;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil&rdquo;. Lihat juga Qs 31 : 13-15</p>
<p>Wanita shalihah adalah wanita yang menjadikan shalat sebagai kebahagian tersendiri baginya, seperti yang dilalkukan oleh idolanya, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa&rsquo;i dari Anas Ra : &ldquo;Dan kujadikan shalat sebagai permata hatiku&rdquo;. Ia tidak lalai mendirikan shalat tepat pada waktunya, khusu&rsquo; dalam shalat-shalatnya, gemar berpuasa dan bersedekah, sungguh-sungguh dalam do&rsquo;anya antara takut dan penuh harap.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br /> <br />
Jilbab adalah pakaiannya, busana muslimah yang menutup rapat seluruh auratnya, pakaian yang disyariatkan oleh Sang Penguasa jagad raya kepadanya. Allah berfirman yang artinya : &ldquo;Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : &ldquo;hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka&rdquo;. Yang demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&rdquo;. Jilbab adalah syi&rsquo;ar islam, hanya jilbab yang menjadi pembeda antara muslimah dan wanita kafir di tempat umum. Wanita shalehah tahu apapun yang disyari&rsquo;atkan Allah kepada manusia, tidak lain untuk kebaikan mereka.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;.<br />
Dalam dirinya terkumpul kebaikan akhlak, adab baginya lebih baik dari zahab (emas), penghias bibirnya adalah zikrullah dan bacaan Al-Qur&rsquo;an, pemerah pipinya adalah rasa malu, eye shadawnya gahdul bashar dan ia selalu menjaga kesuciannya sebagai aplikasi dari firman Allah yang artinya : &ldquo;Katakanlah kepada wanita yang beriman : &ldquo;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung&rdquo;. (Qs 24 : 31).</p>
<p>Ia juga menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, baik melalui bersalaman apalagi diraba-raba. (Iiii ngeriii).Rasul SAW bersabda yang artinya : &ldquo;Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya&rdquo;. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi&rsquo;qol bin yasaar)</p>
<p>Wanita shalehah adalah wanita yang terdidik dengan tarbiyah islamiyah, terus memperdalam ilmu syar&rsquo;i, aktif dalam kegiatan dakwah beramar makruf nahi mungkar.</p>
<p>Wanita shalehah.&hellip;.<br />
Ia senantisa berusaha menghindari ikhtilat, berkhalwat, apalagi pacaran. Pacaran? makhluk apaan tuh???&hellip;. Tidak la yau. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : &ldquo;&#8217;Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan&rdquo;.(Hr. Tirmizi)</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;.<br />
Hari-hari libur dari ritualnya ia ganti dengan dangan hal-hal yang bermanfaat, membaca buku-buku islam, mendengar kaset-kaset ceramah, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya.</p>
<p>Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan perintah Allah, sungguh-sungguh terhadap kewajiban dan hirs terhadap nawafil, sehingga ia dapat menggapai cintaNya sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : &ldquo;Rasul bersabda : &ldquo;Allah berfirman : &ldquo;Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia gunakan untuk mendengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku lindungi (Hr Bukhary)</p>
<p>Dan meninggalkan laranganNya, berusaha menghindari yang makhruh dan sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW yang artinya : &ldquo;Setiap anak Adam pernah melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat&rdquo;. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana termaktub dalam firmanNya yang artinya : &ldquo;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui&rdquo;. (Qs 3 : 135).</p>
<p>Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya. Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. So pemuda muslim akan ngiler, trus ngincer untuk selanjut nguber. Nah lho&#8230;..</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;.<br />
Ketika di khitbah oleh seorang muslim yang shaleh dan multazim, ia tidak menolaknya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : &ldquo;Jika datang kepadamu (mengkhitbah) orang yang kamu ridha dien dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, bila tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar&rdquo;. Ia memprioritaskan dua syarat dien dan akhlak, namun tidak terlalu ghulu (berlebihan) dalam menyaring dan menentukan pilihan, sebab ia tahu tidak ada orang zaman sekarang yang imannya setaraf dengan Abu Bakar atau Umar. Cukuplah baginya pemuda yang shaleh dan multazim, itulah yang ia nantikan.</p>
<p>Suami&hellip;, ah gadis mana yang tidak mengenangkan suami, pendamping dan pasangan hidup, yang akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan? Rasanya semua gadis mengimpikannya. Akan dinantinya saat-saat kedatangan sang pujaan hati dengan debar bahagia di dada, dengan rona memerah dipipi, terlambunglah angan dan teruntailah harapan : &ldquo;Akankah kumiliki suami idaman nan shaleh?, suami yang dapat dijadikan tempat berbagi, tempat belajar, tempat mencurahkan isi hati , tempat bermanja, juga tempat menyerahkan ketaatan agar tercapai ridha Ilahi, suami yang menjadi qowam yang dapat menggandeng tangan pasangannya menuju syurga Allah, suami yang menjadi teladan, suami yang menjadi pendidik, suami yang menjadi kecintaan, aah pantas kiranya tak boleh sembar angan memilih suami&hellip;&#8230;</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br />
Saat memasuki jenjang pernikahan, terbetik azam dalam hatinya, untuk mengoptimalkan diri dalam mencurahkan ketaatan kepada suaminya, terngiang di telinganya nasehat seorang ibu Umamah binti Harits kepada putrinya dimalam pernihkahan sang putri tercinta : &ldquo;Wahai putriku tersayang&hellip; Sesungguhnya nasehat ini jika ditinggalkan karena keagungan adab maka kutinggalkan ia untukmu. Nasehat ini merupakan peringatan bagi orang yang lalai (lupa) dan petunjuk bagi yang berakal, jika seorang wanita tidak butuh terhadap pernikahan, niscaya kedua orang tuanya lebih tidak membutuhkannya, akan tetapi keduanya sangat membutuhkannya, karena wanita diciptakan untuka lelaki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Putriku sayang&hellip; kini engkau akan berpisah dari udara dan dunia remaja yang akupun telah melaluinya. Kini engkau akan menjalani hidup baru yang juga pernah kujalani, menuju kehidupan yang belum engkau ketahui dan teman yang belum engkau pahami, dia akan menjadi raja dan pelindung bagimu. Jadilah engkau budaknya, niscaya dia akan menjadi budak yang dekat denganmu, ingat dan peliharalah sepuluh point yang akan menjadi modal dan simpanan bagimu.</p>
<p>Yang pertama dan kedua adalah : Tunduk berkhidmat kepadanya disertai dengan qona&rsquo;ah. Memperhatikan ucapannya disertai dengan to&rsquo;ah (taat).</p>
<p>Yang ketiga dan ke empat : menjaga persaan mata dan hidungnya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang jelek darimu dan jangan tercium olehnya kecuali sesuatu yang harum dan wangi.</p>
<p>Adapun yang kelima dan enam : perhatikanlah watu makan dan tidurnya, karena rasa lapar dapat menimbulkan emosi dan kurang tidur bisa mengundang amarah.</p>
<p>Yang ke tujuh dan delapan : menjaga hartanya serta menaruh hormat terhadap keluarganya, aturlah hartanya dengan baik dan pergauilah keluarganya sebaik mungkin.</p>
<p>Dan yang ke sembilan dan sepuluh : jangan engkau maksiat dan menentangnya, jangan pula engkau beberkan rahasianya, bila engkau menentangnya maka engkau telah mengobarkan kemarahannya dan jika engkau membeberkan rahasianya niscaya engkau tidak akan merasa aman akan kepergiannya. Kemudian jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan jika ia sedang bersedih dan jangan pula menampakkan kesedihan bila ia sedang gembira.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br />
Ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak melulu berjalan mulus, berbentangkan permadani.Kehidupan rumah tangga tak ubahnya sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, terkadang tenang dengan ombak dan riak-riak kecil, namun dilain waktu angin kencang melanda, badai menghantam, ombak bergulung seakan ingin menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Saat seperti itulah peranan suami istri teruji, jika mereka kompak, bahu-membahu dengan saling pengertian, InsyaAllah biduk akan selamat sampai ketepian.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br />
Ia menjadi sesuatu yang paling berharga bagi suaminya setelah ketakwaannya kepada Allah, bila dipandang oleh sang suami menimbulkan rasa bahagia dihati. Sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang artinya : &ldquo;tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang muslim setelah takwa kepada Allah dan lebih baik baginya selain dari istri yang shalehah, apabila ia memerintahnya dia akan mentaatinya, jika ia melihat kepadanya dia membahagiakannya, jika bersumpah kepadanya dia menepatinya dan bila ia tidak berada di dekatnya dia menjaga dirinya juga harta suaminya&rdquo;. (HR Ibnu Majah). Ia tidak memasukkan lelaki kerumahnya tanpa seizin sang suami dan selalu menjaga harga diri dan kepercayaan suaminya. Allah berfirman yang artinya : &ldquo;Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan kerena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka&rdquo;. (Qs 4 : 34). Ia selalu ridha dengan apa yang diberikan suami, betapapun kecilnya pemberian itu dan tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak tergapai oleh penghasilan sang suami.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br />
Ia sabar saat-saat sang suami meninggalkannnya untuk menuntut ilmu, mencari rizki, atau kepentingan dakwah dan menyambut kepulangan suami dengan senyum mengembang dan wajah ceria.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br />
Apabila suaminya dilanda futur, semangatnya mengendur, ia tampil menegur &ldquo;Mas kok loyyo&rdquo;, memberikan motivasi dan mengobarkan semangat juangnya.</p>
<p>Wanita shalehah&hellip;..<br />
Ia selalu melahirkan generasi robbani, mengenalkan putra-putrinya kepada Allah sejak dini, bahkan sebelum sang anak itu terlahir kedunia. Mengasuhnya dengan sabar dan penuh keibuan mendidiknya dengan pendidikan islami, mengajari Sunnah-sunnah Nabi, akhlakul karimah dan lain sebagainya. Ibu adalah madrasatul Ula bagi putra-putrinya.</p>
<p>Dengan demikian ia akan menjadi mar&rsquo;ah shalehah, zaujah muti&rsquo;ah dan ummu madrasah. Singkatnya, wanita shalehah adalah gambaran sosok hamba Allah, pengikut Rasul, anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik dan menjadi uswah hasanah bagi orang lain.</p>
<p>Indah nian alunan nasyid yang berbunyi : &ldquo;Sungguh indah permata dunia, intan mutu manikam, emas dan berlian yang memikat hati. Namun tiada seindah bunga wanita shalehah harapan agama&hellip;&hellip;.</p>
<p>Demikianlah beberapa sifat dan karakter wanita shalehah yang kudambakan, dan juga oleh setiap pemuda muslim yang berakal sehat.</p>
<p>Akankah aku mendapatkannya?</p>
<p>Wallahu A&rsquo;la wa A&rsquo;lam</p>
<p>Bahan Bacaan<br />
1. Al Qur&rsquo;an Al Karim<br />
2. Yusuf Qordhawy. Dr.  Malamih Al-Mujtama&rsquo; Al-Muslim. Muassasah Ar-Risaralah, Bairut. Cet I 1996.<br />
3. Syaikh Muhammad Husain Ya&rsquo;qub. Sifaat Al-Muslimah Al-Multazamah. Maktabah Syuqul Akhirah. Cairo. Cet III 1998<br />
4. Ibnu Rojab Al-Hambaly. Jami&rsquo;ul U&rsquo;lum wal Hikam. Daarul Khair Bairut. Cet II 1996<br />
5. Abdul Aziz Muh. Azzam. Dr dan Abd. Wahab Sayid Hawas. Dr. Al Ushrah wa Ahkamuha fi Tasyri&rsquo; Al Islamy. Cairo 99-2000<br />
6. Majalah UMMI Edisi 9/IX/97</font></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Risalah Nikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/01/nasihat-untuk-calon-suami-istri/" rel="bookmark" class="crp_title">Nasihat untuk calon Suami-Istri</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/menjadi-keluarga-samara/" rel="bookmark" class="crp_title">Menjadi keluarga Samara</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Jalan Dakwah Aku Menikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2008/09/syukur-nikmat/" rel="bookmark" class="crp_title">Syukur Nikmat</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/kata-terurai-jadi-laku/" rel="bookmark" class="crp_title">Kata Terurai Jadi Laku</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/09/muslimah-antara-siap-dan-ingin-menikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Muslimah, Antara Siap Dan Ingin Menikah</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/yang-menjadi-dambaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2005 02:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan serta kultur yang begitu berbeda? &#8220;Mereka akan menjadi pasangan yang hebat!&#8221; kata sang istri. Sambil mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya. &#8220;Sangat menarik dan akan saling melengkapi!&#8221; tutur si suami sambil dengan semangat menceritakan tentang jaka yang saleh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style='position: relative; float: right; margin-left: 7px;' border=0 width='275' height='300' src='http://images.helvytr.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/QpyIIgoKCjoAAFGyNho1.jpg?enctoken=UmFuZG9tSVblUU758oBupqqnaFk3p7DXFkcqaQ7zGsC5mZZu2p5RxT3crM,ldfp6RQ3y9bnu8XNW,11zPxDeZrfehocFwgMs'/></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan serta kultur yang begitu berbeda?<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Mereka akan menjadi pasangan yang hebat!&rdquo; kata sang istri. Sambil mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Sangat menarik dan akan saling melengkapi!&rdquo; tutur si suami sambil dengan semangat menceritakan tentang jaka yang saleh, sahabatnya.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Jika Allah mengizinkan, mereka akan menjadi pasangan yang cocok!&rdquo;<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Gadis dan jaka sama-sama kuliah di UI, namun berbeda fakultas. Mereka sama-sama aktif dalam kegiatan kerohanian Islam. Dua kali pasangan suami istri sahabat mereka itu mencoba mempertemukan jaka dan gadis dalam satu forum. Namun saat Jaka datang, si gadis tiba-tiba berhalangan. Ketika gadis hadir, si jaka yang tak bisa. Akhirnya sepasang suami istri tersebut mencoba mengatur pertemuan ketiga sambil memberikan data &ldquo;orang&rdquo; yang ingin mereka perkenalkan masing-masing pada jaka dan si gadis&#8212; secara sendiri-sendiri.<o :p></o></span></p>
<p><span id="more-25"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Di kamar kos-nya gadis melihat data-data si jaka dan fotonya. <i style="">Ini yang mau diperkenalkan itu&hellip;dan diharap oleh sahabatnya bisa menjadi pasangan hidup abadi si gadis? Priyayi Solo?</i> <i style="">Bagaimana cara berbicara yang dianggap santun oleh orang Solo?</i> Si gadis geleng-geleng kepala. <i style="">Jangankan menjadi istri, bisa-bisa dia kabur melihat </i></span><st1 :city></st1><st1 :place><i style=""><span style="" lang="EN-US">gaya</span></i></st1><i style=""><span style="" lang="EN-US"> bicaraku&hellip;<o :p></o></span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Dalam kamar kos yang lain, di seberang gang kober, jaka tertegun. <i style="">Sudah lumayan sering aku mendengar kiprah gadis itu di kampus dan majalah. Tapi apa tak salah? Si kelahiran </i></span><st1 :city></st1><st1 :place><i style=""><span style="" lang="EN-US">Medan</span></i></st1><i style=""><span style="" lang="EN-US"> ini punya penyakit begitu banyak? Jantung, pernah gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening? Waduh, bagaimana bila &ldquo;si penyakitan&rdquo; ini kelak menjadi istrinya? Tapi prestasinya lumayan&hellip;rekomendasi dari sahabatku bukan sembarangan.<o :p></o></span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Tak dinyana, sebelum sempat diadakan <i style="">ta&rsquo;aruf,</i> dalam salah satu forum di universitas, jaka dan gadis bertemu. Apa yang terjadi dalam diskusi pagi itu? <o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Sebuah perdebatan yang panjang. Cara pandang yang begitu berbeda. Dan tiba-tiba pagi di UI menjadi tak cerah.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><i style=""><span style="" lang="EN-US">Pria yang membosankan dan keras kepala,</span></i><span style="" lang="EN-US"> pikir si gadis.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><i style=""><span style="" lang="EN-US">Dasar keras hati! Belum ada perempuan yang berbicara menentangku seperti<br />
gadis ini! </span></i><span style="" lang="EN-US">Pikir si jaka.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><i style=""><span style="" lang="EN-US">Lelaki seperti ini yang ingin diperkenalkan padaku?</span></i><span style="" lang="EN-US"> Si gadis nyengir. <i style="">Dia akan kapok denganku dan segera melupakan<br />
langkah lanjut perkenalan kami&hellip;<o :p></o></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Si jaka tak kalah gerah. <i style="">Perempuan seperti ini? Aku selalu berpikir perempuan adalah kelembutan, kematangan, kepatuhan&hellip;,</i> pikir si jaka. </span><span style="font-style: italic;">Tapi ini?</span><o :p></o></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Sepanjang forum kata-kata berseliweran dalam ruangan itu, terutama dari mulut gadis dan jaka tersebut. Forum tersebut bukan tak penting, sebab mereka dan semua teman yang hadir pada saat itu tengah membica</span><st1 :personname><span style="" lang="EN-US">raka</span></st1><span style="" lang="EN-US">n suksesi kepemimpinan mahasiswa di universitas mereka.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Menurut saya tidak bisa seperti itu!&rdquo;<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Mengapa tidak? Menurut saya yang demikian yang paling mungkin!&rdquo;<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Tidak bisa! Karena&hellip;.&rdquo;<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Bisa! Karena&hellip;.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Setelah perundingan yang melelahkan, akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah kesepakatan yang didapat dengan catatan.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><i style=""><span style="" lang="EN-US">Ini mungkin pertama dan terakhir kali kami bertemu dan berbicang, </span></i><span style="" lang="EN-US">pikir si gadis. <i style="">Dia pasti kapok dan tak ingin mengenalku lebih dalam. Tapi tak apa, setidaknya aku tak berpura-pura membuat ia terkesan&hellip;.<o :p></o></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Jaka resah. <i style="">Gadis seperti ini? Entahlah</i>. <i style="">Keras kepala,penyakitan pula! Apa harus diteruskan?</i><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Tak pernah ada perkenalan yang direncanakan lagi setelah itu. Kelihatannya mereka memang tak cocok dan mungkin akan saling melupakan.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Namun tak lama kemudian, pada suatu pagi, seseorang datang ke tempat gadis dan berkata: &ldquo;Saya sudah istikharah dan kamu selalu muncul. Bersediakah?&rdquo; <i style="">(lupakan ia penyakitan, ia baik untuk menjadi istriku. Allah menunjukkannya!)<o :p></o></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Gadis tak mengerti. Dia diam. <i style="">Apa yang dilihat lelaki muda itu dari dirinya? Tak cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas. Sangat biasa. Pernah &ldquo;bertengkar&rdquo; pada pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak lazim&hellip;<o :p></o></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Gadis pun memilih istikharah sebelum menjawab.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga muncul! Seperti ada yang membimbing ketika si gadis berkata &ldquo;Ya&rdquo;.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Sebulan kemudian, jaka melamar gadis. Dan hanya diperlukan waktu sebulan lagi sebelum kemudian jaka dan gadis menikah! Sungguh akhir yang tak terduga!<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Sebuah pernikahan berlangsung sederhana namun meriah, di Jakarta. Banyak sekali saudara dan sahabat yang hadir. Mereka bertanya-tanya, bagaimana dua pasangan ini bisa bertemu?<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Pada malam pertama gadis dan jaka berbicara hingga dinihari, shalat malam dan tilawah bersama.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya penyakit sebanyak itu?&rdquo; tanya jaka pada istrinya tiba-tiba.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Apa, Mas? Penyakit? Maaf, penyakit apa ya?&rdquo; gadis balik bertanya.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Jantung, gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening, &hellip;.&rdquo;<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Apa?&rdquo; gadis bingung.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Mas baca di datamu. Data yang diberikan oleh sahabat kita itu! Tapi Mas sudah ikhlas kok menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan. Semoga kamu juga begitu ya&hellip;.&rdquo;<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Gadis ternganga. Penyakit?<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">&ldquo;Mas, aku nggak punya penyakit seperti itu. Paling-paling cuma mag&hellip;,&rdquo; gadis nyengir lagi.<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Jaka terkejut sekali. Tak lama wajahnya berseri-seri. &ldquo;Alhamdulillah&rdquo; (ia ingat, ia sudah mengambil resiko untuk memilih gadis yang keras kepala itu, meski ia &ldquo;penyakitan,&rdquo; meski orangtuanya sangat keberatan dengan ragam penyakit calon menantu mereka). Mata jaka berkaca. <o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!<o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Malam itu si gadis menyempatkan diri mengirim pesan via <i style="">pager</i> pada sahabat perempuan yang sangat disayanginya: <i style="">Mbak sayang, datanya ketuker ya? Or salah tulis soal penyakit?</i> <i style="">Hebat dia masih maju terus! Aku tahu dia memang bukan lelaki biasa! <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> <o :p></o></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Bulan bahkan sudah tidur sejak tadi. Tapi jaka dan gadis seperti tak ingin memejamkan mata. Mereka tak berhenti menatap satu sama lain; sebuah pesona yang lama dinanti, hadir dari lintasan misteri, menerpa hati dan wajah mereka. Menyala. Ini cinta? Atau belum lagi sampai pada cinta? Apapun itu, mereka percaya, kebaikan menumbuhkan cinta; keindahan yang tangguh. Dan pacaran sesudah menikah? Hmm mungkin itu kenikmatan berlimpah berikutnya <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_smiley.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Subuh pun hadir membasuh kembali wajah mereka. Suara adzan terdengar menggetarkan. Jaka dan gadis sadar, telah mereka genggam anugerah tak terkata itu:&nbsp; bertemu dengan pasangan jiwa yang sudah dituliskan Illahi.  <o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US">Kini telah lebih dari sepuluh tahun, cinta menemukan dan menempuh jalannya.<img src="http://images.multiply.com/common/smiles/love.png"/><br /> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semoga abadi!<img src="http://images.multiply.com/common/smiles/love.png"/><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><span style="" lang="EN-US"><o :p>&nbsp;</o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"><i style=""><span style="" lang="EN-US">(Helvy Tiana Rosa; saat Mas masih di LN <img src='http://blog.iqbalir.com/wp-includes/images/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt=':))' class='wp-smiley' /> )<o :p></o></span></i></p>
<hr />
<p>Diambil dari website: <a href="http://helvytr.multiply.com" target='_blank'>Helvy Tiana Rosa</a> dalam artikel <a href="http://helvytr.multiply.com/journal/item/98" target='_blank'>Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/blog-as-graphs-an-html-dom-visualizer-applet/" rel="bookmark" class="crp_title">Blog as graphs &#8211; an HTML DOM Visualizer Applet</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2007/08/cerita-liburan/" rel="bookmark" class="crp_title">Cerita Liburan</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/dijual-motorola-razr-v3-black/" rel="bookmark" class="crp_title">Dijual Motorola RAZR V3-Black</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2007/08/super-%c2%a9-yang-super-keren/" rel="bookmark" class="crp_title">SUPER© yang super keren</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2007/09/minimo-mozillas-tabbed-mobile-browser/" rel="bookmark" class="crp_title">Minimo -Mozilla&#8217;s tabbed mobile browser-</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/02/rindu-itu-pun-tertebus/" rel="bookmark" class="crp_title">Rindu Itu Pun Tertebus</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2007/08/sakit/" rel="bookmark" class="crp_title">Sakit</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/06/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walimah Ayat &amp; Ayu</title>
		<link>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/walimah-ayat-ayu/</link>
		<comments>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/walimah-ayat-ayu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2005 03:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iqbal_Ir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/walimah-ayat-ayu/</guid>
		<description><![CDATA[Foto-foto walimah Ayatulloh M Amin dengan Sri Rahayu Wulandari. Barakallahu utk kedua mempelai&#8230;:) Bersama Panitia Related Posts:Dokumentasi KRI &#038; KRCI 2006Destination: KotabaruRisalah NikahJalan-jalan ke Ice world dan Gelanggang SamudraMaafkan Karena Aku Bukan PangeranMenyambut Ramadhan dengan CintaIqbalir.com @ Pesta Blogger 2007]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto-foto walimah Ayatulloh M Amin dengan Sri Rahayu Wulandari. Barakallahu utk kedua mempelai&#8230;:)</p>
<p><center></p>
<p><img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/ayat1.jpg" alt="Walimah Ayat" /><br />
Bersama Panitia</p>
<p></center></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2006/06/dokumentasi-kri-krci-2006/" rel="bookmark" class="crp_title">Dokumentasi KRI &#038; KRCI 2006</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/destination-kotabaru/" rel="bookmark" class="crp_title">Destination: Kotabaru</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/11/risalah-nikah/" rel="bookmark" class="crp_title">Risalah Nikah</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2007/05/jalan-jalan-ke-ice-world-dan-gelanggang-samudra/" rel="bookmark" class="crp_title">Jalan-jalan ke Ice world dan Gelanggang Samudra</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/maafkan-karena-aku-bukan-pangeran/" rel="bookmark" class="crp_title">Maafkan Karena Aku Bukan Pangeran</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2005/10/menyambut-ramadhan-dengan-cinta/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Ramadhan dengan Cinta</a></li><li><a href="http://blog.iqbalir.com/archives/2007/10/iqbalircom-pesta-blogger-2007/" rel="bookmark" class="crp_title">Iqbalir.com @ Pesta Blogger 2007</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbalir.com/archives/2005/05/walimah-ayat-ayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

